Reaksi Amnesty Internasional Atas Putusan MA Tolak PK Ahok

Usman Hamid mengatakan, MA telah melewatkan kesempatan untuk mengakhiri hukuman tidak adil yang sedang dijalani Ahok.

Reaksi Amnesty Internasional Atas Putusan MA Tolak PK Ahok
KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA
Direktur Eksekutif Amnesty International perwakilan Indonesia, Usman Hamid, dalam diskusi di Jakarta, Minggu (14/5/2017). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyayangkan putusan Mahkamah Agung yang menolak peninjauan kembali (PK) yang diajukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Usman mengatakan, MA telah melewatkan kesempatan untuk mengakhiri hukuman tidak adil yang sedang dijalani Ahok.

"Kami sangat menyesalkan penolakan ini. MA kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hukuman tidak adil dengan menggunakan UU Penodaan Agama," ujar Usman di Kantor Amnesty Internasional Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018).

Baca: MA Cepat Sekali Putus PK Ahok, Hanya Butuh Waktu 19 Hari, Kuasa Hukum Sebut Sangat Aneh

Usman mengatakan, apa yang dilakukan Ahok dengan berpidato di Kepulauan Seribu merupakan bentuk pandangan secara damai yang dijamin dalam prinsip kemerdekaan.

"MA kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hukuman yang tidak adil dan memastikan perlindungan atas kemerdekaan berpendapat dan berkeyakinan di Indonesia. Praktik pemenjaraan dengan vonis penodaan agama tidak adil dan melanggar kewajiban HAM Indonesia dalam hukum internasional," ujar Usman.
Majelis hakim yang dipimpin Hakim Agung Artidjo Alkostar menolak peninjauan kembali yang diajukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Senin (26/3/2018).

Majelis hakim tidak mengabulkan seluruh alasan yang diajukan Ahok dalam PK tersebut.

Baca: PK Ditolak Hakim MA Artidjo Alkostar, Harapan Ahok Pupus. Lalu Kapan Ahok Bebas?

Baca: PK Ditolak Hakim MA Artidjo Alkostar, Harapan Ahok Pupus. Lalu Kapan Ahok Bebas?

Baca: Apa yang Dilakukan Ahok Setelah Bebas?

Halaman
12
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved