Berita Ekonomi Bisnis

Penerapan Bagasi Berbayar Dapat Mempengaruhi Usaha Suvenir

Penerapan penghapusan bebas bagasi berdampak secara langsung pada perkembangan usaha suvenir karena wisatawan enggan beli suvenir dalam jumlah banyak

Penulis: Hermina Pello | Editor: Hermina Pello
zoom-inlihat foto Penerapan Bagasi Berbayar Dapat Mempengaruhi Usaha Suvenir
ISTIMEWA
Ketua ASITA NTT, Abed Frans

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM. Hermina Pello

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Penerapan penghapusan bebas bagasi yang dilakukan oleh maskapai Lion Air Group dan Citilink diperkirakan akan berdampak secara langsung pada perkembangan usaha kerajinan.

Nantinya wisatawan enggan membeli souvenir dalam jumlah banyak karena memperhitungkan bagasi.

Ketua ASITA NTT, Abed Frans pada Kamis (10/1/2019) mengungkapkan, dampak penghapusan ini tidak hanya berpengaruh pada rencana perjalanan wisatawan.

"Yang namanya wisatawan itu, selalu membawa bagasi. Tidak ada yang tidak membawa bagasi. Tentunya mereka akan membawa segala sesuatu keperluan mereka selama berwisata," ujarnya.

Benda Ini Jadi Petunjuk Perselingkuhan Oknum Dosen di Kupang Dengan Mahasiswinya

Digerebek Istri dan Anak, Begini Reaksi Dosen Bergelar Doktor dan Mahasiswi Tersebut

Hal ini juga berpengaruh terhadap keberlangsungan dari para pengusaha kerajinan souvenir dan lainnya.

"Wisatawan tentu akan enggan akan membeli kerajinan atau suvenir dalam jumlah yang banyak karena akan semakin menambah jumlah bagasi mereka," ucapnya.

Abed mengungkapkan, penghapusan bebas bagasi ini bukanlah hal yang baru di dunia maskapai los cost carrier (LCC). "Dulu sudah pernah diterapkan di Indonesia juga. Akan tetapi ini seperti langkah mundur, apalagi hal tersebut bersamaan dengan moment harga tiket yang selangit harganya. Bagaimana kita bisa berharap wisatawan akan datang dengan biaya transportasi udara yang begitu mahal," ujarnya.

Kasus Selingkuh Dosen - Mahasiswa di Kupang. Pengakuan Isteri : Kami menderita

Tentunya, kata Abed, calon wisatawan akan berpikir kembali dan mempertimbangkan tujuan lain yang bisa dicapai dengan biaya yang lebih murah.

"Dan bukan tidak mungkin mereka akan lebih memilih ke luar negeri saja. Karena paket-paket wisata ke Singapura, Malaysia atau Bangkok misalnya, umumnya dijual dengan harga yang relatif murah," katanya.

Terkait dengan harga tiket dan bagasi yang selangit, kata Abed, itu merupakan strategi dari maskapai yang semakin membingungkan. Ia berharap agar pemerintah daerah bisa angkat bicara.

"Kalau semua pemda tidak angkat bicara maka siap-siaplah destinasi lokal akan ditinggalkan wisatawan," ujarnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved