Berita Prakiraan Cuaca

Perairan Selatan Pulau Sumba Berpeluang Tinggi Gelombang 4 Sampai 6 Meter

Kepala Badan Meteorologi, Klimatalogi, dan Geofisika (BMKG) Pusat, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat waspada ancaman gelombang tinggi

Perairan Selatan Pulau Sumba Berpeluang Tinggi Gelombang 4 Sampai 6 Meter
KOMPAS.com/ROSYID ASZHAR
Ilustrasi gelombang laut tinggi. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU----Kepala Badan Meteorologi, Klimatalogi, dan Geofisika (BMKG) Pusat, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat untuk waspada terhadap ancaman gelombang tinggi di sejumlah perairan wilayah Indonesia.

Dwikorita Karnawati menyampaikan itu melalui siaran pers yang dikirim melalui pesan WatsApp group Info BMKG Sumba, Selasa (31/7/2018) sore.

Kata Dwikorita, seperti diketahui, dampak gelombang tinggi melanda perairan Indonesia kembali menelan korban pada Minggu (29/7/2018) dengan terjadinya kecelakaan tenggelamnya Kapal Kayu Berkat Ilahi di Perairan Sape sekitar pukul 08.00 Wita.

Berdasarkan hasil analisis pola angin antara pukul 08.00-11.00 Wita dari arah Tenggara dengan kecepatan angin berkisar antara 18 sampai 27 km perjam dengan kategori resiko sedang. Selain itu, jika dilihat dari hasil analisis pemodelan gelombang, tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut berkiasaran antara 3.0 sampai 4.0 meter dengan kategori tinggi sampai sangat tinggi.

"Karenanya kami meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap gelombang tinggi, menunda penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda dan kapal-kapal terutama perahu nelayan dan kapal-kapal kecil agar tidak memaksakan diri melaut," ungkap Dwikorita.

Dwikorita juga mengatakan, guna mengantisipasi munculnya informasi simpang siur dan hoax, BMKG melalui web, aplikasi dan Twitter @infoBMKG akan terus menginformasikan perkembangan gelombang tinggi.

Lebih lanjut, Dwikorita menerangkan hasil analisis BMKG, adanya fenomena-Mascarene High yang cukup persisten di Samudra Hindia bagian Selatan di Barat Daya Australia yang diduga mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di wilayah Samudra Hindia khususnya selatan Jawa hingga selatan NTT.

Tinggi gelombang di wilayah tersebut didominasi oleh gelombang panjang atau swell yang dipropagasi oleh fenomena tersebut. Sedangkan meningkatnya ketinggian gelombang di Laut Banda dan Laut Arafuru di akibatkan adanya peningkatan kecepatan angin timuran hingga 36 km/jam

"Untuk tinggi gelombang 4 sampai 6 meter sangat berbahaya yang berpeluang terjadi di perairan Utara Sabang, perairan Barat Aceh, perairan Barat Simuelue hingga Mentawai, perairan Selatan Jawa Timur hingga Sumba dan perairan Selatan Pulau Sumba.

Sementara tinggi gelombang 2,5- 4 meter Berbahaya berpeluang terjadi di perairan Bengkulu, perairan Enggano, perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, perairan Selatan Banten hingga Jawa Tengah, Laut Sawu dan perairan perairan Sawu-P. Rote," kata Dwikorita.

Dwikorita juga mengatakan, masyarakat dihimbau untuk memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Untuk perahu nelayan waspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan ketinggian gelombang di atas 1.25 m, untuk Kapal tongkang waspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 1.5 meter.

Selain itu, Kapal Feri waspadai kecepatan angin lebih dari 21 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 2.5 meter, sedangkan kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar waspadai kecepatan angin lebih dari 27 knot serta ketinggian gelombang lebih dari 4.0 M.

"Nelayan di daerah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, serta daerah lainnya, khususnya yang tercantum dalam daftar Peringatan Dini di atas harap mempertimbangkan kondisi tersebut sebelum melaut,"pungkas Dwikorita. (*)


Penulis: Robert Ropo
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved