Berita Nasional Terkini

Kasus Oesman Sapta, Bawaslu Lanjutkan Laporan Dugaan Pelanggaran Administrasi KPU

Bawaslu akan melanjutkan penyelidikan dugaan pelanggaran administrasi KPU atas kasus pencalonan Oesman Sapta Odang (OSO) sebagai anggota DPD

Kasus Oesman Sapta, Bawaslu Lanjutkan Laporan Dugaan Pelanggaran Administrasi KPU
KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO
Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang mengungkapkan bahwa kepemimpinannya sah secara hukum. Ia pun menunjukan surat keputusan Menteri Hukum dan HAM tentang restrukturisasi, reposisi dan revitalisasi pengurus DPP Partai Hanura masa bakti tahun 2015-2020, nomor M.HH-01.AH.11.01 tahun 2018. 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) akan melanjutkan penyelidikan dugaan pelanggaran administrasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) atas kasus pencalonan Oesman Sapta Odang ( OSO) sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Penyelidikan dilanjutkan melalui sidang pemeriksaan yang akan digelar Jumat (28/12/2018).

Hal ini disampaikan oleh Ketua Bawaslu, Abhan dalam sidang awalan dugaan pelanggaran administrasi KPU atas kasus pencalonan OSO yang digelar Kamis (27/12/2018).

Drajad Wibowo Mengaku Heran Manuver Lima Orang Pendiri PAN yang Menyerang Amien Rais

"Menetapkan, menyatakan laporan yang disampaikan pelapor diterima dan dilanjutkan dengan sidang pemeriksaan," kata Abhan di kantor Bawaslu, Jakarta Pusat.

"Selanjutnya kami akan agendakan untuk pemeriksaan besok hari Jumat jam 14.00 dengan agenda pembacaan pokok-pokok laporan dari pelapor. Kalau KPU sudah siap kami minta untuk menyampaikan tanggapan, kalau tidak nanti sidang berikutnya," sambung dia.

Gunung Anak Krakatau Siaga Level III, Warga Diminta Hindari Radius 5 Km

Seperti diketahui, KPU dilaporkan ke Bawaslu karena diduga melakukan pelanggaran administrasi dan pidana pemilu. Laporan mengenai dugaan pelanggaran pidana pemilu dibuat oleh Kuasa Hukum OSO Firman Kadir, tertanggal 8 Desember 2018.

BREAKING NEWS: Tabrakan Maut di Simpang Wanorita, Dua Warga Sumba Barat Daya Tewas

Melalui laporannya, Firman menuding KPU melanggar pidana pemilu karena tak jalankan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Putusan tersebut memerintahkan KPU mencabut Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPD yang tidak memuat nama OSO.

Majelis Hakim juga meminta KPU menerbitkan DCT baru dengan mencantumkan nama OSO di dalamnya. Pelapor kedua atas nama Dodi Abdul Kadir, yang juga Kuasa Hukum OSO.

Kepada Bawaslu, ia mengadukan surat KPU yang memerintahkan OSO mundur dari jabatan ketua umum. Laporan dibuat pada tanggal 18 Desember 2018.

Sebelumnya, KPU meminta Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO), untuk menyerahkan surat pengunduran diri dari pengus partai politik hingga Jumat (21/12/2018).

Hal itu disampaikan KPU melalui surat tertulis. Surat pengunduran diri ini diperlukan untuk syarat pencalonan diri OSO sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Pemilu 2019. Jika sampai tanggal yang telah ditentukan OSO tak juga menyerahkan surat pengunduran diri, maka KPU tak akan memasukan yang bersangkutan ke dalam Daftar Calon Tetap (DCT) partai politik.

KPU mengklaim, sikap mereka berdasar pada putusan MK No. 30/PUU-XVI/2018 yang melarang ketua umum partai politik rangkap jabatan sebagai anggota DPD. (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved