Puisi-puisi Bara Pattyradja
Seperti Musafir Fakir
kau adalah perang paling sengit
sekaligus siksa
kaki tangan kesunyian
yang menancapkan puisi paling gelap
di ujung penaku
kau coreng juga kisah-kisah murung
di garis tanganku
dari balik parasmu yang cantik
beribu khianat melolong padaku
seperti anjing pengintai
ah cintaku, mengapa kau hunuskan
pisaumu yang paling tajam?
apakah daging-dagingku
rapuh di mulutmu?
apakah aku terlalu tua bagimu?adakah aku lelah?
bulan desember yang kelabu
terus mengucurkan air mataku
aku menangis jadi manusia
berlari ribuan mil
tinggalkan diriku
hanya untuk belajar tertawa
seperti musafir fakir
hatiku adalah buhul
segala derita
kuurai takdir debu kemarau
di ujung sepatuku
kususuri jalanan berliku
membisu dari kota ke kota
memburu ajal
di setiap keheningan yang lalu
kubutakan mata
kutulikan telinga
kukatup bibir
agar berkelebat hantu-hantu masasilam
dari jasadku!
(2011)
Kalau Tidak Bobo Digigit Sepi
nina bobo, nina bobo
kalau tidak bobo digigit sepi
kalau tidak bobo digigil sunyi
hari sudah malam, anakku sayang
tiga kaleng susu telah kosong
sembunyikan hatimu
dari omong kosong dunia
bila kelak mataku padam
di kutub waktu
atau jari-jariku menua tak berdaya
mengusap bening wajahmu. jangan menangis. jangan beri aku air mata
jangan ratapi tanah air dukaku
kau tau? dalam fana hidupku
telah kukekalkan cahaya bintang-bintangmu
di langit sumsumku
ampunilah aku, anakku sayang
kuncup isi dadaku
lewat hening nafasmu
tolong beri aku tepuk tangan…
(Lamahala, 2011)
Munajat
cintamu padaku, tuhanku
selalu tak pernah jauh
walau cintaku padamu
tak sampai sebatas kalbu
kau jadikan aku langit
kau jadikan aku bumi
tanah, air, api, udara
kau jadikan aku roh
menggigil
dari zikir ke zikir
jarak antara kita, tuhanku
sesungguhnya tak pernah jauh
seperti detak jarum jam di leherku
seperti nafiri
yang kau tiupkan
di langit sepi rinduku
(2011)