Berita Maumere

Ojek 'Tiduri' Anak Dibawah Umur, Victor Sarankan Denda Adat

Penerapan hukum positif terhadap pelaku kekerasan anak di bawah umur belum sepenuhnya mendatangkan efek jera kepada pelakunya.

Ojek 'Tiduri' Anak Dibawah Umur, Victor Sarankan Denda Adat
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Victor Nekur, S.H 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, eginius mo'a

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Penerapan hukum positif terhadap pelaku kekerasan anak di bawah umur belum sepenuhnya mendatangkan efek jera kepada pelakunya.

Kolaborasi hukum positif sesuai UU Perlindungan Anak dan hukuman adat bisa ditempuh untuk memberikan perlindungan sosial kepada korban.

Usulan ini disampaikan praktisi hukum adat Sikka, Victor Nekur, S.H, kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (15/8/2018) menyusul munculnya kasus persetubuhan anak dibawah umur dilaporkan orangtua korban, Minggu 12/8/2018) sore di SPK Polres Sikka.

Baca: Calon Ketua Timses Jokowi-Maruf Mengerucut Tiga Nama, Bukan dari Parpol, Siapa Ya?

Dalam hukum adat Sikka, kata Victor, perbuatan pelaku yang menyetubuhi anak dibawah umur disebut higo ubun batar plaren, kiasan menerjemahkan tubuh gadis, `sengaja pucuk (higo ubun) dan memengal dahan yang ranum (batar plaren). Penyelesaiannya dilakukan oleh lembaga adat setempat.

"Pelaku didenda adat berupa bala rigi (ganding), bahar (emas), hoang (uang), dan tana kabor (tanah ditanami kelapa) sesuai dengan lokasi kejadian," kata Victor.

Menurut Vicktor, masih seringnya kekerasan seksual dan persetubuhan anak dibawah umur mengindikasikan hukum positif belum bisa menjamin kepatuhan masyarakat.

"Idealnya antara hukum adat dan hukum positif beriringan menjaga kepatuhan masyarakat. Dalam ilmu hukum itu ada hukum antargolongan jadi bisa dijadikan pendasaran untuk kerjasama antarhukum demi kesejahteraan masyarakat," kata Victor.

Diberitakan sebelumnya, dugaan persetubuhan dilakukan oknum tukang ojek JG (20) terhadap ME (14) terjadi sejak Sabtu (11/8/2018) sampai Minggu (12/8/2018).

Kepala Kepolisian Resort Sikka, AKBP Rickson Situmorang, S,IK, mengatakan, ayah korban BL mengadukan ulah JG ke SPK Polres Sikka, Minggu (12/8/2018) sore.

Kronologi dimulai Sabtu (11/8/2018) sekitar pukul 16.00 Wita. Bermula pertemuan ME dengan JG di depan Kantor Telkom Maumere, Jalan Moan Subu, Kecamatan Alok Timur.

Dari Jalan Moan Subu, JG membawa ME ke Warnet Satria. Satu jam kemudian, JG membawa korban ke Kompleks BK3D. Sekitar pukul 23.00 Wita, JG bersama ME berangkat menuju Napung Langir Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat menginap di rumah milik K. Di dalam rumah ini, keduanya melakukan hubungan badan satu kali.

Hari Minggu (12/8/2018) sekitar pukul 05.30 Wita, JG bersama korban menuju Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Sempat makan siang di Wolowaru, sekitar pukul 11.00 Wita, JG bersama korban kembali lagi ke Maumere.

Perjalanan JG dan ME akhirnya terhenti setelah seorang saksi ES bersama keluarga yang sedang mencari ME menyaksikan ME berada di Kompleks BK3D. Dari sini, akhirnya keluarga melaporkan peristiwa ini ke Polres Sikka. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help