PUISI PUISI ALFRED TUNAME

Kau tetap berkibar melawan hembusan angin segala arah. Tak pernah rapuh tiang-tiapmu saat lambung perahuku

Bendera

Kau tetap berkibar melawan hembusan angin segala arah.
Tak pernah rapuh tiang-tiapmu saat lambung perahuku
Membelah ombak.
Belingsat perahu mengerjar pulau.
Kau lambaikan senyum pada belasut nyiur-nyiur tepian.
Busung dadamu menyambut lentum teriakan ombak. 

Tak malu kau melenggang
Di antara layar belang berbelabas
Kapal-kapal putih.
Kau tak belia di negeri ini.
Meksi ujungmu koyak, kau pemilik samudera ini.
Meski lambung perahuku pecah,
kau tetap berkibar.
Tiangmu dipeluk karang.
Sebab, daratan ini juga milikmu.
Merah dan Putih.

Borong, Oktober 2013

Bibirmu, Wae Bobo*

Pernah kubermain dengan julur-julurmu.
Membasuh wajah dengan liurmu.
Putih jernih kadang coklak di lidahmu.
Lendir bergelembungan kecil
selalu pecah saat memanjat leherku.
Kurasakan gairahmu
kala tubuh bermain-main dengan bibirmu.
Melilit tak lencang.
Mataku memerah liukanmu membungkusku.
Teranggah nafasku.
Celanaku jatuh
tercabik-cabik gairahmu yang menggelombang.
Hingga tubuhku kau lumuri lumpur dan pasir basah.
Tak risih aku selain  gelinjang geli-geli aneh.
Terpukau aku dengan geloramu.
Kupacu hasrat melumat bibirmu.
Lagi dan lagi. 
Biar kurasakan ludah-ludah tawar dan asin
di ujung juluranmu,
di sisa-sisa bibirmu, muara Wae Bobo.

Borong, Oktober 2013
*Nama sebuah sungai di Borong, Manggarai Timur

Dongeng

Dongeng patah di pelepah-pelepah pisang.
Kata-kata Pecah pada hamparan pasir, pesisir pantai.

Jenaka-jenaka masa kini menghias mekar se-taman kota.
Menghirup bebas aroma hiruk-pikuk saling tabrak.

Halaman
12
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help