Pembangunan Harus Sebagai Gerakan Bersama
POS-KUPANG.COM, TAMBOLAKA -- Pembangunan yang berbasis di desa di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) harus didorong sebagai sebuah gerakan bersama. Tanpa kebersamaan,.....
POS-KUPANG.COM, TAMBOLAKA -- Pembangunan yang berbasis di desa di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) harus didorong sebagai sebuah gerakan bersama. Tanpa kebersamaan, sulit bagi masyarakat untuk ikut terlibat dalam menggerakkan roda pembangunan. Semboyan Dede ole pera, kako ole lolo (Berdiri sama tinggi, berjalan sama arah) bisa dijadikan filosofi.
Semboyan ini menjadi pegangan dan salah satu rekomendasi yang dihasilkan dari Workshop Perencanaan dan Penganggaran Desa Partisipatif di Aula Konventu Tambolaka, Sabtu (5/11/2011).
Selain rekomendasi ini, masih terdapat sejumlah rekomendasi lain yang dihasilkan setelah para peserta selama dua hari, Jumat-Sabtu (4-5/11/2011), mengikuti workshop yang digelar Yayasan Donders Waitabula dengan dukungan dana dari ACCESS (Australian Community Development and Civil Strengthening Scheme) dan Bappeda SBD.
Pada hari pertama para peserta lebih banyak mendengar pemaparan materi mengenai perencanaan dan penganggaran desa partisipatif. Berbeda dengan workshop lain yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pemaparan materi, workshop ini lebih banyak mendengar kisah dan pengalaman para pegiat desa seperti kader posyandu atau sekretaris desa. Para peserta dipilih dari 52 desa di lima kecamatan yang menjadi sasaran program Donders.
Pada hari kedua workshop para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok diskusi untuk melihat dan berdiskusi seperti apa sebaiknya pembangunan di desa didesain dengan melibatkan masyarakat. Para peserta sepakat bahwa pembangunan desa tanpa partisipasi masyarakat tak banyak gunanya dan lebih banyak gagal ketimbang berhasil.
Semboyan dede ole pera, kako ole lolo (berdiri sama tinggi, berjalan sama arah) diambil dan menjadi filosofi karena disadari selama ini masyarakat sering terpinggirkan dalam derap pembangunan. Masyarakat desa lebih banyak diposisikan sebagai obyek pembangunan. Posisi seperti ini kemudian membuat mereka menjadi apatis dan tidak ingin ikut terlibat dalam pembangunan di desa.
Selain semboyan ini, para peserta juga tiba pada kesimpulan bahwa dalam melakukan kegiatan pemberdayaan dan pendampingan masyarakat, kedekatan dan hidup bermasyarakat merupakan kunci kesuksesan. Tanpa kedekatan dengan masyarakat program pembangunan niscaya gagal.
Tentang penganggaran atau keuangan untuk pembangunan desa, para peserta berpendapat bahwa para pelaku pembangunan harus mengetahui mekanisme perencanaan daerah agar memiliki kesepahaman dan keselarasan dalam proses perencanaan pembangunan. Selain itu, perencanaan pembangunan harus taat asas, yakni kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesi dan akuntabilitas.