Kamis, 11 Juni 2026

Mengaku Saudara

MENYEDIHKAN, jika ternyata ada orang yang mengaku saudara demi kepentingan dirinya sendiri. Ibarat pagar makan tanaman sebagaimana terjadi dalam kisah hidup Mariani Luciana Alfonia Dureh yang dikenal dengan nama Tata atau Ani. Wafat sia-sia pada usia belia, 19 tahun, setelah melahirkan dan meninggalkan orok tergeletak tak bernyawa di kamar mandi.

Tayang:

MENYEDIHKAN, jika ternyata ada  orang yang mengaku saudara demi kepentingan dirinya sendiri. Ibarat pagar makan tanaman sebagaimana terjadi dalam kisah hidup Mariani Luciana Alfonia Dureh yang dikenal dengan nama Tata atau Ani. Wafat sia-sia pada usia belia, 19 tahun, setelah melahirkan dan meninggalkan orok tergeletak tak bernyawa di kamar mandi. 

Kabarnya, ayah si bayi adalah seseorang yang mengaku paman, mengaku saudara sendiri.  Nasi sudah jadi bubur, Tata dan bayi sudah tiada, ibundanya Tata akan bertanya pada siapakah? Dituntut kecerdasan pihak berwajib untuk mengupas tuntas kasus ini, agar pelaku yang konon mengaku saudara itu, bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

                                  ***
"Yang namanya saudara dilarang saling menjelekkan nama baik, apalagi  menjatuhkan satu sama lain," komentar Rara. "Seperti aku ini!  Tidak seperti Jaki itu. Mentang-mentang kaya, punya pangkat, sombongnya setengah mati. Huh, baru punya mobil satu saja sudah bergaya seperti raja. Dapat uang darimana coba! Mungkin curi atau piara orang pendek atau tuyul untuk produksi uang. Huh, dasar si Jaki. Dia harus diberi pelajaran. Minimal belajar padaku, yang tidak pernah bicara aneh-aneh nama baik saudara sendiri."   

"Jangan-jangan si Jaki itu suanggi, polo. Kita harus waspada menghadapi dia," Rara merasa di atas angin. "Dia tidak seperti saya ini. Biar susah cari uang, tetapi yang penting bukan suanggi. Daripada si Jaki itu, gampang dapat uang, ternyata suanggi. Huh, kalau saya paling anti jelek-jelekin nama orang lain seperti si suanggi Jaki. Model Jaki itu bisa seperti pagar makan tanaman. Ia bisa buat kasus seperti Nona Tata yang lagi heboh di Maumere."

                             ***
"Jaki itu saudaramu sendiri, ataukah kamu mengaku saudara dengan Jaki?" 
"Saudaraku sendiri!" jawab Rara segera.
"Kenapa kamu jelek-jelekan nama baiknya?"
"Kapan? Sumpah! Aku tidak pernah menjelekkan nama baik Jaki. Dia itu suanggi besar, banyak orang yang pernah lihat Jaki ngobrol dengan tuyul di depan rumahnya. Apalagi kalau bukan mau curi uang? Saya dengar Jaki juga mengaku saudara dengan itu nona manis yang tinggal di ujung jalan sana." 

"Kenapa kamu jelek-jelekan nama baiknya?"
"Sumpah! Aku paling baik! Aku tidak pernah jelek-jelekin Jaki. Berani sumpah!"
Aneh bin ajaib ya dunia ini. Ada saudara yang mengaku bukan saudara ada yang bukan saudara mengaku saudara. Ada saudara yang hanya di bibir tetapi dihati benci setengah mati. Ada bukan saudara sungguh-sungguh namun baiknya lahir batin. Ada yang katanya saudara, tetapi menanam kebencian sampai berurat akar. Ada saudara yang kerjanya bicara negatif melulu penuh iri dan dengki. Lebih parah lagi, ada saudara yang puas jika mengetahui saudaranya gagal dan ketimpa bencana.

                                 ***
Nona Mia panas setengah mati. Ingin rasanya tonjok jidatnya Rara. Namun  apa mau dikata, jelek-jelek juga Rara adalah saudaranya sendiri. Serius! Bukan mengaku saudara, tetapi benar-benar saudara.  Tidak ada cerita sandiwara dengan saudara sendiri bukan?

"Namun, dunia ini  panggung sandiwara," demikian penggalan lagu Panggung Sandirara yang sangat populer tahun 70-an. "Ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara," begitulah kira-kira syair lagu yang yang dipopulerkan Ahmad Albar ketika itu. Rupanya, lagu ini cocok dan selalu up to date, dan dipakai Nona Mia untuk mengungkapkan cerita cinta  Nona Tata yang berakhir tragis: hamil, bayi meninggal, Tata meninggal pula. Siapa sebenarnya yang sedang bermain sandiriwara?  Cocok pula lagu ini ditujukan untuk Rara yang sedang bermain sandiwara mempermainkan Jaki. Bayangkan saja, bisa-bisanya Rara curiga satu saat nona manis diujung jalan ini bernasib sama dengan Nona Tata, karena ulah Jaki.

                        ***
"Coba kamu bayangkan Benza!" kata Nona Mia dengan kesal. "Kami semua masih saudara. Tetapi dengar sendiri bukan? Bagaimana Rara tega menghancurkan nama baik Jaki. Mulutnya Rara itu benar-benar seperti dodol. Tua, katanya matang, katanya dewasa, tetapi kok pendek sekali pikirannya ya? Rendah sekali ya caranya menghayati hubungan saudara. Bayangkan Benza!"

"Tega-teganya lagi Rara kait-kaitkan tragedi Nona Tata di Maumere dengan itu nona manis diujung jalan. Katanya nanti itu Nona Tata panggil, nona manis di ujung jalan itu menyahut gara-gara Jaki. Bayangkan! Saudara itukan saling menjaga nama baik, saling memaafkan bukan saling dodol kan?" Nona Mia marah setengah mati. "Coba kamu bayangkan, Benza! Bagaimana menurutmu?"

"Nona Mia! Kamu juga sedang melakukan apa yang dilakukan Rara!"
"Apa kamu bilang?"

"Lebih baik diam, Nona Mia. Simpan semuanya dalam hati. Berusahalah untuk positif menghadapi semua ini dengan tenang. Tenang adalah salah satu kunci sukses mengatasi masalah! Tenang salah satu kunci menolong saudaramu sendiri, Jaki maupun Rara!"
"Ooooh begitu ya?"

                                ***
"Memang begitu, ceritanya!" Jaki datang dan langsung salah sambung. "Memang Rara mengaku saudara dengan itu Nona Tata di Maumere. Tetapi pagar makan tanaman. Rara sudah ditangkap polisi untuk bertanggung jawab. Muka kita mau taruh di mana? Bayangkan Nona Mia, Benza! Aku malu sekali. Apalagi kata orang-orang Rara itu suanggi."

"Itu Rara datang!"
"Bukan! Maksudku bukan Rara yang ini. Tetapi Rara yang satu lagi, temannya Rara yang bertetangga dengan Rara, yang bernama Rara juga, yang mengaku saudara dengan kita itu," Jaki mencuci tangan. Nona Mia dan Benza  menarik nafas panjang menyadari betapa rapuhnya relasi  saudara bersaudara jaman sekarang. Sulit menentukan mana sebetulnya yang dapat dipercaya. Yang benar-benar saudara ataukah yang mengaku-ngaku saudara. *

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved