Pilpres 2019

Dinilai Bergaya Ofensif, Erick Thohir Sebut Jokowi Hanya Menjawab Tuduhan

Dinilai Bergaya Ofensif, Erick Thohir Sebut Jokowi Hanya Menjawab Tuduhan

Dinilai Bergaya Ofensif, Erick Thohir Sebut Jokowi Hanya Menjawab Tuduhan
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1, Joko Widodo dan Maruf Amin memberikan penjelasan saat debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). 

Dinilai Bergaya Ofensif, Erick Thohir Sebut Jokowi Hanya Menjawab Tuduhan

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir menilai, kurang tepat apabila kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut calon presiden petahana Joko Widodo mulai bergaya ofensif dalam berpolitik.

"Dalam beberapa hari terakhir, Jokowi sendiri sebenarnya hanya menyampaikan isi hatinya bahwa isu yang ada selama ini sebenarnya terbolak-balik," ujar Erick melalui keterangan pers, Rabu (6/2/2019).

Isu Jokowi mengkriminalisasi ulama, misalnya, yang terjadi justru sebaliknya. Setiap Jokowi pergi ke luar kota, pasti selalu menyempatkan diri mengunjungi pondok pesantren untuk bersilaturahim.

Kantor Terbakar, Layanan Online Lumpuh Total, Manajemen PT Telkom Ambon Minta Maaf

Demikian pula isu yang dituduhkan ke Jokowi selama ini, yakni antek asing, antek aseng, hingga Jokowi adalah PKI. Semuanya bersumber pada sisa-sisa "perang politik" pada Pilpres 2014 yang masih dieskalasi hingga saat ini.

"Yang terjadi sebenarnya adalah Jokowi dizalimi dan semua penzaliman itu sudah dimulai sejak 2014 dengan terbitnya Obor Rakyat," ujar Erick.

Erupsi Gunung Karangetang, Dandim 1301 Sangihe Imbau Warga Mengungsi, Kodim Bantu Evakuasi

"Jadi, kalau sekarang beliau menjawab (tuduhan) itu lumrah. Sebab, kalau tidak dijawab, nantinya fitnah itu dianggap benar. Yang anehnya, ketika beliau menjawab, dikatakan panik dan ketakutan.

Justru beliau sedang menyampaikan fakta dan data yang selama ini diputarbalikkan," lanjut dia.

Erick meyakini, isu-isu miring yang disemburkan kepada Jokowi-Ma'ruf tak akan berdampak negatif terhadap elektabilitas. Berdasarkan hasil riset dari lembaga survei resmi yang diakui KPU, selisih suara kedua pasangan calon minimal sebesar 20 persen.

"Hanya ada dua lembaga yang menyatakan selisihnya sudah berkurang, yakni lembaga Media Survei Nasional (Median) serta Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis)," ujar Erick.

Kalaupun survei Median dan Puskaptis itu mau diakui, selisih elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dengan Prabowo-Sandiaga masih mencapai 15-18 persen.

"Semuanya menunjukkan kemenangan Jokowi-Ma'ruf sehingga aneh apabila disebut Jokowi dan Ma'ruf panik. Yang terjadi seharusnya adalah sebaliknya. Intinya, kalau dikatakan Jokowi panik karena survei, jawabannya tidak," lanjut pengusaha muda pendiri Grup Mahaka tersebut. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved