Berita Kota Kupang Terkini

Daur Sampah, dari Pupuk Organik hingga Tanam Kelor

Sejak dua bulan terakhir, Dinas Kebersihan Kota Kupang sudah memproduksi sampah menjadi produk-produk turunan.

Daur Sampah, dari Pupuk Organik hingga Tanam Kelor
POS-KUPANG.COM/Ambuga Lamawuran
Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Obed Kadja, sewaktu memantau pemanfaatan pupuk organik untuk penanaman kelor. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Sejak dua bulan terakhir, Dinas Kebersihan Kota Kupang sudah memproduksi sampah menjadi produk-produk turunan.

Selain menjadi pupuk organik, sampah-sampah plastik juga bisa diproduksi menjadi paving block.

Khusus untuk pupuk organik, pihak Dinas Kebersihan Kota justru menggunakannya untuk membudidayakan tanaman kelor.

Baca: Dinas Kebersihan Kota Sulap Sampah Plastik Menjadi Paving Block

Pantauan POS-KUPANG.COM, ratusan tanaman kelor dirawat di halaman belakang kantor Laboratorium Dinas Kesehatan Kota Kupang.

Pupuk organik yang disimpan di belakang kantor Laboratorium Dinas Kebersihan Kota Kupang
Pupuk organik yang disimpan di belakang kantor Laboratorium Dinas Kebersihan Kota Kupang (POS-KUPANG.COM/Ambuga Lamawuran)

Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Obed Kadja, mengatakan penanaman kelor itu sebagai upaya menjawab visi dan misi dari Gubernur NTT dan Walikota Kupang.

"Program kelor ini, kita di teknis harus sambut baik. Apapun harus kita buat. Karena seorang pemimpin yang berpikir untuk rakyat, kita harus peka, jangan adem-adem saja," katanya kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (21/11/2018).

Baca: Sampah Menumpuk di Kantor Dinas Kebersihan Kota dan Tak Dibuang ke TPA, Ternyata ini Alasannya

Terkait pohon-pohon itu, Obed mengatakan tanaman kelor itu dipelihara, lalu nanti dibagikan atau dilakukan penanaman secara bersama.

Selian kelor, pemanfaatan pupuk organik di lokasi itu juga untuk menanam sayuran lain, seperti kangkung, bayam, juga sayur putih.

Dijelaskan, pihaknya telah menghasilkan 50 ton pupuk sampah organik.

"Kami menjualnya dengan harga yang murah. Untuk 8 kilogram, kami jual dengan Rp. 12,500,00," ujarnya.

Dia berharap, jika masyarakat ada keinginan, hal-hal positif seperti ini bisa dilakukan sendiri.

"Kita bisa berikan mereka pelatihan untuk memanfaatkan sampah organik ini," ujarnya. (*)

Penulis: Lamawuran
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved