Cerpen Djho Izmail
Suatu Pagi di Kelimutu
SUATU pagi, cuaca mendung dan diguyur hujan gerimis. Namun, ketika matahari mulai menampakan senyum keperkasaannya, cuaca berubah cerah dan semarak. Bentangan indah itu pun ditambah dengan hiasan rerumpunan arngoni, tumbuhan endemik yang tumbuh subur di sekitar puncak Gunung Kelimutu.
SUATU pagi, cuaca mendung dan diguyur hujan gerimis. Namun, ketika matahari mulai menampakan senyum keperkasaannya, cuaca berubah cerah dan semarak. Bentangan indah itu pun ditambah dengan hiasan rerumpunan arngoni, tumbuhan endemik yang tumbuh subur di sekitar puncak Gunung Kelimutu.
Para Mosalaki Pu'u mulai berdatangan, ada yang sesekali melirik rumpun Vaccinium varingiaefolium. Hari itu ritual Pati Ka Ata Mata, upacara adat memberi makan bagi arwah leluhur atau orang yang sudah meninggal. Masyarakat sekitar dan para wisatawan Nampak menyaksikannya. Ada yang tak mau ketinggalan menjepret dengan kameranya. Prosesi ritual diawali sembilan mosalaki yang mewakili sembilan suku dengan pakaian tradisional diberi sesaji untuk dibawa ke Dakutatae, sebuah batu alam sebagai tugu tempat sesaji. Sesaji yang dipersembahkan berupa nasi, daging hewan kurban (babi), moke, rokok, sirih pinang, dan kapur.
Prosesi diakhiri dengan makan bersama sesajian sebagai tanda bersukaria bersama dengan para leluhur. Setelah kenyang dan dikenyangkan mereka mulai bergandengan tangan untuk ber-gawi, menari bersama para mosalaki tersebut dengan mengelilingi tugu batu.
Dari mitos yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat Ende Lio, kawasan puncak Danau Kelimutu merupakan tempat tinggal atau berkumpulnya para arwah orang yang sudah meninggal. Pintu gerbang (pere konde) Danau Kelimutu dijaga oleh Konde Ratu, sang penguasa. Di puncak Gunung Kelimutu terdapat tiga kawah danau, Tiwu Nua Muri Koo Fai, Tiwu Ata Polo, yang diyakini sebagai tempat berkumpul orang jahat. Danau ketiga, Tiwu Ata Mbupu, berwarna tua hijau kehitam-hitaman yang merupakan tempat berkumpulnya arwah orang tua. Seorang ibu menjelaskan dengan sabar kepada anaknya yang berusia sekitar sepuluh tahun yang terus bertanya.
Perhatian semua pengunjung tertuju pada ritual adat tersebut. Tidak demikian dengan seorang gadis. Namanya Shanty. Shanty cuma menatap pasrah pada ketiga kawah tersebut. Matanya terus menatap di danau warna hijau muda atau danau tempat arwah anak muda (Tiwu Nua Muri Koo Fai). Tatapan yang penuh arti, serasa ada kenangan yang tak harus di lupakan dengan danau itu. Senyum kecut menyeruak dari bibir mungilnya, sambil punggung tangannya menggosok kedua bola matanya. Ia kusuk menatap dengan mata berbinar.
***
Pagi di hari sabtu bulan november adalah hari cerah dengan udara segar di kota itu. Ende setahun yang lalu. Ende setahun yang lalu ialah Ende yang sangat bersahaja dengan panorama alam kota kecilnya yang terletak diperbukitan nan hijau. Ende yang cerah dengan laut birunya itu membuat orang selalu mendambakan akan lezat dan empuknya ubi kayu Nuabosi-nya tersebut.
Daerah dengan kontur berbukit-bukit itu adalah ende yang keberadaannya dijaga oleh tiga buah gunung Ia, Meja dan Wongge yang seolah kokoh melindungi ende. Ende menjadi potret keindahan kota perbukitan yang jarang ditemukan jalanan kota yang tak menanjak. Ende tak rata.
Ende selalu bersahaja dan bersahabat menantikan kedatangan para nelayan yang baru pulang melaut semalam, berharap tangkapan ikan hari ini melimpah sehingga masyarakatnya tak perlu lelah menunggu ikan pasokan dari Maumere dan Larantuka. Sedang di dapur mama-mama telah menyiapkan uwi ai ndota, makanan khas dari ubi kayu yang paling sedap dengan ikan kuah.
Ende bisa dikatakan menjadi tempat lahirnya para seniman. Ende setahun lalu dibuat gemuruh oleh sebuah lagu. Di sudut-sudut kota, di tempat kos-kosan, di rumah-rumah warga di emperan toko selalu bergema lagu. Dan Jamila menjadi ikon musik Ende modern yang layak diangkat menjadi musik hits di blantika musik nusantara.
Jamila menjadi ciri khas bahwa inilah kreasi anak muda Ende dan inilah musik dari Ende.
Ende layak diperhitungkan sebagai daerah religius dengan beragam agama, tetapi jauh dari percecokan atas nama agama. Masyarakatnya yakin mereka dilahirkan dari Yang sama, sehingga konflik hanyalah sebuah tidakan bodoh yang tidak manusiawi. Penghargaan terhadap insan sebagai makhluk mulia yang mempunya hak asasi tercermin di sana.
Tak hanya itu saja, Ende juga adalah sebuah nama. Ende adalah sejarah. Ende juga kedamaian, tempat bernaung berbagai macam agama besar indonesia. Ende adalah kedamaian sejarah yang terkenal denga tempat pengilhaman Pancasila oleh The Founding Father kita, Bung Karno.
Ende adalah ketenangan sehingga Bung Karno dengan tenang bersemadi menghasilkan suatu ilham yang sangat bermakna untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Ende adalah kota lahirnya pancasila.
Ende adalah sejarah, maka Ende menjadi sebuah nama yang seharusnya tak boleh dilupakan dalam sejarah. Sejarah kemerdekaan bangsa indonesia. Suatu bangsa yang lebih dikenal oleh masyarakat internasional sebagai bangsa korup. Ende menjadi nama tetapi hanya untuk ende sendiri karena sejarah yang dimaksudkan oleh orang-orang lebih berpusat pada sejarah tertulis ketimbang sejarah lisan yang mungkin dianggap sebagai bualan para pelipur lara.
Ende yang cerah di bulan November pada hari sabtu itu terlihat gambaran berbagai lakon manusia. Terekam di sudut taman kota, seorang pemuda tersenyum menatap kekasihnya yang duduk di samping kirinya. Dibidiknya sekali panorama laut pagi dengan kamera digital.
Gadis yang bernama shanty itu hanya menatap kekasihnya. Belum ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mungkin mereka telah merenda cinta tanpa kata. Cuma elusan rambut dari pemuda itu kepada kekasihnya. Rasanya tak rela membiarkan akhir pekannya di awal november itu berlalu begitu saja, tanpa ada kekasih hati yang menemani. Lagipula mereka baru bertemu lagi setelah tiga bulan yang lalu, karena jarak yang memisahkan. Kekasihnya bekerja sebagai salah satu staf di kantor kecamatan Nangapanda, dan ia sendiri harus berkutat dengan tuntutan cuap-cuap di RSPD Ende.
Deburan ombak dari pantai bagaikan musik alam yang tak pernah mati. Gulungan ombak pun seolah tak lelah saling mengejar. Hamparan pasir hitam menjadi tempat sasaran hempasan. Sesekali pekiakan elang laut yang kecewa tak dapat menyambar ikan yang asyik berenang bermain ombak. Pasangan kekasih itu masih diam. Bisu layaknya pulau ende dihadapan mereka. Entah kenapa hari ini suara menjadi sangat mahal di antara mereka, padahal sore kemarin mereka telah sepakat lewat telepon untuk bertemu pagi ini, di tempat ini.
Pemuda itu berdiri, Ia beranjak pergi. Di punggungnya tergantung ransel hitam sedang ia juga menggendong sebuah kamera. Dibidiknya sekali lagi panorama laut lalu pergi meninggalkan gadisnya sendiri. Tangannya melambai pertanda perpisahan.
Shanty berlari mengejarnya. Ia tak mau paginya dalam kesendirian walau ia harus berdiam diri. Mereka lalu jalan beriringan. Kata tak jua keluar dari mulut mereka. Tak ada gandengan tangan mesra layaknya orang yang sedang berpadu asmara di keabadian pantai. Mereka telah terhanyut oleh rasa yang dihasut oleh teman. Gosip akan perselingkuhan.
"Minggu depan kami ke Danau Kelimutu" lelaki lelah dengan kebisuan, buka suara.
"Untuk apa" kekasihnya tegas.
"Sekadar jalan-jalan"
"Kamu, kan sudah enam kali ke sana. Lebih baik di sini bersamaku."
"Ini demi, teman-teman kantor."
"Demi selingkuhan kamu??"
"Tidak ada yang lain, selain kamu."
"Ah, bohong. Kamu biarkan hati ini perlahan hancur dengan kebisuan kamu tadi." " kamu berubah." Shanty berlari meninggalkan kekasihnya. Jauh bersama amarah. Tak dihiraukan suara kekasihnya yang memanggilnya.
***
Setahun yang lalu di hari sabtu di awal november, mereka bisu untuk beberapa lama. Kata terlalu mahal untuk untuk diucapkan. Amarah cemburu dan tuduhan perselingkuhan membuat mereka diam. Bungkam tak bersuara.
Setahun yang lalu juga ia marah dengan kekasihnya di hamparan pasir hitam pantai ende. Hamparan pasir yang terus diperjuangkan untuk menjadi batrang tambang. Pasir itu akan ditambang untuk dijadikan barang tambang. Pasir itu mengandung salah satu unsur barang tambang. Besi itu pasir, pasir besi.
Setahun yang lalu kekasihnya datang ke sini. Ia datang bersama rekan sekantornya untuk sekedar bertamasya ke danau paling fenomenal. Mereka berkunjung ke danau tiga warna kelimutu yang terkenal seantero jagat itu.
Setahun yang lalu berita duka datang dari sini. Dari danau ini. Tiwu Nua Muri Koo Fai. Kekasih hatinya meninggal di sini pada November bersemi tahun lalu. Meninggal setelah melompat ke dalam kawah danau. Kekasihnya mati benuh diri di sini. Mati dengan membawa amarah. Mati karena amarah.
Dan hari ini terjadi hal lain. Kekasih dari lelaki yang mati bunuh diri di danau ini datang. Datang dengan luka batin. Datang bersama amarah yang belum sempat dimaafkan. Matanya terus menatap di danau warna hijau muda atau danau tempat arwah anak muda, Tiwu Nua Muri Koo Fai. Tatapan yang penuh arti, ada kenangan yang tak harus di lupakan dengan danau itu. Kenangan getir yang menyayat hati. Senyum kecut menyeruak dari bibir mungilnya, sambil punggung tangannya menggosok kedua bola matanya. Ia kusuk menatap dengan mata berbinar.
Ia menangis meratapi nasib. Ratapan kepedihan akan kekasih yang mati bunuh diri karena amarahnya. *
Depergan kozt, 20 Des 2011