Guru Jangan Lagi Terapkan Slogan Diujung Rotan Ada Emas  

Para guru tidak bisa lagi menerapkan slogan di ujung rotan ada emas sehingga bebas melakukan kekerasan terhadap murid dengan alasan untuk mendidik.

Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/NOVEMY LEO
ANIAYA - CYL, siswa yang ditempeleng gurunya dan orangtuanya, Paulus OL, mendatangi LBH APIK NTT, Kamis (15/2/2018) malam. 

Laporan wartawan POS-KUPANG.COM, Novemy Leo

POS KUPANG.COM, KUPANG - Direktris LBH APIK NTT, Ansi D Rihi Dara, SH mengatakan, para guru tidak bisa lagi menerapkan slogan di ujung rotan ada emas sehingga bebas melakukan kekerasan terhadap murid dengan alasan untuk mendidik.

Ansi mengatakan hal itu dalam pertemuan fasilitasi perdamaian antara korban CYL dan orangtuanya, POL bersama pelaku, guru ARM di LBH APIK NTT, Kamis (15/2/2018) malam.

Menurut Ansi, kasus ARM, seorang guru yang menempeleng CYL, murid, merupakan pembelajaran berharga bagi tenaga pendidik di NTT. Ansi berharap, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi di sekolah itu dan di sekolah manapun di wilayah NTT ini.

Ansi mengatakan, UU Perlindungan Anak tentunya sudah diketahuioleh setiap tenaga pendidik termasuk ARM, namun impelemnetasinya belum 100 persen dilakukan. Terbukti dengan masih adanya kasus kekerasan di sekolah yang dilakukan guru ARM.

Baca: Ayah Siswa yang Ditempeleng Guru di Sekolah Sakit Hati Karena Hal ini

“Dalam praktek, pemberlakuan UU Perlindungan anak ini berat dilakukan karena melibatkan emosi. Seharusnya pendidik bukan saja mengajar tapi bisa menjadi teladan. Dalam proses KBM kemudian kita contohkan kepada anak anak cara mendidik kita dengan memukul, saya kira itu sesuatu yang sangat tidak tepat dilakukan,” kata Ansi, Kamis (15/2/2018) malam.

Baca: Keluar Dari Toilet, Murid SMA di Kupang Ditempeleng Guru Hingga Telinganya Mengeluarkan Ini

Ansi menambahkan, slogan diujung rotan ada emas lalu melegalkan dengan cara menampar dan memukul untuk mendidik anak-anak, itu tidak benar. Apalagi jika hal itu justru dilakukan oleh seorang guru konseling BK seperti ARM.

“Guru konseling itu dilatih khusus untuk melakukan penyadaran. Tapi jika sudah seperti ini maka bagaimana lagi?  Harkat martabat manusia, anak-anak dilecehkan dan diinjak injak. Hari ini tidak sama dengan dulu, system pendidikan sudah berubah,” kata Ansi. 

Baca: Guru yang Menempeleng Muridnya ini Bilang : Saya Pasrah

Menurut Ansi, setiap orang termasuk guru dan murid, harus saling menghormati dan menghargai. Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi derajatnya karena setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama.

“Yang berbeda hanyalah usia. Tapi anak kecil, remaja, dewasa, orangtua , semua memiliki harkat dan martabat yang sama. Posisi harus setara. Setiap orang tidak mau punya masalah. Tapi kalau sudah ada masalah maka cara menyelesaikan masalah menjadi penting. Bukan main tampar,” kesal Ansi. (*)

Baca: PPA Eagle Cs Kupang Laporkan Kasus Guru Tempeleng Siswa ke Aris Merdeka Sirait

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved