Apakah Ada Pemilihan Guru Berprestasi?
Beberapa pertanyaan berkaitan dengan pengalaman menulis buku saya utarakan dan malam itu kita terlibat diskusi yang hangat dan menyenangkan seputar dunia tulis-menulis.
Oleh Mezra E Pellondou, S.Pd, M.Hum
Beberapa pertanyaan berkaitan dengan pengalaman menulis buku saya utarakan dan malam itu kita terlibat diskusi yang hangat dan menyenangkan seputar dunia tulis-menulis. Namun ada satu pertanyaan Pak Arnold mengakhiri percakapan kami. “Apakah Ibu Mezra tidak ikut pemilihan guru berprestasi?” Saya langsung menjawab.
Apakah memang ada kegiatan seperti itu? Di mana? Dan, bagaimana? Pak Arnold tertawa dengan keluguanku meresponsnya. “Justru saya mendiskusikan perihal penulisan buku ini berkaitan dengan niat saya mengikuti ajang itu. Saya sudah dua kali ikut bu, dan saran beberapa penguji agar saya harus memiliki karya tulis buku,” jelas Pak Arnold panjang lebar.
Masih dengan bersemangat, Pak Arnold memotivasi dan mendukung saya agar saya ikut di ajang pemilihan guru berprestasi 2011.
Saya tidak menjawab pertanyaan Pak Arnold, namun ada satu pertanyaan yang selalu mengusik saya, benarkah saya layak menjadi guru berprestasi? Dan, jika pertanyaan itu dibuat mengerucut dan membaginya dalam dua pertanyaan evaluasi, maka akan menjadi seperti ini, “Benarkah saya sudah layak sebagai guru? Apalagi guru berprestasi?” Ha, ha, ha saya tidak ingin memikirkannya malam itu.
Lebih baik saya melihat roster mengajar dan menyiapkan segala sesuatu untuk kegiatan belajar mengajar esok harinya. Setelah itu, melihat beberapa undangan yang harus saya hadiri besok, termasuk penjurian Lomba Minat Baca oleh Perpustakaan kota Kupang.
Berkaitan dengan minat baca, saya melihat minat nonton (terutama nonton TV) telah menggeser minat baca di negara kita yang memang dari dulu tidak pernah menunjukkan ke arah yang membanggakan.
Di pihak yang sama budaya dengar dan bicara mendominasi kehidupan masyarakat negara kita. Akibatnya kemampuan menulis yang pada dasarnya dianggap paling sulit dari empat ranah bahasa lainnya semakin terjepit dan merana karena hampir tidak diminati oleh siswa apalagi guru, bahkan guru bahasa Indonesia sekalipun.
Begitulah ceritaku tentang Pak Arnold Ola Aman, yang saya pikir setelah itu Pak Arnold pasti akan sibuk menulis dan bahkan mungkin tidak punya waktu lagi untuk kita saling berdiskusi sehangat kemarin.
Rupanya dugaanku keliru, semingggu kemudian sepanjang enam hari pak Arnold tidak berhenti menelepon, ada kalanya saya tidak merespons jika sedang mengajar atau sedang menghadiri kegiatan-kegiatan lainnya. Namun ada satu pesan singkat Pak Arnold yang terbaca di ponselku.
“Segera hubungi dinas PPO Propinsi, Kota atau LPMP untuk mendaftarkan diri ikut lomba guru berprestasi, Please!” Saya mengahapus SMS itu tidak ingin memikirkannya karena saya sedang berkonsentrasi mengurus sertifikasi guru. Kebetulan tahun ini giliran saya yang diusulkan pihak SMA Negeri 1 Kupang sebagai satu dari sekian guru di sekolah saya untuk mengikuti sertifikasi guru. Maka saya pun berangkat ke dinas PPO Kota Kupang.
Saat saya memasukkan berkas sertifikasi pada dinas PPO Kota, sebuah pesan singkat masuk dan lagi-lagi dari Pak Arnold. “Sodara, su daftar ikut lomba guru berprestasi ko?
Please,” dari Arnold. Bersa-maan dengan itu saya melihat ibu Ela dan Pak Dion, pegawai pada dinas PPO Kota, dan saya terusik untuk mencari tahu apakah ada kegiatan pemilihan guru berprestasi? Pertanyaan itu segera saya tanyakan ke ibu Ela yang langsung direspons dengan baik. “Nanti kalau ada informasi saya sampaikan ke ibu Mezra,” demikian ibu Ela meyakinkan.
Mengapa Saya Layak?
Ibu Ela dari dinas PPO Kota Kupang menepati janjinya, saya ditelepon ketika informasi tentang pendaftaran seleksi guru, kepala sekolah, dan pengawas berprestasi tingkat kota dibuka. Saya menuju kantor dinas dan terlihat beberapa guru, kepala sekolah dan pengawas yang mendaftar. Untuk kategori guru terlihat guru TK, SD, SMP dan SMA.
Sebelum memutuskan untuk mendaftar saya meminta petunjuk dan kopian tentang syarat-syarat tersebut pada Kasubag Kepegawaian Dinas PPO Kota.
Sepintas saya membaca, saya belum memutuskan apakah harus ikut dalam pemilihan ini atau tidak. Namun ketika mata saya membaca sebuah syarat bahwa wajib menuliskan sebuah karya tulis evaluasi diri berjudul “Mengapa Saya Layak Sebagai Guru Berprestasi,” saya terpukau. Sungguh, ini suatu pertanyaan filosofis yang luar biasa berarti bagi saya sebagai guru. Sambil mencoba menghilangkan kata berprestasi, saya mengulang pertanyaan itu berulang kali dalam hati Mengapa Saya Layak Sebagai Guru?
Dan diam-diam saya pun mengembangkan pertanyaan itu dengan menambahkan kata berprestasi, sehingga menjadi Apalagi Guru Berprestasi?
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.