Breaking News
Kamis, 11 Juni 2026

Prestasi tanpa Bonus

ADA perbedaan yang sangat kontras antara atlet-atlet NTT di bawah era 1980-an dengan mereka yang ada saat ini. Terutama soal fasilitas latihan dan bonus, tak bisa disamakan

Tayang:

ADA perbedaan yang sangat kontras antara atlet-atlet NTT di bawah era 1980-an dengan mereka yang ada saat ini. Terutama soal fasilitas latihan dan bonus, tak bisa disamakan.

Seorang Wempy Foenay, yang merebut medali di SEA Games berlatih di tengah sawah. Mengapa demikian? Agar cakram miliknya tidak pecah karena tanah sawah berlumpur. Dengan hanya bermodalkan satu cakram, Wempy bisa merengkuh prestasi dunia.

Hal ini juga benar-benar dirasakan oleh George ‘Sun’ Lee. Satu tim berlatih dengan satu bola, dia bisa masuk tim inti Indonesia di SEA Games 1962. Lihat saja saat ini, dimanjakan dengan fasilitas latihan serba digital, para atlet juga selalu dijanjikan bonus yang besar bila merebut juara.

Berbicara tentang bonus, Sun, tak mau membahasnya. Apa pernah mendapat penghargaan dari pemerintah? Sun hanya tersenyum. “Buat apa? Biar saja! Tidak usah menuntut. Toh, semua orang tahu kami pernah bermain untuk tim Indonesia,” tegasnya.

Sun mengaku, saat dia bekerja di Dilli, dia pernah dipanggil ke Kupang untuk menerima penghargaan dari pemerintah. Namun karena dia terlambat, hanya Ruben Ludji dan Amos Koamesah (almarhum) yang mendapatkannya. “Saya tidak pernah terima penghargaan apalagi bonus. Padahal waktu itu Ruben Ludji dan Amos bilang nama saya ada di daftar penerima penghargaan,” kata Sun.

Sun, saat ini usianya sudah tidak belia lagi. Lahir di Kupang, 18 November 1940, saat ditemui, Sun nampak sangat segar bugar. Meski usianya sudah 71 tahun, namun postur tubuhnya yang mencapai 180 cm itu nampak masih tegap. Dia sangat lugas menceritakan perjalanan karier dan prestasinya di cabang bolabasket.

Jauh sebelum tinju, kempo, karate, pencaksilat dan lainnya masuk, cabang olahraga yang paling populer di Kota Kupang adalah bolavoli, tenis meja dan bolabasket termasuk atletik. Sun, sendiri semula adalah pemain tenis meja. Bersama beberapa rekannya seangkatannya seperti Metu Tallo, Jemi Pello, Leo Nisnoni, Joni Lee, Saul Therik dan lainnya, mereka pernah mengharumkan olahraga NTT.

Sun tak mau berkomentar banyak tentang pembinaan olahraga saat ini. Dia tidak ingin disalahkan dan menganggap itu sebagai pembenaran diri. Namun, satu yang perlu dicontohi dari suami Lody Tupa (alm) ini adalah dia tak pernah menuntut meski pernah berstatus pemain nasional.

“Orientasi pemain sekarang sudah lain, tidak sama seperti kami dulu. Atlet angkatan kami seperti Wempy Foenay, meski latihan di sawah dia bisa meraih medali. Ini yang tidak ada di zaman sekarang,” ujarnya.

Ada banyak atlet NTT yang di masanya adalah para juara. Sebut saja Ruben Ludji, Amos Koamesah (alm), Ronny Mello, Wempy Foenay, Leo Nisnoni dan lainnya yang hanya bisa dikenang. Dia antara mereka, ada yang hampir dilupakan. Padahal mereka pernah mengharumkan nama NTT di pentas olahraga nasional dan internasional.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved