Wabup Marianus Pantau Kegiatan Konservasi Tanah dan Air di DAS Lowoguru
BPBD Nagekeo memantau kegiatan konservasi tanah dan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lowoguru Kelurahan Danga.
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
Wabup Marianus Pantau Kegiatan Konservasi Tanah dan Air di DAS Lowoguru
POS-KUPANG.COM | MBAY -- Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja bersama tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo memantau kegiatan konservasi tanah dan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lowoguru Kelurahan Danga.
DAS Lowoguru mencakup Kawasan Barat Malasera, Wolokota sampai bukit Pusu Manu.
"Kemarin saya bersama pak Wakil dan teman-teman BPBD pantau kegiatan konservasi tanah dan air di DAS Lowoguru, mencakup kawasan barat Malasera, barat Wolokota sampai bukit Pusu Manu BPBD membangun jebakan air, bendung penghambat arus air, terasering dan kolam retensi," ujar Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Nagekeo, kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu (23/2/2019).
Ia menjelaskan kegiatan yang sama serentak dilakukan di Danga, Lape, Aeramo, Anakoli, Totomala dan Tendakinde.
• Polsek Aesesa Gandeng BPBD Nagekeo Bersihkan Sampah
• Ungkapan Hati dari Aula DPM-PPPA Nagekeo: Bapa Mama Jangan Ribut Lagi
• Hasil Liga Italia, AC Milan Menang 3-0 Atas Empoli, Posisi I Rossoneri Mendekati Inter Milan
• TNI Beri Les Tambahan Bagi Anak Sekolah di Daerah Perbatasan. Ini Materi Ajarnya
• Gigit Polisi, Hina Jokowi, Curi iPhone, Pria LGBT Berfoya Dengan Pacar Homonya di Bali
Bersamaan dengan itu dilakukan gerakan tanam pohon di daerah mata air.
Ia menyebutkan sampai saat ini sudah 1000 anakan pohon sudah ditanam.
"Sampai sekarang sudah 1000 pohon yang ditanam. Untuk Aeramo sudah ditanam 900 pohon di mata air Napu Joto 1, Napu Joto 2, Oki Wajo dan Ae Zaza. Untuk Anakoli ditanam di mata air Ae Emu. Konsep dasarnya tanam air panen air," ujarnya.
Ia menjelaskan keuntungan konservasi air dan tanah di daerah hulu yaitu target bebas banjir bisa terpenuhi, ancaman bencana kekeringan pada musim kemarau bisa dicegah, ancaman kebakaran hutan bisa teratasi, stok hijauan makanan ternak terjamin, mata air kembali mengalir, ketersediaan air tanah kota Mbay terjamin.
"Terasering bila ditata secara artistik bisa menjadi objek wisata," ujarnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)