Cerpen Herry Jani
Selamat Natal Pastor Preman
DUA puluh empat Desember 2011. Lolongan anjing jantan mongoyak sunyi pagi, mengusir pulang jiwa dari alam mimpi. Bunga tidur pun gugur seketika. Aku terjaga, kantuk pamit. Lolongan anjing seperti alarm pagi. Semenjak mewabahnya penyakit tetelo dua bulan lalu memang praktisnya anjing yang mengambil alih tugas ayam untuk membangunkan warga kampung.
DUA puluh empat Desember 2011. Lolongan anjing jantan mongoyak sunyi pagi, mengusir pulang jiwa dari alam mimpi. Bunga tidur pun gugur seketika. Aku terjaga, kantuk pamit. Lolongan anjing seperti alarm pagi. Semenjak mewabahnya penyakit tetelo dua bulan lalu memang praktisnya anjing yang mengambil alih tugas ayam untuk membangunkan warga kampung.
Di sela lolongan panjang menyayat hati itu, kudengar kakek menyeret langkah. Dalam hitungan detik bunyi langkahnya semakin jelas di telinga. Aku tahu dia sedang berjalan ke arah tempat tidurku. Apalagi aroma Djitoe-nya sudah mendahuluinya beberapa detik lebih cepat. Aku pura-pura nyenyak. Bau rokoknya kian menyengat.
"Nelis, Nelis... bangun!" Suaranya lebih tegas dari biasanya. Kali ini nadanya bukan mengajak seperti hari-hari kemarin, tapi memerintah. Aku menggeliat pelan tanpa membuka mata, sekadar memberi tanda bahwa aku mendengar suaranya.
"Hari ini kamu ke pastoran untuk menjemput romo.
" Aku tersentak kaget antara percaya dan tidak. Bagaimana mungkin kali ini kakek mempercayakan aku menjemput romo. Padahal, selama ini kakek selalu bilang bahwa aku tak layak menjemput romo lantaran tato yang meliliti beberapa bagian tubuhku. Tato baginya identik dengan penjahat. Lebih lagi katanya tato perempuan tak berbusana yang melekat di leherku sangat tidak sopan kalau sampai dilihat romo.
"Kek, kenapa kali ini kakek menyuruh aku menjemput romo?" Aku coba menanggap dalam nada setengah percaya.
"Kamu pergi saja. Hari ini kakek punya urusan lain."
"Tapi bagaimana dengan tato-tato ini?" Sambarku sambil menunjuk gambar vulgar yang sudah bertengger lebih dari lima tahun di leherku.
"Kamu usahakan entah dengan cara apa saja agar tatonya tak kelihatan." Kakek mengakhiri mandatnya sambil pergi tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk bersuara lagi. Ruang diskusi ditutup dini. Aku mengerti dia pasti benar-benar sibuk. Selama puluhan tahun menyandang predikat guru agama kampung, baru kali ini dia menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Baginya, menjemput dan mengantar romo dengan berjalan kaki sepanjang delapan kilometer sungguh membahagiakan. Mungkin karena itu juga gaya hidup kakek banyak mengadopsi gaya hidup romo. Waktu doanya rutin dan teratur. Tak heran, banyak orang usil memanggilnya Opa romo. Apalagi pascakematian nenek, sapaan itu seakan semakin beralasan.
Sebuah ide cemerlang tiba-tiba berpijar di balik batok kepalaku. Aku harus menutup tato dengan memakai jaket milik kakek yang ada bulu domba pada bagian kerahnya. Jaket itu katanya jaket musim dingin pemberian seorang pastor Belanda. Tapi tak apa, demi kelayakan di depan romo kali ini jaket itu kupakai di tengah garangnya sengatan matahari kemarau panjang. Anggap saja orang tak akan berpikiran aneh tentang aku. Yang penting bulu-bulu domba itu bisa menutup tatoku.
Tanpa meminta restu dari pemiliknya kusambar saja jaket itu dari gantungannya lalu pergi. Keputusanku bulat, jaket baru dipakai selama berjalan bersama romo. Memang ada kemungkinan bahwa orang akan menganggap kewarasanku hilang gara-gara jaket itu.
Tapi selama ada romo di samping kemungkinan itu tak akan menjelma menjadi kenyataan. Alasannya sederhana. Perhatian orang pasti selalu terfokus pada romo. Kalau aku berjalan di samping romo, keanehan busanaku bukanlah umpan yang mampu mengail perhatian banyak orang. Begitulah lazimnya di kampungku, romo selalu jadi pusat perhatian publik, atau sedikit lebih nyentrik, dalam pandangan orang kampung romo itu artis gereja.
Namun yang tetap menjadi soal adalah bagaimana aku harus menjelaskan seandainya romo juga terganggu dengan busanaku yang tidak selaras tuntutan alam. Bagaimana aku mesti menjawab kalau romo bertanya mengapa aku memakai jaket padahal untuk hawa sepanas itu manusia normal hanya membutuhkan sepotong T-shirt tipis atau kalau perlu hanya singlet.
Sepanjang jalan isi kepalaku sibuk mencari siasat bagaimana bisa mengalihkan perhatian romo. Sayangnya, kira-kira empat kilometer sebelum tiba di pastoran paroki, tepatnya di atas sebuah jembatan darurat sebuah sungai kecil, pikiranku berhenti bekerja. Perjumpaan dengan seorang asing di atas jembatan itu membuyarkan semuanya.
Selain karena orang itu baru pertama kali kulihat selama hampir dua puluh tujuh tahun aku hidup, juga karena penampilannya menurutku di luar batas kewajaran. Rambut keriting dengan panjang sebahu tampak tak terurus. Boleh jadi sisir akan patah kalau dipaksa menyisir rambutnya. Di sana sini ada tato, bahkan jauh lebih banyak dari yang tergambar di tubuhku. Gambarnya pun bervariasi, hampir segala jenis binatang buas terlukis pada kulitnya yang coklat kehitam-hitaman. Aku sempat berpikir kalau saja kakek melihat orang asing ini, pasti kakek langsung memfonis dia sebagai orang paling terkutuk di bawah matahari. Belum lagi berewok yang dibiarkan tumbuh bak hutan lindung yang sengaja dikonservasi pemerintah. Mungkin hanya satu kata yang tepat untuk melukiskan seluruh penampilannya: beringas!
Tapi agaknya berlebihan juga kalau dibilang beringas. Toh senyum selalu mekar di balik rimbunan kumis dan janggutnya. Sebuah keramahan luar biasa terpancar di sana. Aku bingung. Baru kali ini kulihat tampang seseorang kontras dengan kelakuannya. Ia membuka percakapan.
Gaya bicaranya ramah dan santai, seolah-olah ia sudah mengenal aku sebelumnya. Bahkan dia sempat menawarkan rokok yang sudah dia isap setengahnya, gaya khas anak muda. Tapi aku menolak dengan alasan batuk. Basa-basinya kemudian berujung pada pertanyaan entah berapa kilometer lagi ia bisa sampai ke kampung kami.
"Sekitar empat kilometer lagi," jawabku singkat namun tetap memamerkan ekspresi ramah, biar dia tidak merasa bahwa keramahannya bertepuk sebelah tangan. Ia terdiam sesaat dengan dahi berkerut. Mungkin ia memikirkan berapa kilo kalori yang harus ia buang lagi untuk jarak sejauh itu.
Ingin aku bertanya tentang maksud kedatangannya ke kampung, namun kuurungkan saja niat itu. Aku tak mau waktuku terlampau banyak dirampok pria asing yang kelihatan senang berbasa-basi itu. Sekali lagi ia ingin angkat bicara, namun lekas kupotong dengan alasan bahwa aku punya urusan mendesak di kampung seberang sungai. Kali ini aku melanggar pesan kakek bahwa aku tak pernah boleh memotong pembicaraan orang. Ia akhirnya mengalah. Wajahnya menyisakan kesan tidak puas dengan informasi yang aku berikan.
Terbebas dari gangguan pria asing itu, otakku kembali sibuk memproduksi ide-ide jitu bagaimana harus berhadapan dengan romo. Sayangnya ide logis tak kunjung terlintas di benak hingga gonggongan anjing menyapaku di depan pagar pastoran. Secepat kilat aku mengenakan jaket musim dingin itu sebelum romo muncul di pintu depan. Saat menekan bel di samping pintu, perasaanku sungguh tak tenang. Aku ingat perasaan seperti ini pernah kualami ketika menjadi penendang gol penentu dalam adu pinalti laga final turnamen sepak bola merebut piala kepala desa. Menegangkan.
Romo muncul dari balik pintu dengan wajah berkerut. Mukanya bengkak persis petinju yang baru saja mendapat pukulan telak. Tampaknya bel mengganggu ketenangan orang nomor satu di paroki kami itu.
"Kamu mau apa?" Ia langsung menghujamku dengan pertanyaan tanpa memberi waktu bagiku memasang kuda-kuda untuk menjawab. Aku kalang kabut. Panik. Gugup. Gagap. "Aku...aku..mau menjemput romo untuk misa di kampung kami, kampung Ngaet."
Wajahnya tiba-tiba cerah. Senyum terukir di kedua sudut bibirnya walau tidak seramah senyuman pria di atas jembatan tadi. Aku lega, namun heran juga dengan perubahan mimik wajah yang terjadi secepat itu.
"Romo senang ada anak muda yang peduli dengan urusan gereja." Kalimat itu menjawab kebingunganku. Romo ternyata senang kalau ada anak muda sepertiku terlibat dalam kegiatan gereja, termasuk menjemput pastor. Saat ia diam sesaat, jantungku berdenyut dua atau bahkan mungkin tiga kali lebih cepat dari biasanya. Aku cemas ia akan mengorek alasan mengapa aku memakai jaket tebal di siang hari.
Tapi syukurlah yang kucemaskan tak terjadi. Mungkin karena terlampau senang dengan kehadiranku membuat romo lupa mengomentari jaket yang melekat di tubuhku. Atau bisa jadi romo maklumi saja, dengan alasan bahwa rendahnya tingkatan pendidikanku membuat aku buta untuk memilih pakaian yang cocok sesuai tuntutan situasi. Entahlah, yang pasti romo tak menyinggung sedikit pun soal jaket.
"Romo yang bertugas di kampung kamu sudah berangkat dua jam lalu. Dia romo yang sedang berlibur di paroki kita. Apa kamu tidak berpapasan dengannya di jalan? Tadi sebelum pergi saya sudah mengingatkan dia agar selalu memperkenalkan diri kepada siapa saja yang dijumpai di jalan."
Aku menggeleng. Tak ada seorang pun dari mereka yang kujumpai di jalan mengaku dirinya romo. Orang bertampang atau berpenampilan seperti romo juga tak kujumpai. Memang ada beberapa muka asing tapi bukan romo. Mereka hanya pedagang keliling yang menjajakan barang dagangan dari kampung ke kampung. Pria berewokan di atas jembatan itu lebih mustahil lagi. Mana ada romo berpenampilan urak-urakan seperti dia. Buang-buang waktu saja kalau aku ceritakan kepada romo tentang perjumpaan dengan orang itu.
"Jadi, bukan romo yang memimpin misa malam Natal di kampung kami?" Pertanyaanku sebenarnya tak perlu, toh semuanya sudah jelas. Aku hanya berusaha melenyapkan ruang bisu di sela percakapan kami, jangan sampai itu menjadi celah bagi romo untuk mengomentari jaketku. Romo mengangguk. Pada wajahnya tergambar kecemasan. Aku tahu ia cemas kalau-kalau romo yang ia utus tadi tersesat.
"Kamu harus segera menyusulnya sekarang, jangan sampai dia sudah tersesat." Tanpa banyak komentar aku turuti saja perintah romo walaupun sebenarnya kadar karbohidrat dan air dalam tubuhku tak cukup lagi untuk menjalankan tugas berat itu. Demi romo, lapar dan haus diabaikan saja. Kutanya setiap orang yang kujumpai di jalan, mungkin ada yang bertemu dengan seorang romo baru.
Semuanya menggeleng. Sayangnya aku lupa menanyakan ciri-ciri romo baru itu kepada romo pastor paroki sehingga membuat aku sendiri bingung ketika orang-orang yang kutanya justru balik bertanya tentang ciri-ciri orang yang kucari. Semua kampung tetangga kudatangi. Aku tak mau pulang dengan tangan hampa. Bukan hanya supaya kelelahan terbayar, tetapi lebih lagi supaya kakek tidak marah. Tapi semuanya sia-sia.
Perayaan malam natal tinggal sejam lagi. Matahari sudah kabur digertak gelap malam. Dalam sebuah kepasrahan total aku putuskan untuk kembali ke kampung. Aku siap menerima apa pun yang dikatakan dan dilakukan kakek atas diriku. Di depan pintu rumah seluruh badan gementar, mirip seorang panglima perang yang datang memberitahu raja bahwa banyak anggota pasukannya tewas di tangan musuh.
Dengan penuh keraguan kupanggil nama kakek berulang-ulang namun tak ada sahutan. Kucari dia di kamar, dapur, halaman belakang, di kandang kambing, tapi tak kutemukan. Untunglah tersisa satu petunjuk yang membuktikan bahwa ia sudah pergi: baju batik dan topi kopiah bermotif kain adat daerah kami raib dari tempatnya. Aku langsung tahu sekarang ia di kapela. Sejak dulu baju batik dan topi itu memang khusus untuk ke kapela. Tapi siapa yang memimpin perayaan malam Natal ini? Apa kakek nekat saja menggantikan peran romo?
Seribu tanya yang bercokol di benak memaksa aku untuk segera menyusul kakek ke kapela. Dari jauh sayup kudengar orang mengumandangkan lagu-lagu khas Natal. Aku semakin penasaran. Kubayangkan kakek berdiri di balik altar dengan wajah berseri.
Tiba di pintu kapela aku tak sabar lagi menyaksikan peristiwa langka itu. Sepasang mataku langsung membidik seorang pria yang berdiri di balik altar. Aku terkejut bukan kepalang. Pria di balik altar ternyata bukan kakek. Ia tak lain adalah pria di atas jembatan tadi. Sekali lagi kupicingkan mata untuk memastikan penglihatanku sendiri. Hasilnya tetap, pria di atas jembatan itu kini berdiri dalam balutan kasula kuning keemasan.
"Jadi...Dia ini pastor? Dia pasti pastor gadungan." Batinku berteriak tak percaya. Ingin rasanya aku pergi ke altar dan mengamati dari dekat gerak-gerik pria itu, tapi aku malu juga. Perayaan malam itu tak kuikuti dengan sepenuh hati. Aku hanya menunggu perayaan berakhir dan ingin menginterogasi pria itu habis-habisan. Sayangnya sebelum perayaan usai ia angkat bicara. Aku mendengarnya dengan penuh ketelitian.
"Saudara-saudariku, mungkin ada yang bertanya siapa saya sebenarnya. Saya pastor Saverius. Saya merayakan Natal di kampung ini atas permintaan pastor paroki. Saya sebenarnya bertugas di sebuah paroki di luar negeri dan saat ini saya sedang berlibur. Saya tak perlu menyebut nama negeri itu karena mungkin terlalu sulit untuk diucapkan."Katanya sambil terkekeh, diikuti gelak tawa semua yang hadir.
Aku mulai menyesal karena sudah terlalu jauh mecurugainya. Dia maju beberapa langkah lagi, mencari tempat yang lebih terang, tepat di samping lilin yang bernyala. Setelah diam sesaat, dia bersuara lagi. Hatiku kian tertusuk duri penyesalan.
"Mungkin ada juga yang bertanya mengapa penampilan saya jorok seperti ini dan mengapa ada banyak tato di seluruh tubuhku. Sebenarnya semua ini saya buat demi kelancaran tugas saya sebagai pastor. Di negara tempat saya bekerja, pastor dianggap penghasut rakyat, karena itu selalu dikejar-kejar dan bahkan dibunuh. Satu-satunya cara agar orang tidak mengenal saya pastor adalah dengan membuat tato dan membiarkan rambut tak terurus, persis seperti yang dilakukan para preman jalanan." Semua yang hadir terdiam, entah apa yang dipikirkan. Mungkin ada yang meneteskan air mata seperti aku.
Tak lama berselang, perayaan itu usai. Aku berlari ke arah pastor itu dan langsung memeluknya erat. Ia menyambutku ramah. Ternyata wajahku masih terekam dalam pita ingatannya. Lantas ia membisikkan sesuatu ke telingaku, "Tadi sebenarnya saya memberitahu kamu bahwa saya pastor tapi kamu kelihatan terburu-buru. Belakangan baru saya dengar dari kakekmu bahwa kamu pergi menjemput saya. Pasti kamu lelah sekali. Maaf sudah membuatmu repot." Tangisku pecah. Semua orang heran. Hanya aku dan dia yang tahu mengapa aku menangis.
Di samping kulihat kakek meneteskan air mata. Ia mungkin haru dengan perjuanganku. Mungkin juga ia menyesal telah karena telah menganggap aku terlalu berdosa karena tato-tatoku. Kini mungkin kakek sadar bahwa hati yang tulus jauh lebih penting daripada sekadar penampilan luar. Tato tak pernah menjadi penghalang dalam mengungkapkan iman akan Tuhan. Bahkan pastor itu telah menunjukkan bahwa tato bisa menjadi pendukung dalam karyanya memuliakan Tuhan.
"Kita sama-sama bertato," kata sang pastor diikuti derai tawanya yang menggelegar. Serasa aku sampai pada sebuah titik kebahagiaan yang sulit terlukiskan. Refleks aku tiba-tiba berlutut di hadapannya. Ada sesal di dada karena telah mengacuhkan dia di atas jembatan tadi. Kugenggam kedua tangannya. Perlahan kudekatkan bibir pada punggung tangan bertato itu diiringi sebuah bisikan lirih: "Selamat Natal Pastor Preman." Sekali lagi tangisku pecah. Lebih dahsyat dari yang pertama.
Ledalero, 26 Desember 2011