Berita Kota Kupang Terkini

Jembatan Liliba Kota Kupang Perlu Perawatan Rutin, Baut Perlu Dicek

embatan Liliba di Kota Kupang memerlukan perawatan rutin mulai dari pengecekan sekrup, baut dan plat bawa jembatan.

Jembatan Liliba Kota Kupang Perlu Perawatan Rutin, Baut Perlu Dicek
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Tiga orang pegawai Dinas Pekerjaan Umum memantau jembatan Liliba, Kupang, Senin (26/11/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Jembatan Liliba sepanjang 135 meter yang berada di jalan Piet A Tallo Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang memerlukan perawatan rutin mulai dari pengecekan sekrup, baut dan plat bawa jembatan tersebut.

"Jembatan baja itu harus memiliki perawatan yang rutin jauh lebih rutin daripada jembatan beton, sekrup dan segala macamnya dari tahun ke tahun harus dikencangkan kalau tidak akan berbahaya dan akan terjadi seperti kasus yang di Kalimantan yang jebol karena perawatannya yang kurang," ungkap Hendrik Rani, akademisi dari Fakultas Teknik Universitas Widya Mandira Kupang ini kepada POS- KUPANG.COM, Senin (26/11/2018).

Baca: Jembatan Waima di Lembata Mulai Rusak, Begini Kondisinya

Dijelaskannya, jembatan Liliba yang merupakan jembatan baja dimana telah berusia 29 tahun tersebut biasanya mengalami masalah pada perawatan.

"Saya melihat jembatan Liliba dari segi usia yang menginjak 29-30 tahun sebenarnya belum terlalu tua, artinya umur layanan di atas 50 tahun," katanya.

Baca: Warga Kota Kupang Keluhkan Macet di Jembatan Liliba

Namun demikian, melihat pertumbuhan lalulintas dan mobilitas kendaraan di Kota Kupang yang dapat dikatakan 'luar biasa' terlebih pada waktu tertentu mengharuskan perawatan dan peremajaan secara kontinyu dan rutin seperti pengecekan plat dek jembatan dan pengecekan baut.

"Pengerjaan harus teliti dan ekstra hati-hati, kontrol seluruh baut dan plat apakah ada retak atau tidak, sebab kalau tidak diperhatikan kita tidak tahu ada kerusakan kecil yang berakibat fatal pada struktur jembatan itu," jelasnya.

"Jadi memang jembatan Liliba saat ini, bebannya pada jam-jam tertentu sudah luar biasa. Untuk ukuran Kota Kupang pada pagi hari atau jam 4 sampai jam 5 sore di situ sangat padat dan memang di situ dapat dikatakan jembatan mengalami beban maksimum pada kondisi-kondisi tertentu tersebut, Kalau dia (jembatan Liliba) tidak cukup fit maka akan cukup membahayakan," tambahnya.

Pemerintah Provinsi NTT sejauh pengamatannya memiliki standar perawatan jembatan dimana secara berkala merawat jembatan tersebut.

Misalnya di tahun-tahun terakhir ini ada pengecekan dan pemeriksaan-pemeriksaan baut sehingga jembatan tersebut tetap memiliki kelayakan untuk dilalui.

"Hanya kita kurang mengetahui tingkat pemeliharaan atau pengamatan itu hanya sekedar pengecekan dan pengencangan baut atau sampai pada pengamatan apakah kondisi baut dalam keadaan baik atau tidak?," ujarnya

"Nah, itu kan butuh alat-alat khusus dan sepengetahuan kita yang melintasi jembatan tersebut sebatas pada pengamatan visual atau pengecekan saja. Kedua hal ini memadai dalam kondisi dimana kondisi jembatan dalam keadaan yang meragukan atau kondisinya yang memburuk dan kita tidak mengetahui tapi seandainya jika ada crack (retak) di dalam plat baja atau mungkin di baut," tambahnya.

Ia menilai, jika hanya sebatas pengamatan visual saja akan mengalami sedikit kesulitan jika tidak dilakukan pemeriksaan mendalam . Kalau umurnya sudah sampai 30 tahun memang harus ada pengecekan secara lebih dalam," imbuhnya.

Dirinya berharap, Pemerintah Provinsi NTT memiliki dana yang lebih untuk perawatan dan peremajaan jembatan tersebut karena plat beton jembatan Liliba mudah retak disebabkan mobilitas kendaraan dibandingkan dengan jembatan beton.

"Jembatan ini kan plat betonnya cepat retak ya. Karena baja itu jika mobil lewat dia sedikit bergetar. Kita tidak begitu merasakan tapi dari Itu cukup menimbulkan plat beton itu tertekan dan terangkat. Jauh lebih tertekan jembatan baja ketimbang jembatan beton sehingga plat deknya itu lebih mudah retak, misalnya jembatan Noelmina (TTS) sana," katanya.

"Itu dari saya, karena kita tidak punya data yang cukup misalnya seberapa besar tingkat perawatannya kita tidak punya," tambahnya lagi. (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved