Berita NTT Terkini

Forum Guru Produktif SMK NTT Ingin Formasi CPNS Direvisi

Forum Guru Produktif Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nusa Tenggara Timur (NTT) menginginkan adanya perubahan formasi CPNS di NTT.

Forum Guru Produktif SMK NTT Ingin Formasi CPNS Direvisi
POS-KUPANG.COM/Ambuga Lamawuran
Foto bersama Anggota Komisi V DPRD NTT 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Forum Guru Produktif Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nusa Tenggara Timur (NTT) menginginkan adanya perubahan formasi CPNS di NTT.

"Hal ini perlu dipertimbangkan pemerintah, karena guru produktif SMK tidak diakomodir dalam formasi CPNS di NTT," ujar Kornelius Rusan Taek, S.Pd, guru honorer SMKN 1 Atambua, kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (25/9/2018).

Pada Senin (24/9/2018), Kornelius Rusan bersama enam (6) guru honorer mendatangi kantor DPRD NTT, guna menanyakan kepastian kebijakan itu.

Baca: Pemkab Ngada dan Nagekeo Gelar Pertemuan Bahas Tapal Batas

Keenam honorer itu adalah Ovra Kase (27), Ravidim Malailegi (30), Sefnat Y Ali (27), Lexi D Akmone (27), Britser B Tlonaen (30), Valerius J Mali Bau (29).

Ketujuh orang itu berasal dari kabupaten berbeda, yakni dua orang dari Kabupaten Belu, dua dari Kabupaten Kupang, satu dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan dua dari Kota Kupang.

Baca: OMK Paroki Sanjose Penfui Adakan Aneka Lomba Saat BKSN

Kornelius mengatakan, pemerintah sepertinya tidak melihat secara mendalam analisis kebutuhan guru SMK di NTT.

"Jumlah guru produktif SMKN di seluruh Nusa Tenggara Timur adalah 1971 orang yang terdiri dari 1037 guru PNS dan 934 guru Non PNS. Kondisi ini menunjukan bahwa guru produktif SMK masih sangat dibutuhkan," jelasnya.

Mengakomodir guru honorer SMK dalam formasi CPNS juga, baginya, merupakan upaya menjawab program Nawacita Presiden Jokowi.

"Sesuai Nawacita Jokowi, ada upaya pengembangan SMK. Maka didirikanlah banyak SMK. Tapi mengapa para pendidik di SMK tidak diperhatikan?" tanyanya.

Dalam kondisi seperti ini, sambungnya, mereka merasa dianaktirikan.

Apalagi, jika dibandingkan dengan kesempatan yang diberikan kepada guru-guru honorer yang mengajar di SMA.

"Kami pun melihat pengangkatan tenaga guru honorer di SMK dan SMA agak berbeda. Guru SMA lebih diprioritaskan. Setidaknya harus adillah," ujarnya. (*)

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved