Berita Flores Timur Terkini

Proyek Air Rp 2,1 Miliar Diduga Bermasalah, Warga Adonara Tengah Ambil Air di Kali

Romo Nikolaus Lawe Saban, Pr mempertanyakan proyek perpipaan pemerintah sebesar Rp 2,1 Milyar tahun 2017.

Proyek Air Rp 2,1 Miliar Diduga Bermasalah, Warga Adonara Tengah Ambil Air di Kali
ISTIMEWA
Pertemuan masyarakat lima desa di Aula Paroki Lite, Kamis (8/11/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Feliks Janggu

POS-KUPANG.COM | LARANTUKA - Pastor Paroki Santo Yoseph Lite Keuskupan Larantuka, Romo Nikolaus Lawe Saban, Pr mempertanyakan proyek perpipaan pemerintah sebesar Rp 2,1 Milyar tahun 2017.

Proyek perpipaan air minum dari sumber mata air Wainoret menimbulkan masalah bagi masyarakat Lite dan beberapa desa masalah.

Masyarakat sampai saat ini belum bisa menikmati air minum bersih. Mereka untuk memenuhi kebutuhan air minum mengambil air dari kali.

Baca: Imunisasi MR Capai Target, Ini Apresiasi Pemkot Kupang

Padahal masyarakat sejak proyek perpipaan air dari dana hibah Belanda Tahun 2012 telah menikmati air minum bersih.

Ketika proyek pemerintah masuk, pipa-pipa lama digunakan oleh kontraktor untuk penyambungan menuju Desa Lewopao.

Baca: Ada Syukuran di Rumah Bupati Sumba Tengah

"Pipa lama itu diambil dan dipindahkan secara sepihak. Jumlahnya mencapai 69 sampai 76 pipa dan dipasang ke Lewopao," kata Romo Niko per telepon kepada POS-KUPANG.COM, Senin (12/11/2018).

Pipa air proyek pemasangan tahun 2017 sudah patah dan airnya tidak jalan. Sementara proyek belum diserahkan pemerintah kepada masyarakat.

"Kalau pipa patah begitu siapa yang bertanggung jawab. Proyek ini belum diserahkan kontraktor ke pemerintah, dan dari pemerintah kepada masyarakat," kata Romo Niko.

Romo Niko mengungkapkan masyarakat sangat dirugikan. Tidak bisa menikmati air sampai saat ini.

"Sejak Oktober 2017 sampai sekarang, air tidak ada. Masyarakat mengambil air dari kali, yang merupakan air rembesan dari pipa," kata Romo Niko.

Selama ini, jelas Romo Niko, air dikelolah oleh Paroki. Meski ada pipa yang patah, hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari, sudah diperbaiki.

Tapi sekarang, ketika pipa patah, air kembali ke mata airnya dan masyarakat tidak menikmati apa-apa.

Menurut Romo Niko saat proyek itu sudah ditenderkan, kontraktor wajib bertanggung jawab atas penyelesaiaan pekerjaan air tersebut.

Pekan lalu, Romo Niko bersama para kepala desa, tokoh adat dan tokoh masyarakat dari lima desa membahas permasalahan tersebut dan berencana membawa masalah itu ke penegak hukum. (*)

Penulis: Felix Janggu
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved