Warga Oenbit Laporkan Pembalakan Pohon Jati di Kawasan Hutan

Warga Desa Oenbit, Kecamatan Insana, Maksimus Noel dan? Leonardo Masaubat, melaporkan kasus pembalakan pohon jati

Warga Oenbit Laporkan Pembalakan Pohon Jati di Kawasan Hutan
POS-KUPANG.COM/DION KOTA
Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kabupaten TTU, Stefanus Kono 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | KEFA - Warga Desa Oenbit, Kecamatan Insana, Maksimus Noel dan? Leonardo Masaubat, melaporkan kasus pembalakan pohon jati di kawasan hutan yang dilakukan oleh Andreas Matao Fina, Yohanes Seran dan Damianus Neno kepada Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kabupaten TTU, Stefanus Kono, Senin (21/5/2018) siang. Kayu jati yang ditembang di kawasan hutan tersebut telah dijual.

Maksimus mengaku, penebangan kayu di kawasan hutan tersebut terjadi pada Kamis (26/4/2018) lalu.

Ia mengaku, sempat melarang para pelaku yang hendak memotong pohon jati, namun para pelaku tidak menghiraukan larangannya.

Baca: Satgas Yonif 743/PSY Lakukan Operasi Bibir Sumbing

Karena para pelaku tetap nekat mau memotong pohon jati, Maksimus lalu melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Desa Oenbit, Marselus Ta'oe. Namun sayangnya, bukannya mencegah aksi para pelaku, Kades Marselus justru mendukung aksi tersebut.

"Saat mereka (Andreas Matao Fina, Yohanes Seran dan Damianus Neno) memotong pohon jati di kawasan hutan pak desa ada, tetapi tidak mencegah aksi mereka. Karena kecewa dengan tindakan pak desa makanya hari ini kami lapor ke UPT Kehutan agar segera diproses para pelaku," ungkapnya.

Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kabupaten TTU, Stefanus Kono mengatakan, sudah menerima laporan terkait kasus pembalakan pohon di kawasan hutan tersebut.

Ia mengaku sudah menurunkan tim ke lapangan guna mengumpulkan data permula terkait kasus tersebut. Saat turun ke lapangan, tim kesulitan menemukan bukti kayu jati yang telah dipotong di kawasan hutan.

Tim yang sempat mengecek ke Oenopu tidak berhasil menemukan kayu jati yang diambil dari kawasan hutan tersebut.

"Kita sudah turun lapangan, tetapi belum berhasil menemukan bukti kayu jati yang sudah di tebang tersebut. Kita hanya menemukan sisa 21 pohon jati yang ditebang di kawasan hutan milik negara tersebut. Kita berencana akan melakukan mediasi dan klarifikasi dengan melibat sertakan pemerintah desa, para pelaku dan saksi yang melihat kejadian tersebut," jelasnya.

Ketika disinggung apakah kasus tersebut akan didorong ke rana pidana, Kono mengaku, akan segera berkoordinasi dengan penyidik ANS kehutanan guna memproses kasus tersebut. Saat ini dirinya masih mengumpulkan bukti awal dan kronologi kejadian sehingga penyidik ANS lebih muda dalam melakukan pemberkasan kasus tersebut.

"Kita kumpulkan dulu bukti awalnya, nanti baru kita laporkan ke penyidik ASN di kehutanan sehingga lebih muda diproses. Saya ingin tegaskan kami tidak mendiamkan kasus ini," pungkasnya. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved