Wilfrida  Soik, TKW yang Akan Dihukum Mati Akan Bebas Sebelum Paskah?

Tenaga Kerja Wanita Indonesia, Wilfrida Soik, semula semula akan hukuman mati karena membunuh majikannya di Johor, Malaysia, kemungkinan

Editor: Ferry Ndoen
foto Wagub NTT untuk POS-KUPANG.COM
Wagub NTT, Josef A.Nae Soi foto bersama para dokter yang menangangi kesehatan Wilfrida Soik 

Laporan Wartawan  Pos-kupang.com, Eginius Mo’a

POS-KUPANG.COM, MAUMERE—Tenaga   Kerja  Wanita   Indonesia, Wilfrida Soik, semula  semula akan hukuman mati  karena  membunuh majikannya di Johor, Malaysia,  kemungkinan   pulang  kampung  halaman di  Kabupaten  Belu, Pulau  Timor, Propinsi NTT sebelum  perayaan Paskah   bulan April 2019.

“Kami  sempat sempat bertemu dan  dialog dengan  dia. Kondisinya sangat   sehat.  Kita  harapkan   tidak  ada lagi besok dan seterusnya Wilfrida yang  lainnya. Cukup ini  kasus yang terakhir, dia dihukum terkait kasus membunuh majikan,”  ujar  Kepala  Dinas  Tenaga  Kerja dan Transmigrasi  Propinsi NTT, Sisilia  Sona,  Kamis   (14/3/20p19)  di  Maumere.

Sisilia hadir mengikuti  peresmian  Layanan  Terpadu  Satu Atap Penempatan dan Perlindungan Pekerja  Migran  Indonesia  (LTSA PPPMI) Sikka,. Lembaga ini  untuk menjangkau pelayanan di  wilayah  Pulau   Flores dan Lembata.

Sisilia   ke Johor bersama  utusan  Kemenaker  RI dan  Wakil  Gubernur NTT, Drs.Yosef Nae Soi,  waktu lalu  menjelaskan, semula  Wilfrida akan menjalani  hukuman mati.  Namun pertimbangan hukum   dia  dianggap mengalami gangguan jiwa. Saat ini,  dia   dirawat di Hospital Permai di Johar Baru.

Sebelum   Wilfrida dibebaskan, tanggal 17 Maret  2019  akan ada petugas dari Imigrasi, Komjen dan  RS  akan  datang ke NTT mengunjungi rumah Wilfrida.  Mereka  juga  bertemu  Forkopimda di Belu,  RS  dan  instansi lain. Kehadiran mereka  untuk  memastikan ketika Wilfrida  berada di  Indonesia.

“Tim  akan melaporkan kepada Kesultanan Kelantan.  Kita  berharap sebelum Paskah,  Wilfrida sudah kembali bersama orang tua dan keluarganya,”  harap Sisilia.

Ditegaskanya, masalah ketenagakerjaan bukan semata tanggung jawab pemerintah. 

“Kami dihujat  bukan  kepalang.  Bisanya sudah jenazah dikirim dari luar negeri.  Data  di  kita ada 29, tapi  ada sebagian dikuburkan di Malaysia,” tandas  Sisilia.

Ia  mengatakan  ada ribuan  tenaga kerja   yang  telah belasan  sampai 20-an  tahun  bekerja di  luar  negeri.   Namun   mereka  tidak  menjadi warga negara   Malaysia. Ketika meninggal, tidak  ada dokumen alamat  jelas dikuburkan di Malaysia.

“Kemarin informasi disampaikan ke kita calon  tenaga kelahiran Flores. Di Flores  ada berapa  banyak kabupaten  sudah dicari  alamatnya,”   imbuh Sisialia.  *

Bupati  Sikka, Fransiskus  Roberto  Diogo   (baju  sarung ikat tenun) dialog dengan petugas  LTSA  PPPMI Sikka di  Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi  Sikka, Jalan  El Tari,  Kota Maumere, Pulau  Flores, Propinsi NTT,  Kamis  (14/3/2019).
Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo (baju sarung ikat tenun) dialog dengan petugas LTSA PPPMI Sikka di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sikka, Jalan El Tari, Kota Maumere, Pulau Flores, Propinsi NTT, Kamis (14/3/2019). (POS-KUPANG.COM/EGINIUS MO’A)
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved