Berita Kabupaten Lembata

Di Kabupaten Lembata Anjing Liar Makan Hati dan Jantung Kambing

Di Kabupaten Lembata, kasus hama tikus memangsai anak ayam dan burung puyuh baru terjadi. Pernah ada kasus mirip dan kisah itu terjadi di Wulandoni

Di Kabupaten Lembata Anjing Liar Makan Hati dan Jantung Kambing
pos kupang.com, frans krowin
Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Lembata, Imelda Sri Purwati, 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA --- Di Kabupaten Lembata, kasus hama tikus memangsai anak ayam dan burung puyuh memang baru terjadi kali ini. Tapi pernah ada kasus lain yang kejadiannya mirip dengan masalah tersebut. Kisah itu terjadi di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Propinsi NTT tahun 2016 silam.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Lembata, Imelda Sri Purwati, ketika ditemui Pos Kupang.Com, Jumat (31/8/2018).

Baca: Diduga Terlibat Jaringan Human Trafficking! Dua Ibu Rumah Tangga Diamankan Polda NTT

"Waktu itu kejadiannya di Wulandoni. Saat itu sebanyak 54 ekor ternak kambing milik masyarakat mati diserang anjing liar. Kambing itu digigit sampai mati dan yang dimakan hanya hati dan jantungnya saja. Kasusnya seperti terulang tapi dengan jenis hewan yang berbeda," ujar Sri Purwati.

Bedanya, lanjut dia, adalah bila di Kecamatan Wulandoni tahun 2016 itu, predatornya anjing liar dengan jenis hewan yang diserang adalah kambing peliharaan masyarakat setempat. Sedangkan tahun 2018 ini lain. Predatornya adalah tikus sementara korbannya adalah unggas baik anak ayam maupun burung puyuh.

Pada tahun 2016 itu, ungkap Sri Purwati, ketika anjing liar menyerang kambing, masyarakat langsung melaporkan kepada pemerintah. Atas laporan itu pemerintah menerjunkan tim ke lapangan untuk mendata jumlah hewan yang jadi korban keganasan anjing liar tersebut.

Dari pendataan yang dilakukan, katanya, didapatkan jumlah yang cukup mencengangkan. Total kambing peliharaan masyarakat yang dimangsai anjing liar sebanyak 54 ekor. Jika diuangkan dengan rata-rata Rp 3 juta per ekor, maka kerugian yang diderita masyarakat Desa Leworaja dan sekitarnya, mencapai hampir Rp 200 juta.

Tentang sebab musebab kejadian itu, Sri Purwati menjelaskan, pangkal masalahnya, adalah manajemen pemeliharaan ternak tersebut oleh masyrakat.

"Persoalannya ada pada cara beternak kambing. Umumnya di Lembata, kambing hanya diikat dibawah pohon. Makanya ketika ada predator, binatang peliharaan tersebut tentu akan sangat mudah diserang. Saat itu anjing liar tersebut hanya memakan hati dan jantungnya saja. Setelah itu, anjing liar tersebut pergi meninggalkan daging dan usus ternak itu," ujarnya.

Hal itu, lanjut Sri Purwati, persis sama dengan kejadian yang dialami masyarakat Lewoleba yang memelihara ayam buras dan yang beternak burung puyuh. Jadi untuk masalah tersebut, yang harus dilakukan masyarakat ialah memperhatikan kandang unggas. Selain itu memperhatikan juga kesehatan lingkungan. Cara ini untuk mencegah mewabahnya hama tikus itu menyerang unggas peliharaan warga. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved