Breaking News
Jumat, 12 Juni 2026

Cerpen Vinsen Making

Mutiara Kebersamaan

MELANGKAH dalam kekalutan, bernyayi tanpa irama, menari tanpa genderang dan akhirnya terbaring dalam lelapnya tidur malam tanpa mimpi. Perjalanan hidup amatlah singkat, sesingkat embun yang bertengger di dahan kering.

Tayang:

MELANGKAH dalam kekalutan, bernyayi tanpa irama, menari tanpa genderang dan akhirnya terbaring dalam lelapnya tidur malam tanpa mimpi. Perjalanan hidup amatlah singkat, sesingkat embun yang bertengger di dahan kering.

Yang tersisa dalam uraian garis liku kehidupan hanyalah harapan yang sangat kusam dan sarat beban. Banyak orang tidak pernah menyadari arti kebersamaan dalam suatu lingkaran persaudaraan yang akrab dan harmonis.

Namun semua orang baru akan tersadar dari lelapnya ketika ia telah lepas dari ikatan kebersamaan tersebut.

"Apa yang sedang Engkau pikirkan?" sebuah pertanyaan lepas menghampiri Alfredo lewat layar monitor laptopnya. Sebuah pertanyaan sederhana ini datang dari seorang sahabatnya di dunia maya.

Alfredo belum pernah bertemu dan bertatapan langsung dengannya. Alfredo mengenalnya hanya lewat beberapa foto dan sepotong uraian singkat biodata dirinya yang terpampang di dalam dunia maya.

Ia hadir beberapa waktu lalu bersama dengan ribuan orang lain dalam galeri hidup dunia maya. Tangan Alfredo dengan cekatan menekan tuts untuk membalas pertanyaannya.

"Aku sedang memutar kembali memoryku pada masa-masa dimana Aku masih duduk di bangku kuliah." Jari tengahnya menekan tuts enter dan pesan itu tersampaikan dalam hitungan saat. Beberapa menit kemudian ia membalasnya dan kali ini Alfredo terperanga.

Tangannya gemetar, matanya berlinang air mata dan hatinya hancur lebur dalam gelora yang tak terkira.
Kenangan itu kambali bermain dalam benaknya. Layar kenangan itu menayangkan adegan-adegan yang begitu nyata.

"Ka, ketong mau buat acara kelas. Rencananya hari minggu ini kita piknik di pantai Lasiana.." "Oh,. begitu ko?", jawab Alfredo acuh sambil berlalu.

Yati menarik tangannya. Langkah Alfredo terhenti.Yati melanjutkan, " Ka, ni serius. kami sudah rapat kemarin sore. Semua anggota kelas hadir semua, kecuali Ka sendiri.". Yati adalah ketua kelas mereka.

Ia adalah wanita yang cerdas dalam merangkul teman-temannya. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana meyatukan mereka yang berasal dari daerah yang berbeda, dalam suatu kelas yang bernama kelas Reguler B, angkatan V Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana Kupang.

"Ka, tolong hargai hasil rapat ini. Ka bersedia ikut to?" pertanyaan dari wanita Sabu ini seakan membuat telinga Alfredo panas. "Besong yang buat rapat na, besong yang jalan to. intinya B sonde iko." jawab Alfredo dengan nada sedikit tinggi.
"Ka,..ini sudah semester VI, kenapa ka tidak pernah berubah?

Ka,.. sebentar lagi kita akan sibuk dengan proposal penelitian dan sedikit lagi skripsi. Itu artinya kita tidak akan berkumpul seperti ini lagi." Yati kembali mengingatkan. Alfredo menatap lekat pada kedua bola mata Yati. Di sana ada tersisa butiran pengharapan yang tergenang dalam lautan air mata. Genangan itu begitu nyata walau belum tertumpah dari sudut matanya.

"Ok,.. ni kontribusi dari Saya.." Alfredo menyodorkan selembar uang lima ribuan. Yati sedikit tersenyum. "ini artinya Ka ikut, kan?" Tanya yati dengan penasaran. "Saya tidak ikut. Titik!!!". Selesai dengan kalimat pendek ini, Alfredo langsung berbalik dan pergi dari hadapan Yati.

Alfredo tidak terlalu suka dengan kebersamaan. Ia lebih senang menyendiri dan menyibukan diri dengan hal-hal pribadi. Apabila ada hal-hal yang berbau orang banyak, terutama menyangkut teman-teman di kampus, maka Ia jelas akan mencari alasan untuk tidak terlibat dalam kegiatan tersebut. Tentang sikap Alfredo ini banyak teman-temanya yang telah mengeluh.

Ketika ada tugas dari Dosen untuk dikerjakan secara bersama dalam kelompok, Alfredo memilih menyumbang uang ketimbang meluangkan waktu untuk mengerjakan tugas tersebut secara bersama.

Setelah berlalu dari hadapan Yati, Alfredo menuju sepeda motornya dan melaju meninggalkan kampus FKM. Selang beberapa detik sebuah kecelakaan hebat terjadi. Sebuah sepeda motor hancur digilas sebuah trek yang melaju dari arah Oepura. Menurut keterangan para saksi mata, sepeda motor yang baru keluar dari gerbang kampus Undana lama, hendak menghindar dari beberapa orang yang sedang berdemo di depan kampus tersebut.

Namun malang, Ia tak mampu menghindar dari trek yang datang dari arah belakang. Ternyata pengendara sepeda motor tersebut adalah Alfredo. Ia tak sadarkan diri dan langsung di bawah ke UGD RSUD. Johanes Kupang.

Ketika membuka mata untuk pertama kalinya, setelah 9 jam tidak sadarkan diri, yang Ia lihat adalah deretan teman-teman sekelasnya yang selama ini tidak terlalu ia perhatikan. Matanya yang sayu menatap mereka satu persatu.

Tidak ada yang kurang. Semua hadir di sana menunggunya hingga siuman. Seseorang berdiri paling dekat dengannya. Tangan dan pakiannya masih berlumuran darah yang telah mengering. Ia adalah sang ketua kelas. Ia yang memangku Alfredo dari tempat kecelakaan hingga tiba di Rumah Sakit.

Alfredo mengangkat tangannya yang masih terbalut perban dan dengan jemarinya yang masih sangat lemah Ia menggenggam tangan Yati. "Ti,.. B minta maaf.." Inilah kalimat yang mampu Ia ucapkan sebelum kedua kelopaknya terkatup kembali.

Alfredo Da Cruz adalah orang asli Republik Timor Leste. Ia merantau ke NTT untuk kuliah. Ia tidak punya siapa-siapa di Kota Kupang. Selama menjalani masa perawatan di Rumah Sakit, Yati dan teman-temannya bergantian menjaga dan menghiburnya serta membawakan Ia makanan.

"Attention Please." Suara ini membuyarkan lamunannya. dengan tergesa Ia mengusap matanya yang berlinang air mata. Suara gaduh di stasiun itu tidak mempengaruhi Alfredo untuk terus melanjutkan aktivitasnya. Perlahan Ia membetulkan kerak mantelnya yang tebal dan kembali menatap layar monitor laptopnya. Ia membaca sekali lagi tulisan yang ada disana."

Jangan pernah mengungkit masa yang telah lalu, sebab disana hanya ada kenangan yang tidak mungkin dapat engkau ubah. Biarkan ia sendiri yang menemanimu dalam alam bawa sadarmu.

Pastikan semua mereka yang pernah membagi kebersamaan bersamamu tetap hidup dalam jiwamu. Aku tahu, engkau pasti telah lupa nama-nama mereka. Apalagi tempat duduk mereka, di dalam gedung tua itu. Tetapi ketahuilah mereka semua tidak pernah melupakanmu, sebab waktu empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan.".

Alfredo mengangkat sikunya, melorotkan lengan mantelnya untuk melihat goresan bekas luka yang ada disana. Itu adalah bukti betapa berartinya kebersamaan. Kini Ia baru menyadari arti kebersamaan, setelah berada di benua Amerika.

Ia melanjutkan studi di Negeri yang sangat kental dengan paham individualisme. Tidak ada lagi suara sang ketua kelas mengumpulkan teman-teman untuk acara piknik, tidak ada lagi ajakan untuk berdiskusi bersama, apalagi ajakan untuk berdoa bersama. Sambil menarik nafas dalam-dalam Ia menulis dalam serambi Face Book miliknya."Ketika senja datang membopong selimut malam, langit redup menakuti jiwa dalam kesendirian.

Padamu almamaterku, yang sarat dengan cinta kasih kebersamaan yang terpancar jelas lewat cerianya wajah-wajah penghuninya. Aku rindu padamu semua rekan-rekanku yang pernah sama berjuang di bawah atap reot gedung tua. Yang selalu saling membantu dalam suka maupun duka.

Yang rela bermandi peluh dan darah demi sebuah kebersamaan nan tulus.

Padamu semua yang mungkin namanya telah kulupakan, dan wajahnya mulai pudar dalam ingatan, ketahuilah Aku merindukan kebersamaan seperti waktu itu.." Selesai menuliskan kalimat ini, Alfredo menutup laptopnya dan kembali melanjutkan rutinitasnya dalam kesendirian.

(Buat semua Alumni FKM Undana di manapun berada, selamat merayakan HUT ke- IX FKM)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved