Berakit-rakit ke Hulu

NITA heran dengan sikap Mama. Semenjak dirinya duduk di kelas enam, Mama selalu memperlakukan dirinya seperti gadis pingitan.

NITA  heran dengan sikap Mama. Semenjak dirinya duduk di kelas enam, Mama selalu memperlakukan dirinya seperti gadis pingitan.  Apa yang hendak dilakukan Nita selalu dibatasi. Bermain tidak boleh jauh-jauh. Nita boleh bermain hanya sebagai selingan setelah lelah belajar. Tidak seperti dulu Nita boleh bermain seharian. Belajar baru dilakukannya pada malam hari.

Hal yang sama juga terjadi di malam hari. Kini waktu Nita lebih banyak diisi dengan belajar. Untuk sementara dia tidak dapat lagi menikmati film kartun kesayangannya di televisi. Namun di sisi lain Mama membebaskannya dari tugas rutinnya membantu Mama memasak makan malam dan mencuci piring.

“Untuk sementara biarlah Mama yang mengerjakan tugasmu itu. Supaya kamu dapat lebih berkonsentrasi mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir nanti,” kata Mama.

***

Nita menyadari bahwa pembatasan yang dilakukan Mama terhadapnya itu adalah demi kebaikan dirinya sendiri. Namun ketika Mama tidak mengizinkannya ke mall bersama teman-temannya, Nita sempat kesal juga.

“Jalan-jalan ke mall dengan teman-teman saja tidak boleh, Ma,” protes Nita.
“Kalau kalian ke mall itu karena kalian membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang kalian pelajari, silahkan. Namun kalau hanya sekadar jalan-jalan dan menghabiskan waktu percuma, tidak Mama izinkan,” tegas Mama.

“Tapi kalau selalu di rumah dan terus berhadapan dengan buku, kan bosan juga, Ma. Lama-lama Nita bisa mati berdiri. Nita lebih memilih untuk membantu Mama  memasak dan mencuci piring daripada tersiksa seperti ini,” Nita mengungkapkan kekesalannya.

“Mama tidak peduli. Lebih baik kamu menangis ddan memarahi Mama sekarang daripada kamu menangis dan memarahi Mama karena tidak lulus nanti. Tidakkah kamu ingat akan pepatah lama, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakitlah dahulu, bersenang-senang kemudian. Sakit hati dan menangislah dahulu, bersenang-senanglah setelah kamu lulus nanti,” hibur Mama.

***

Ujian akhir nasional dihadapi Nita dengan senang hati karena dia telah benar-benar mempersiapkan diri. Terbukti dia dapat mengerjakan semua soal ujian dengan baik. Hal itu terjadi hampir pada semua mata pelajaran yang diuji. Hari demi hari ujian dilalui Nita  tanpa hambatan berarti hingga waktu ujian berakhir. Pada saat itu Nita menyadari bahwa apa yang dikatakan Mama  terbukti.

Ketika hasil ujian akhir diumumkan di sekolah Nita terperanjat. Karena hasil kelulusan siswa di sekolahnya tidak lebih dari sepuluh persen.  Itu berarti dari dua kelas yang ada hanya delapan siswa yang berhasil lulus pada ujian akhir kali ini. Salah satu dari antara delapan siswa yang dinyatakan lulus itu adalah dirinya. Nita melonjak kegirangan. Tiada henti mulutnya mengucapkan syukur kepada Tuhan atas anugerah kelulusan itu. Di tengah kegembiraan itu Nita teringat kepada Mama. Dia pun segera pulang menemui Mama.

“Terima kasih, Ma. Telah mengajarkan Nita pepatah lama itu. Memang lebih baik berakit-rakit ke hulu baru berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Kalau saja dulu Mama membiarkan Nita bersenang-senang dahulu, tentu sekarang Nita harus menangis bersama teman-teman yang lain karena tidak lulus,” kata Nita sambil memeluk Mama.

“Pepatah lama yang jika tetap dipegang akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupanmu kelak, Nak,” kata Mama sambil membelai rambut Nita.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help