Selasa, 19 Mei 2026

Kekeringan di Lembata

Iklan Mini di Tengah Hutan (1)

APALAGI musim kemarau saat ini, padang ilalang di sejumlah desa di Lembata sudah kering

Tayang:
Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM -- Para petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata harus berjuang keras menyelamatkan tanaman pertanian mereka dari ancaman api. Sebab padang rumput yang menghimpit tanaman ubi kayu, pisang, jambu mete dan tanaman pertanian/perkebunan lainnya selalu dibayang-bayangi dijilat api alias si jago merah.

APALAGI   musim kemarau saat ini, padang ilalang di sejumlah desa di Lembata sudah kering. Satu puntung rokok yang dibuang oknum masyarakat pada satu semak saja, bisa menyulut kebakaran besar seluruh desa, bahkan kecamatan. Bukan saja mengancam tanaman, api juga membayangi permukiman penduduk, terutama permukiman di padang ilalang dan semak belukar.

Mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan buruk oleh api yang merambat di padang, pemerintah Desa Beutaran, Kecamatan Ileape, memasang tulisan peringatan di sepanjang ruas jalan Beutaran-Tagawiti. Peringatan sederhana,  mudah dikenal karena berupa tulisan pada sepotong kertas kuarto yang ditempel pada batang pohon lontar, reok, jati dan pohon lainnya.

Mata pengendara yang lewat tidak dibiarkan beristirahat sejenak untuk kembali membaca peringatan pada batang pohon berikutnya.

Hanya menjelang belasan pohon, kertas putih kembali menyambut pandangan mata kita.  Di kiri kanan jalan dengan tulisan 'awas api'. Peringatannya singkat, "Awas api, areal rawan kebakaran! Padamkan puntung rokok sebelum dibuang! Terima kasih! Pemdes Beutaran."

Demikian peringatan di sepanjang jalan. Ratusan iklan. Tetapi peringatan sederhana Pemdes Beutaran, Desa Pemekaran Tagawiti itu cukup menarik perhatian siapa saja yang lewat. Bagaimana tidak, kertas-kertas seperti iklan mini itu ditempel di tengah hutan. Siapa yang membacanya?

Meski sederhana, iklan singkat pada batang-batang pohon itu menjadi perbincangan beberapa teman wartawan, yakni Wisnu Senior (TVRI), Marthen Kilok (Victory News) dan Alexander Taum (Media Indonesia).

Berawal dari kesepakatan spontan lalu kami berempat memutuskan menyusuri jalanan debu trans Beutaran Ile Ape, Lembata. Terik  menyengat kepala, dahi mengkerut mengimbangi hidung yang tersengat debu jalanan. Untuk tiba di wilayah tanjung, wilayah yang terkenal karena kekeringan.

Kembali pada tulisan peringatan Pemdes Beutaran, Awas Api. Cukup beralasan memang. Karena di sepanjang ruas jalan Beutaran-Tagawiti itu kami menemukan hamparan ilalang yang cukup luas.  Rumput-rumput sudah kering. Tanaman seperti enggan hidup karena ketiadaan air. Ada tanaman pisang, jati dan tanaman lainnya ludes terbakar. Ada sejumlah tanaman pisang yang luput dari kobaran api.

Apalagi ada petani yang masih membakar lahan mereka. Tentu saja harus hati-hati karena barisan rumput kering menanti rambatan api dari kebun petani. Tanaman layu dan kering. Sejumlah tanaman kurus, tak berdandan daun, apalagi bunga.

Ternak kambing menggunduli pohon-pohon. Pohon-pohon hanya tinggal batang. Ranting sudah dipotong untuk makanan ternak. Ternak kambing yang diikat menikmati rumput kering.

Wilayah ini memang dikenal masyarakat sebagai tanah yang "alergi hujan." Setiap tahun langganan kekeringan. Bagi yang menganggap ini biasa, kekeringan bukan topik yang menarik untuk dibahas. Tetapi bagi petani di sana ini merupakan pergulatan hidup yang luar biasa.

Kenyataan lain kekeringan wilayah yang akrab disebut daerah tanjung ini adalah debu. Debu jalan, lekat dengan daun-daun kering di sekitarnya. Sebelum tiba di perkampungan Desa Beutaran dan Tagawiti, kami  harus melalui debu tebal di sepanjang jalan.
Tiba di perkampungan, kami mengambil waktu sejenak untuk mengebas pakaian, rambut dan bulu hidung yang penuh debu. Kami disambut Kepala Desa Tagawiti, Daniel Daniel Kiti Langobelen.

Dalam perbincangan santai, Daniel mengungkapkan lirih masyarakat di sana. "Tanah ini tidak memberikan harapan pada petani. Bertani bagi kami seperti berjudi dengan kemarau dan main kucing-kucingan dengan hujan," tutur Daniel. (feliks janggu/bersambung)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved