ODHA Adalah Teman-teman Saya
MENDAPATKAN tugas sebagai pendamping Orang Dengan HIV/AIDS, mungkin tidak menyenangkan. Namun tidak demikian bagi dr. Aldriana Yusran (39). Para ODHA yang dirawatnya justru dianggapnya seperti saudara-saudarinya sendiri.
MENDAPATKAN tugas sebagai pendamping Orang Dengan HIV/AIDS, mungkin tidak menyenangkan. Namun tidak demikian bagi dr. Aldriana Yusran (39). Para ODHA yang dirawatnya justru dianggapnya seperti saudara-saudarinya sendiri.
“Memang awalnya ketika mendapatkan tugas di CST (Care, Support and Treatment), saya sempat merasa terbebani. Namun kemudian saya mencoba masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi mereka, dan akhirnya mereka sudah seperti saudara-saudari saya sendiri. Mereka boleh menghubungi saya kapan saja kalau memang mereka sedang membutuhkan bantuan saya,” jelas istri dari dr. Romualdus Redi Wibowo ini, kepada Pos Kupang di kantor Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten (KPAK) Manggarai di Ruteng, Sabtu (12/11/2011).
Langkah konkrit untuk lebih banyak berhubungan dengan para ODHA terus dilakukan ibu dari Yosefin Reinalda Prananda Wibowo ini, yakni dengan mendirikan komunitas kelompok sebaya yang diberinya nama Komunitas Surya Kasih, pada tanggal 20 Nopember 2010 lalu. Jumlah anggotanya baru empat orang, yakni tiga orang ODHA dan dirinya sebagai Ohida (orang yang hidup dengan HIV/AIDS), atau pendam-ping bagi para ODHA.
Perjalanan pela-yanannya kepada para ODHA dalam kehi-dupan bersama di Komunitas Surya Kasih juga tidak terbilang mudah. Walau dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini sudah beranggotakan 33 orang ODHA. Jumlah tersebut membawa dr. Aldrin dalam pergumulan yang cukup sulit, yakni harus menjangkau para ODHA di daerah-daerah yang sulit saat mendapatkan informasi adanya ODHA yang harus mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, berupa penolakan total dari keluarganya sendiri.
Dari sanalah para ODHA diangkat keluar untuk membuktikan diri kepada dunia bahwa sesungguhnya di dalam sisa kehidupan mereka, para ODHA juga masih mampu memberikan nilai-nilai positif kepada dirinya, keluarga, lingkungan masyarakat sekitar, dan juga daerah dan negara.
“Saya pernah mendapatkan ada teman saya (ODHA) yang harus tinggal di kandang babi, dan itu dilakukan oleh keluarga sendiri. Saya juga saat bertemu keluarganya, saya pernah mendapatkan pernyataan dari mereka (keluarga ODHA, Red) bahwa kalau dokter mau ambil dia (ODHA, Red) ambil saja, dan jangan bawa dia kembali lagi ke sini (lingkungan keluarganya, Red).
Jadi saya benar-benar merasakan betapa pedihnya perlakuan yang diterima oleh teman-teman saya, sehingga saya selalu bilang kepada mereka, bahwa kalaupun semua orang di dunia ini tidak mau menerima kamu lagi, kamu harus ingat bahwa masih ada orang yang mau menerima kamu, yakni saya sendiri. Kamu boleh menghubungi saya kapan saja, tengah malam juga saya pasti terima telepon dari kamu, dan sampai sekarang semua teman saya bebas meng-hubungi saya kapan saja,” tutur anak ke-11 dari 12 bersaudara ini.
Mengenai motivasinya menggagas dan mendirikan Komunitas Surya Kasih, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma-Surabaya tahun 2001 ini, mengaku hanya untuk menjadi wadah bagi para ODHA dan Ohida untuk bisa bertemu secara rutin, saling berbagi serta memberikan penguatan di antara para ODHA.