Kamis, 11 Juni 2026

Guru dan Ibu Penuh Cinta

MENJADI seorang guru, selain merupakan perwujudan cita- cita, juga aplikasi dari sebuah panggilan hidup yang dijalani seseorang.

Tayang:
Editor: Sipri Seko
MENJADI seorang guru, selain merupakan perwujudan cita- cita, juga aplikasi dari sebuah panggilan hidup yang dijalani  seseorang. Sebab, menjadi guru yang baik dengan tugas memanusiakan orang lain mulai dari usia anak, adalah tugas mulia yang maha berat. Tidak cukup hanya bermodalkan kepandaian membaca, menulis,  menggambar dan berkreasi.

Apalagi menjadi seorang guru pada sekolah dasar luar biasa (SDLB). Tentu saja membutuhkan kesabaran dan kerja keras, terutama pendampingan intensif terhadap anak-anak yang kurang beruntungan dalam kehidupan ini.

Itulah deretan pengalaman hidup Yosina Mayang Giri, guru Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri (SDLBN) Waikabubak Kabupaten Sumba Barat, yang juga atlet tenis meja yang pernah beberapa kali mengikuti turnamen tingkat nasional di Jakarta. Sepintas sebagai atlet tenis meja, dia mengaku belum pernah meraih juara, tetapi dia bangga karena pernah mewakili Kabupaten Sumba Barat pada even nasional tingkat guru SDLB beberapa tahun lalu.

Ditemui Pos Kupang di sekolahnya di Weekarou, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Sabtu (21/4/2012), perempuan yang akrab disapa Ibu Yosni itu  mengaku sudah 26 tahun mengabdikan diri sebagai guru SDLBN Waikabubak.

"Saya menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 1986," ujar Yosni kelahiran Waingapu, Sumba Timur 48 tahun silam.

Ibu Yosni boleh dibilang memiliki kemampuan lebih dibanding guru SD lainnya di daerah itu. Ini terbukti, meskipun dia tidak memiliki pendidikan khusus untuk mengajar anak-anak cacat, namun bermodalkan ijazah sekolah pendidikan guru (SPG), dia sukses mengabdikan diri sebagai guru SDLB.

"Semua teman guru seangkatan saya waktu itu keberatan diminta mengajar anak-anak SDLB. Saya memahami sikap teman-teman saya saat itu, karena tingkat kesulitan cukup tinggi dibanding mengajar anak-anak normal pada umumnya.

Tapi bagi saya, keputusan  mengabdi di SDLB merupakan pilihan hidup. Karena saya memiliki rasa kecintaan terhadap mereka yang kurang beruntung dalam hidup ini," ujar Yosni.

Menurut Yosni, satu resep yang selalu tertanam dalam hatinnya sebagai guru SDLB adalah menjalani tugas sebagai guru dan ibu yang penuh cinta kepada anak-anak yang cacat fisik, cacat pendengaran, mental, spikis dan lain-lain. Anak-anak itu, katanya, berkebutuhan khusus sehingga mereka membutuhkan seorang pendidik yang sabar dan tidak mengenal lelah untuk membimbing dan mendidik mereka menjadi pandai untuk  kehidupan di bumi ini.

Istri dari Setyo Hartono dan ibu dari Handi Prasetyo, Rian Priantono dan Resakusumo Prasetyo ini mengaku, lebih semangat mengajar anak-anak tuna rungu. Saat ini, katanya  sudah ada alat peraga untuk mempermudah anak-anak mengenal huruf, kata dan kalimat. Juga alat bantu dengar, sudah mendesak diperlukan untuk memperlancar pendengaran anak-anak saat mengikuti proses belajar mengajar. Namun, peralatan itu masih minim di sekolahnya Karena itu, dia hanya mengandalkan peragaan fisik seperti mimik, peragaan gambar dan lain-lain.  Syukur, dalam sehari pelajaran, seorang anak bisa menghafal satu kata, satu huruf dan mungkin juga satu kalimat.

Meski demikian, dirinya tak pernah menyesal, bosan ataupun jenuh mengabdi di sekolah yang berkebutuhan khusus seperti itu. Justru hal itu membuatnya semakin enjoy dan semakin mencintai anak-anak itu. (petrus piter)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved