Kamis, 11 Juni 2026

Maksimalkan Potensi Air di Sabu

Program pemerintah Kabupaten Sabu Raijua untuk menghijaukan wilayah itu bukanlah hal yang mustahil

Tayang:
Editor: Alfred Dama
zoom-inlihat foto Maksimalkan Potensi Air  di Sabu
POS KUPANG/ALFRED DAMA
SUMBER AIR--Bupati Sabu Raijua, Ir. Marthen Dira Tome, melihat salah satu sumber air yang berpotensi untuk pengembangan pertanian di Sabu Barat belum lama ini.
POS KUPANG.COM --- Program pemerintah Kabupaten Sabu Raijua untuk menghijaukan wilayah itu bukanlah hal yang mustahil. Curah hujan yang minim bukan menjadi penghalang untuk menanam berbagai aneka tanaman untuk benar-benar menjadikan wilayah tersebut hijau

Pengajar Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandiri Kupang, Suter (Sr) Susilawati Cicilia Laurentia yang melakukan studi ke Sabu mengatakan, karakteristik sungai di daerah semi arid (Pulau Sabu dan Pulau Raijua) sebagian besar merupakan sungai musiman.

Artinya aliran air yang ada hanya pada saat hujan turun, dan setelah hujan berhenti, maka akan kering kembali. Hal ini juga dipengaruhi oleh karakteristik hujan dan topografi wilayah, dimana hujan yang jatuh mempunyai karakteristik sebagai hujan badai sehingga aliran air limpasan permukaan sangat besar dan cepat terbuang menuju ke laut.

Karakteristik ini mengakibatkan bahwa pada musim kering tidak ada ketersediaan air dari aliran permukaan, juga dalam aliran air tanah karena air kurang memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Untuk memperbaiki situasi ini, maka  diperlukan adanya suatu usaha konservasi air berupa memasukkan air hujan yang jatuh sebanyak mungkin ke dalam tanah sebagai imbuhan akan cadangan air tanah.

Di wilayah Sabu dan Raijua, tidak banyak terdapat mata air yang cukup besar. Mata air yang ada hanya kecil kurang dari 10 liter per detik. Kebanyakan mata air ini tertampung dalam suatu kolam.

Daerah yang mempunyai mata air cukup besar adalah di wilayah Sabu Timur di mana terdapat pertanian padi sawah. Di Raijua, mata air yang ada bermuara di daerah pantai sehingga sulit dimanfaatkan, karena membutuhkan pompa untuk menaikan air yang ada agar dapat dimanfaatkan.

Di wilayah Pulau Sabu dan Raijua telah dikembangkan banyak embung untuk memenuhi kebutuhan air. Dari kajian, analisis dan evaluasi pengembangan sistem embung, khususnya di Pulau Sabu dan Pulau Raijua, yang meliputi tinjauan sistem prasarana, operasi dan pemeliharaan, kelembagaan, pemberdayaan masyarakat, sistem informasi dan analisis nilai manfaat, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan sistem embung di Pulau Sabu dan Pulau Raijua memberikan nilai manfaat yang positif.

Namun secara teknis sistem prasarana perlu beberapa perhatian terhadap perencanaan target layanan yang tepat, kondisi pengisian air di embung dan kecepatan laju sedimentasi. Sistem operasi dan pemeliharaan kurang diperhatikan sehingga embung setelah beberapa waktu yang pendek tidak berfungsi lagi. Begitu pula sistem kelembagaan yang kurang jelas karena keterbatasan sumber daya manusia.

Dari bebagai hal di atas menurut Sr.Susi konservasi pengelolaan air bisa dilakukan dimana diperlukan beberapa pembenahan.
Langka pertama yang harus dilakukan adalah menyadarkan dan mengajak masyarakat untuk mau melakukan hal-hal teknis terkait dengan pengelolaan air.

Caranya, masyarakat diajak untuk memodivikasi tanah dan membuat semacam teras sering untuk menjebak air pada musim hujan. Dengan teknik khusus, cara ini bisa mengoptimalkan penyerapan air pada musim hujan. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan penananam pohon-pohon tertentu.

Dengan teknologi ini, maka air tidak langsung mengalir ke laut, melainkan tersimpan dibawa permukaan tanah. Dan, ini bisa dimanfaatkan untuk menanam. Bila cara ini konsisten dilakukan oleh masyarakat maka, dalam waktu sekitar 10 tahun, Sabu bukan lagi daerah yang tandus. "Saya yakin, kalau ini bisa berjalan maka dalam 10 tahun, Sabu sudah hijau," jelasnya. (alf/*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved