Berita Puisi

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini

Serupa rahmat mengalun jalari nadi bumi,Debu jalan sontak basah seiring detik jam dan rintik hujan.

Ini Loh Puisi-Puisi  Pos Kupang Minggu Ini
ils
Hujan 1 

Puisi-Puisi Gensy Fallo
Hujan (1)

Serupa rahmat mengalun jalari nadi bumi
Debu jalan sontak basah seiring detik jam dan rintik hujan
Kenangan berceceran mengisahkan luka dan tawa disemai
Rindu dan amnesia paling basah sepanjang tahun
(Seumbam, 1 Januari 2019)

Hujan (2)
Adalah kisah semarak tentang jatuh yang romantis
Di negeri nun jauh hujan serasa melankolis
Sedang atap ilalang kuyup basah oleh tangis
Hujan linglung dilema. Entahlah, hujan dan basah selalu magis
(Seumbam, 2 Januari 2019)

Hujan (3)

Cukup miris bila aku tuliskan judul hujan
dan isinya berkelebat rindu serta tahun baru
Sederhana saja, hujan teramat deras mengguyur pertiwi yang kelelahan
Dia yang belum pulang kampung pun dihujani dengan hebat rindu
Pada akhirnya rindu, hujan, dan tahun baru menggelar reuni dalam gelas kopi
(Seumbam, 3 Januari 2019)

Puisi-Puisi Chan Setu
Parade Secangkir Kopi
/1/
Pada asbak terakhir,
Masihku sisihkan sepuntung sembako
Jika berkenan, akan ku tuangkan segelas pesona dari mataku.

/2/
Masih khas bibirku menyeduh secangkir basah yang jatuh pada tetesan keringat, dan kuseduh dengan dahaga harga dari setiap bilur yang kau tuangkan.
Kala itu, aku hanya penikmatmu dan kau tahu kaulah yang mencuri mataku untuk mengoleksi kata-kataku di bibir kopi(ku-mu).
(Bukit Ledalero, 2019)

Di Atas Meja (Itu)

/1/
Di atas meja itu, masih aku mendiami sunyiku.
/2/
Diantara itu terkadang `ku seduhkan secangkir kopi dengan seulas kepulan senyum yang sering membuat aku bercengkerama.
/3/
Jauh dari itu semua, di atas meja itu ku buka lamat-lamat daun jendela kamarku, bisa saja aku melihat hamparan kamus kata yang lusuh atau barangkali hanya sederetan panorama dunia yang masih terselip dalam bayangan indera.
/4/
Sekali lagi, di atas meja itu, aku berdiam dalam sunyi, berceloteh dengan tumpukkan bisu yang menghidupkan. Terasa romol deretan-deretan kata itu tapi aku pun kumal di balik kertas lusuh yang hampir-hampir ku sisipkan dalam saku celanaku.
/5/
Terasa lama, menuntut hidup melangkah. Terakhir ini, di atas meja itu aku sadar duniaku masih terlampau luas dan aku masih terlalu kecil. Andaikata, aku disuruh menyelam ke dasar laut mungkin aku akan menjawab aku belajar untuk menjadi pesisir biar ku tahu cara air laut menjadi pasang surut. Atau jika saja aku disuruh untuk mengunyah nasi mungkin saja aku menjawab sebelumnya aku ingin menampih beras biar kelak aku tahu mana yang baik dan tidak.
/6/
Ibu, mejaku romol diriku lusuh. Aku takut bu, takut pada kerumunan kata, takut pada seperempat waktu yang masih kusisipkan berjiwa di bawah saku celanaku. Ibu, bukalah laman pertama itu bisa saja aku tahu kalau-kalau ibu pernah mengatakan di atas meja itu, ibu pernah menyimpan seribu kata dan ratusan juta ribu bahasa yang telah ibu bagi melalui bulir-bulir keringat ibu mengandung, melahirkan dan membesarkanku, di atas meja itu ayah menulis "Nak, jauh tak harus kau amati jarak sebab sewaktu-waktu ayah menulis ini, kau sedang berada di samping ayah dalam diarimu".
---------------------
Di atas meja itu, ku buka laman pertama jendelamu selalu mendiamimu untuk berjalan dan belajar.
(Kamar tidur, C-11, 2018).
(Penulis saat ini bertempat tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere).

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved