Renungan Harian Kristen Protestan

Jangan Mengukur Kehidupan Sorgawi dengan Cara Pandang Dunia! Mengapa?

Jangan Mengukur Kehidupan Sorgawi dengan Cara Pandang Dunia! Mengapa? Simak Tulisannya

Editor: Kanis Jehola
Dok Pribadi/Mesakh A.P. Dethan
Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Oleh: Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh

Dengan adanya begitu banyak kematian beruntun baik di keluarga kami maupun keluarga para sahabat dalam beberapa bulan terakhir ini, yang tidak bisa lagi saya hitung satu persatu, maka saya tertarik untuk membahas tentang perihal kematian dan kebangkitan.

ALKISAH ada beberapa suku-suku terasing di Afrika mempunyai suatu keyakinan yang unik. Bahwa walaupun seseorang di dunia memiliki istri yang yang berwajah buruk dan jelek sekalipun, asal berbuat kebajikan dan dan menunjukkan rasa hormat pada orangtua selama ia hidup di dunia, maka kalaupun orang itu nanti mati akan masuk sorga dan akan dikelilingi oleh para janda bertubuh bohai dan para bidadari cantik.

Bukan pada tempatnya kita menilai pandangan ini, benar atau salah. Tetapi bahwa ada begitu banyak orang yang membayangkan kehidupan di dunia mempunyai kelanjutannya di sorga, yang jauh lebih indah, khususnya berkaitan dengan hal kawin-mawin.

Dengan cara yang sedikit berbeda, kita bisa melihat bagaimana orang-orang Saduki memakai ukuran dunia untuk mengukur hal-hal di surga. Dan karena itu Yesus memberi jawaban yang berbeda, yaitu di surga tidak ada kawin-mawin (lihat teks Alkitab Matius 22:23-33).

Debat Capres Sesi Kedua, Pius Rengka Sebut Jokowi Diuntungkan

Sebetulnya menurut beberapa penafsir kisah perempuan dengan tujuh orang laki-laki itu hanyalah rekayasa orang-orang Saduki saja dengan maksud untuk menjebak Yesus.

Orang-orang Saduki adalah salah satu kelompok yang mengusai kehidupan politik dan agama di Yerusalem (khususnya di sekitar Bait Suci) pada jaman Tuhan Yesus. Boleh dikatakan Orang-orang Saduki, yang terdiri dari keluarga-keluarga imam yang kaya, merupakan bagian dari kelompok-kelompok yang berkuasa di Yerusalem.

Dengan membatasi kitab suci hanya kepada lima kitab Musa (Kejadian, keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan), maka hidup orang Saduki adalah jauh lebih gampang dari pada kelompok-kelompok Yahudi yang lain (misalnya Farisi, Zelot, Essene dan lain sebagainya). Mereka dengan mudah dapat bekerja sama dengan pemerintah penjajahan Romawi, dan menikmati kekuasaan dan keuntungan politik lainnya pada zaman Tuhan Yesus. Mereka memahami diri sebagai orang yang sangat setia dan memegang teguh kepada Taurat Musa itu.

Sebelum Nonton Debat Capres, Relawan Jokowi NTT Bakar Lilin

Orang-orang Saduki tidak mempercayai adanya kebangkitan orang mati pada akhir zaman (band. Mk 12:18, Kis 23:8). Oleh sebab menurut mereka dalam kelima kitab Musa, juga tertutama dalam 10 perintah Allah tidak menyebutkan sedikit pun tentang kebangkitan. Bagi mereka keyakinan pada peristiawa kebangkitan hanya perumusan kemudian oleh para nabi setelah kematian Musa. Misalnya dalam teks-teks eperti Yes 26:19; Dan 12:2 dyb (Lihat juga 2 Makk 7:1-2, 7a, 9-14, yang menceritakan tentang kisah Martyr seorang keluarga Yahudi).

Orang-orang Saduki kurang menghargai kitab para nabi dan kitab-kitab lainya, selain dari kelima kitab Musa itu. Oleh sebab itu adalah suatu ironi sebab walaupun mereka tidak percaya kepada hal kebangkitan, namun mereka berusaha menjebak Yesus dengan hal itu.

Orang-orang Saduki berusaha sekuat tenaga untuk menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan yang dihubungkan dengan kitab Ulangan 25:5-10 mengenai perkawinan ipar atau perkawinan levirat (yaitu pernikahan dengan kakak atau adik suami almarhum).

Dengan mengajukan pertanyan itu orang Saduki mau memancing para penonton atau orang-orang banyak yang mengikut Yesus untuk tertawa atau menertawakan dan mengolok-olak Yesus dengan cerita lelucon yang mereka rekayasa dan ajukan kepadaNya. Dengan cara itu mereka bukan saja ingin membuat Yesus terperangkap dan malu, tetapi juga target lain dari mereka adalah mau menyindir orang-orang Farisi yang juga getol menafsirkan perkatan dan tulisan para nabi mengenai perihal kebangkitan.

Dengan kisah rekayasa mengenai perempuan dengan tujuh suami itu orang-orang Saduki seakan berkata kepada Yesus: mengenai kebangkitan tentu saja kami tidak mempercayainya, tetapi coba anda pikir kegilaan apa yang terjadi atau muncul kalau perempuan itu bersama ketujuh suaminya bangkit pada akhir zaman? Dengan siapa wanita itu akan menikah nanti?

Jadi seakan-akan menurut kaum Saduki soal kebangkitan adalah kebodohan yang hanya memancing tawa saja. Apakah tidak aneh dan lucu: kalau dalam Kitab Taurat diwajibkan perkawinan ipar tersebut, hal itu hanya menyebabkan kebingungan, dan menggelikan, kalau andaikata ada terjadi kebangkitan manusia pada zaman akhir? Jadi sebaiknya tidak usah percaya kebangkitan saja!

Demikian olok-olokan kaum Saduki, yang ingi menjebak Tuhan Yesus. Dan apakah Ia terjebak?

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved