Petani Rakawatu Belum Punya Bibit
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU -- Sebanyak 1.534 jiwa dari 339 kepala keluarga (KK) di Desa Rakawatu, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mengalami rawan pangan. Selain itu,...
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU -- Sebanyak 1.534 jiwa dari 339 kepala keluarga (KK) di Desa Rakawatu, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mengalami rawan pangan. Selain itu, para petani setempat juga belum punya bibit untuk ditanam pada musim tanam tahun ini. Sebab, stok pangan para petani sudah habis.
Hal ini terungkap dalam dialog dengan para anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Sumba Timur di aula kantor desa setempat, Senin (24/10/2011).
Dalam dialog itu, para petani mengaku saat ini mereka sedang mengalami rawan pangan. Untuk mempertahankan hidup mereka terpaksa harus keluar masuk hutan mencari ubi hutan (iwi). Kondisi rawan pangan ini juga mengakibatkan mereka tidak mempunyai cadangan bibit tanaman karena persediaan sudah habis.
Salah seorang petani, K Walangara (50), dalam dialog tersebut mengatakan, rata-rata kesehatan warga di daerah itu masih jauh dari standar. Penyebabnya adalah kekurangan pangan. Selain itu, para petani juga kesulitan mendapatkan bibit jagung untuk ditanam pada lahan yang sudah diolah. “Kami tidak ada bibit jagung untuk tanam di kebun yang sudah diolah,” katanya.
Hal yang sama disampaikan Kepala Desa Rakawatu, Yakub T Bidikonda. Dia mengatakan, sekitar 1.534 jiwa atau 339 KK di desa tersebut rata-rata mengalami rawan pangan. Setiap hari mereka harus masuk hutan mencari iwi untuk dijadikan bahan makanan. “Rata-rata saya punya warga masuk hutan untuk mencari Iwi tanpa kecuali,” katanya.
Heinrich Dengi, salah satu anggota BPKD dalam dialog tersebut mengimbau para orang tua untuk memperhatikan kesehatan anak-anak mereka. Karena dimasa pertumbuhan, terutama anak-anak di bawah lima tahun sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup. “Musim kelaparan ini sangat rawan terhadap berbagai jenis penyakit, tertutama anak-anak,” katanya.
Selain mencegah agar fisik anak tidak mudah sakit, jelas Dengi, juga untuk merangsang otak. Anak-anak di bawah lima tahun adalah usia emas untuk pertumbuhan otak. “Kalau tidak dipenuhi akan menyebabkan anak mengalami gizi buruk dan perkembangan otaknya lamban serta kurang cerdas,” katanya.