Berita Puisi

Puisi : Ini Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini

Puisi-puisi Yurgo Purab: Kata memang cemeti, hati adalah semati kasar kadang dengki, cinta tak lari ke lain hati.

Puisi : Ini Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini
ilustrasi/hipwee
Menunggu 

Puisi-puisi Yurgo Purab
Grazie
(Buat Jingga di Hari Valentine)

Kata memang cemeti
Hati adalah semati
Kasar kadang dengki
Cinta tak lari ke lain hati

Terlambat bukan tak berarti
Tapi sahabat pena selalu penuh arti

Kadang kita tak mengerti
Karena jarak selalu tak tentu
Kadang hati tak sepaham
Karena hati selalu hati-hati

Kamboja putih
Tumbuh di tanah
Mata coklat
Lahir di hati
(Maumere, 2019)

Dominus Vobiscum

Musim mau kiamat
Hujan pun tiada rahmat
Tuhan yang datang telat
Aku menunggu-Mu penuh amat

Di atas altar-Mu yang keramat
Aku datang sambil bertelut
Dari doa-doa yang penuh hikmat
Aku sembahyang dengan khidmat
(Ritapiret, 2019. Yurgo Purab, putera Lewotolok-Tinggal di Adonara).

Puisi-Puisi Sagiyatul Maulud
Rindu

Kala hati yang tersirat cinta
Bahasa perasaan akan terasa
Sebuah ungkapan jiwa yang terbuai
Bertanda kalau rindu itu akan hadir
Seketika pula hentak henti hening sejenak
Semua mulai terkisah
Bergetar
Disambut syahdu hembusan nafas
Isyarat kalau rindu itu akan datang
Untuk kita
Bukan untuk aku saja
Tetapi untuk kita yang saling merindui
Hingga dinamakan itu rindu
(Umaleu, 13 Februari 2019)

Sandirwara Politik

Menghiasi pandangan
Terpajang wajah-wajah kontestan
Dengan azimat kalimat yang merayu
Penyambung lidah rakyat
Bersatu untuk membangun
Janji
Begini bagai manis madu
Seperti tak sepahit empedu
Kelak terpilih
Hilang
Lupa bak mimpi
Dasi merajai hari
Kelana tak beramanah
Demi mereka
Rumah sebelahan menjadi hijab
Tatatapan tak semesra dulu
Padahal
Menang jadi Tuan
Kalah jadi abu
(Umaleu, 14 Februari 2019)
Puisi Citra Placida
Aku dan Engkau

Aku hanyalah bocah dungu
Yang kian terlempar jauh dari nalar
Engkau datang menata memoriku
Menyadarkan aku akan semesta yang kian menggeliat
Akan mimpi yang kian cerah
Seiring kokokan si jago
menandai fajar menanti asa
kau menopangku
agar aku tak jatuh pada lubang ketidaktahuan
kau menataku pada sandaran bahasa
tuk menutur secara tulus dan berkata secara akal
kau menyangga keraguanku
antaramimpidannyata yang kianpesimis
dijerat jebakan kekinian
(Siswi SMP St. Stefanus Ketang, Kecamatan Lelak-Manggarai)

Negeriku Malang

Kutermenung pada butiran pasir pantai
Menatap mentari yang kian beranjak ke peraduannya
Tergambar dalam benak
Negeriku malang
Sukma sontak berujar
Apa yang terjadi denganmu?
Sekejap berpikir sarat juang
Lakukan sesuatu untuknya, Sobat!
Jemari pun terpaut pada asa sarat makna
Inspirasi menjemput senja pun
Mengantar aku pada sebuah khayalan sarat asa
Ku mulai melangkah
Untuk negeri
Berjuang dalam karya
Untuk tetes pada embun menjemput fajar
(Siswi SMP St. Stefanus Ketang, Kecamatan Lelak-Manggarai)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved