Berita Kabupaten Sikka

Moratorium TKI, Gubernur NTT Dihadiahi Tepuk Tangan dari STFK Ledalero

Moratorium Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, mendapatkan sorakan dukungan

Moratorium TKI,  Gubernur NTT  Dihadiahi  Tepuk Tangan   dari STFK Ledalero
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
Gebernur NTT, Viktor Laiskodat (kemeja putih) dan Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, diterima di Kampus STFK Ledalero, Kabupaten Skka, Pulau Flores, Sabtu (24/11/2018). 

Laporan  Reporter POS KUPANG.COM, Euginius  Mo’a

POS-KUPANG.COM|MAUMERE--- Moratorium Tenaga Kerja  Indonesia  (TKI) asal NTT  dilakukan  Gubernur dan Wakil Gubernur NTT,  Viktor Laiskodat, dan  Josef Nae  Soi mendapatkan  sorakan  dukungan  dari seluruh   civitas  akademika STFK Ledalero di  Kabupaten  Sikka, Pulau  Flores, Propinsi NTT.  TKI  

Salah satu  tantangan berbahaya  sudah diatasi  gubernur  dengan  moratorium   TKI akan menghentikan kasus perdagangan  manusia,  TKI  menjadi modus operandi para sindikat. Seketika seisi  aula  bergemuruh dengan  tepuk tangan  dukungan.

Baca: Drainase Di Bandara Ende Kembali Dijejali Sampah

Baca: KUR Pariwisata Makin Diminati Pelaku Wisata di Labuan Bajo

Baca: Tidur Malam Anda Sering Terganggu? Hindari 3 Jenis Makanan Penyebab Ini!

Pembina  Yayasan  Persekolahan St. Paulus Ende,  Pater Lukas Jua,  SVD, menyampaikan itu   dalam  pembukaan kuliah  umum  Gubernur NTT,  Sabtu   (24/11/2018)  di Aula  St.Thomas Aquinas STFK Ledalero.

Pater  Lukas  menyodorkan dua masalah pokok  menantang  di NTT selain humman  trafficking  yakni  HIV/Aids.  Pemerintah  NTT   dalam kepemimpinan  yang baru  telah  tegas melakukan moratorium TKI.

“Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kami  akan teruskan.  Saat ini  kami sedangkan lakukan  penelitian migran  di lima kabupaten. Hasil  ritset  akan dilokakaryakan  menjadi  dasar pijak pengambilan keputusan,” imbuh Pater Lukas.

Pater   Lukas menyoroti mutu pendidikan NTT yang tak  pernah  beranjak dari peringkat  10 besar terbawa  Indonesia. Literasi  di  NTT berada  di  peringkat  terbelakang dari propinsi lain di Indonesia.  Demikian  juga  infrastruktur  jalan dan jembatan membuat aksesibilitas antar  daerah  menjadi  rendah  dan  tingginya  kasus  korupsi menempatkan  NTT pada urutan atas.

“Pertanyaan   apakah agama  masih  releven  ketika kasus  korupsi makin  tinggi.  Di  Eropa, perkembangan  agama kurang baik,  tetapi standar  kehidupan Eropa lebih baik,”   ujar Pater Lukas.

Mutu  pendidikan rendah,  kata Pater  Lukas,   tidak mampu menghasilkan tamatan  yang mempunyai  semangat wirausaha dan ribuan   peserta   tidak  lulus ujian   CPNS, salah  satu indikator mutu pendidikan  rendah. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved