Renungan Harian Kristen Protestan

Jangan Mengukur Kehidupan Sorgawi dengan Cara Pandang Dunia! Mengapa?

Jangan Mengukur Kehidupan Sorgawi dengan Cara Pandang Dunia! Mengapa? Simak Tulisannya

Editor: Kanis Jehola
Dok Pribadi/Mesakh A.P. Dethan
Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Tuhan Yesus menjawab dengan cerdik, seperti ketika ia menjawab orang orang suruhan dari para ahli Taurat dan Imam-imam kepala yang berusaha menjebakNya dengan bertanya tentang perlu tidaknya membayar pajak (dalam Luk 20:20-26).

Bagi Yesus kebangkitan bukanlah sekedar kelanjutan dari kehidupan di dunia ini, melainkan dalam dunia kebangkitan yang berlaku syarat dan aturan yang lain yang berbeda dengan yang dipikirkan manusia di dunia. Cara pandang dunia tentang kehidupan sorgawi yang dimiliki kaum Saduki ini dikritisi langsung oleh Yesus. Karena itu bagi Yesus perempuan janda yang tidak punya anak itu tidak membutuhkan lagi perkawinan di sorga. Dan karena di sorga tidak ada lagi kawin mawin seperti di dunia.

Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan".

Dengan jawaban Yesus ini jelas bahwa di sorga orang tidak membutuhkan perkawinan seperti yang terjadi di dunia. Di sorga tidak dibutuhkan aturan atau system hubungan perkawinan yang terjadi dan dibayangkan di dunia. Yesus menjelaskan bahwa mereka yang bangkit dari kematian akan sama mirip seperti malaikat. Malaikat bukanlah roh yang memiliki darah dan daging seperti manusia, memiliki hawa nafsu dan segala bentuk keinginan daging, atau fantasi-fantasi liar duniawi, tetapi ia lebih mencerminkan wajah Allah (Bnd. Mat 18:10).

Mereka semua telah dipenuhi dengan kasih Allah, tanpa keinginan dan fantasi yang aneh-aneh,

Tuhan Yesus menggunakan senjata orang Saduki itu sendiri untuk menembak kembali diri mereka sendiri. Yesus mendasarkan pemikirannya pada Taurat yang tentu saja dihafal dan dikuasai oleh orang-orang Saduki juga orang Farisi maupun para penonton lain yang ada pada saat itu.

Bagi Yesus dalam Keluaran 3:6 Allah menyatakan diri kepada Musa sebagai Allah ayahnya Musa (Seorang laki-laki dari keluarga Lewi Kel 2:1), Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Itu tidak berarti ada empat orang Allah yang kepada Ayahnya musa, Abraham, Isakh, dan Yakub, tetapi mau menekan bahwa Allah adalah Allah yang hidup.
Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (Luk 20:38). Dengan jawaban itu orang Saduki mati kutu dan para ahli Taurat juga tidak mampu mengeluarkan pertanyaan lain selain dari mengagumi jawaban Yesus itu. 39 Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." 40 Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Tadi kita katakan bahwa menurut beberapa penafsir cerita tentang Wanita dengan tujuh laki-laki itu hanya rekayasa. Pertanyaannya bagaimana kalau cerita tentang wanita itu bukan rekayasa orang Saduki, tetapi memang suatu kenyataan dan benar-benar terjadi?

Apakah wanita itu benar-benar mencinta tujuh orang laki-laki itu? Apakah ia tujuh kali jatuh cinta padan para lelaki itu? Ataukah para lelaki itu dan wanita itu hanya menjalankan aturan dan budaya orang Yahudi saja. Sebab sesuai dengan perintah Taurat Musa, maka adalah kewajiban seorang laki-laki untuk menikahi janda tanpa anak dari saudaranya yang meninggal.

Sehingga wanita itu terpelihara dan terlindung dalam kehidupan sosialnya. Hal tentu saja suatu aturan yang baik dan bernilai karena ada upaya perlindungan kepada kaum perempuan.

Tetapi bagi orang Saduki aturan ini mereka membuatnya menjadi lelucon oleh karena mereka tidak percaya akan kebangkitan.
Lelucon orang Saduki mengenai perempuan itu sebetulnya bisa ditafsirkan sebagai suatu bentuk pelecehan terhadap perempuan itu.

Bentuk pelecehen para orang Yahudi bisa juga dapat dilihat dari doa-doa pagi hari yang diajarkan para rabi Yahudi: Tuhan terima kasih karena kami tidak dilahirkan sebagai wanita. Mungkin juga ketujuh lelaki dalam kisah ini juga merupakan korban dari budaya, tetapi kalau mau dilihat wanita yang paling menderita sebagai korban.

Boleh dikatakan bahwa wanita itu adalah korban Cinta atau atau korban kawin paksa karena aturan dan budaya Yahudi. Wanita itu adalah korban, karena sebetulnya ia tidak mempunyai kepastian social, apakah ia mempunyai hak untuk tidak menikah dengan orang lain setelah suaminya mati?

Pada masa kini jika ada orang yang mau memilih hidup single, maka ia akan merasa kurang beruntung sebab budaya masyarakat menuntut lain. Siapa yang tidak memiliki partner atau belum menemukan pasangan hidupnya, atau mereka yang mengalami penderitaan karena perceraian dan hidup sendiri juga mengalami hal yang sama, dapat menjadi korban dan dari budaya.

Orang-orang seperti ini bisa menjadi buah bibir dan gossip negative. Budaya kita menganjurkan orang menikah dan memiliki keluarga, maka siapa yang beruntung menemukan sesorang untuk dicintai dan mencintainya adalah beruntung. Sedangkan orang yang tidak menemukannya akan dianggap sial. Atau akan dijadikan buah bibir karena dicap tidak laku.

Sebetulnya bukan soal menikah atau tidak menikah, tetapi kualitas hidup kita sebagai orang beriman itu yang terpenting. Rasul Paulus adalah orang yang tidak menikah tetapi ia mempergunakan hidupnya bagi Tuhan dan pekabran Injil. Dalam 1 Kor 7:28 Paulus berkata 28 Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved