Oleh Tony Kleden
Ketika Teolog dan Filsuf Bertemu
DALAM ajang pesta paling akbar, mungkin juga paling kolosal di muka planet ini, Piala Dunia 2010, Jerman terhenti di empat besar. Tandukan Charles Puyol memang mengoyak jala gawang yang dijaga kiper Jerman, Manuel Neuer. Gol itu menguburkan harapan 82 juta warga Jerman. Jerman gagal ke final dijegal si 'Matador', Spanyol.
DALAM ajang pesta paling akbar, mungkin juga paling kolosal di muka planet ini, Piala Dunia 2010, Jerman terhenti di empat besar. Tandukan Charles Puyol memang mengoyak jala gawang yang dijaga kiper Jerman, Manuel Neuer. Gol itu menguburkan harapan 82 juta warga Jerman. Jerman gagal ke final dijegal si 'Matador', Spanyol.
Sedihkah Jerman? Sudah pasti. Tetapi Jerman tidak hanya jago di sepakbola. Sepakbola bukan jalan tunggal bagi bangsa itu untuk tampil menyatakan keberadaannya di garda depan. Dalam banyak hal Jerman tampil sebagai number one. Barang-barang produksi Jerman mendominasi pasar dunia. Dari peralatan kedokteran hingga dunia otomotif. Dari industri kapal laut hingga peralatan perang. Tak ada yang ragu dengan barang- barang berlabel Made in Germany.
Tidak hanya itu. Sejak dulu, dari Jerman lahir begitu banyak sastrawan. Johann Wolfgang Goethe, Berthold Brecht, Friedrich Schiller adalah beberapa contoh nama besar yang turut menentukan perkembangan dunia sastra. Gaungnya tidak hanya sebatas Eropa, tapi menembus hingga ke seantero jagad.
"Deutschland ist das Land der Dichter und Denker' (Jerman adalah tanah air para sastrawan dan pemikir). Itulah ungkapan paling tepat untuk melukiskan kebesaran sekaligus kebanggaan Jerman.
Dari ranah filsafat kita kenal nama-nama seperti Immanuel Kant, GWF Hegel, Martin Heidegger, Ernst Tugendhat, Theodor W Adorno, dan sederetan nama besar lainnya.
Tetapi kebesaran Jerman bukan cuma milik tradisi masa silam. Pada masa ini, Jerman juga masih menunjukkan keberadaannya.
Joseph Alois Ratzinger terpilih menjadi Paus, pemimpin gereja Katolik sejagat. Ratzinger adalah teolog Katolik paling berpengaruh abad ini yang kemudian terpilih menjadi Paus dengan nama Benediktus XVI.
Selain Ratzinger, ada nama lain yang sangat terkenal, yakni Juergen Habermas. Habermas adalah filsuf besar abad ini dengan perhatian besar terhadap persoalan-persoalan sosial seperti terorisme global, fundamentalisme agama, kemiskinan global dan dampak ekologis dari gaya hidup masyarakat modern. Buku karyanya diburu para peminat fisafat.
Berbeda dengan Joseph Ratzinger sebagai penjaga kebenaran iman Katolik, Habermas menyebut dirinya 'religioes unmusikalisch' (otak berbakat secara religius) dan filsuf postmetafisis.
Nah, apa yang akan terjadi kalau teolog berpengaruh dan filsuf besar ini duduk semeja dan berdiskusi? Pasti seru! Keduanya benar-benar bertemu, duduk semeja dan berdebat pada tanggal 19 Januari 2004 atas inisiatif Katholische Akademie di Bayern, Jerman.
Karena berasal dari latar belakang tradisi intelektual berbeda, debat publik kedua antipode ini menjadi menarik. Seminar utama Habermas dan Ratzinger yang dibawakan dalam diskusi tersebut dipublikasikan oleh Penerbit Herder, Jerman dengan judul Dialektik der Saekularisierung. Moderator diskusi sekaligus editor buku, Florian Schueler, menyebut karya ini sebagai Das Dokument einer zukunftsweisenden Begegnung zur geistigen Situation unserer Zeit (Sebuah dokumen dengan perspektif masa depan tentang kondisi intelektual zaman ini).
Buku ini tidak hanya penting dan seru, tetapi juga berguna karena membuka wawasan tentang kebenaran, iman dan pertautan antara keduanya. Dalam bahasa Indonesia buku diterjemahkan secara gemilang oleh Dr. Paul Budi Kleden dengan judul Dialektika Sekularisasi: Diskusi Habermas - Ratzinger dan Tanggapan dan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero dan Penerbit Lamalera.
Apakah mungkin terdapat titik pijak bersama untuk membangun dialog antara seorang filsuf pencerahan dan teolog penjaga kebenaran dogma iman? Bukankah filsafat pencerahan ditandai dengan sikap kritis dan skeptis terhadap peran publik agama-agama, sementara kebenaran dogma cenderung menganggap rasionalitas sebagai musuh dan penghancur moralitas agama?
Tesis teologis awal Joseph Ratzinger mengungkapkan dengan jelas bahwa filsafat pencerahan tak lebih dari sebuah ajaran sesat. Rasionalitas pencerahan bertanggung jawab atas putusnya pertautan erat antara iman dan akal budi, agama dan ilmu pengetahuan seperti tampak di Abad Pertengahan. Modernitas telah mendepak agama ke ruang gelap irasionalitas. Akal budi modern bersifat buta terhadap kebenaran prapolitis agama yang melampaui dirinya.
Akan tetapi dua posisi filosofis yang berseberangan ini tidak menghalangi Habermas dan Ratzinger untuk bertemu dan berdebat mencari kebenaran. Kebenaran tak pernah dapat digenggam erat, tapi selalu hadir dalam proses pencarian di tengah sebuah masyarakat komunikatif. Kebenaran absolut yang digenggam erat hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam bahaya fundamentalisme, intoleransi dan terorisme.
Ratzinger dan Habermas coba menemukan 'prinsip-prinsip dasar sebuah tatanan masyarakat yang bebas dan damai'. Untuk itu agama dan rasionalitas sekular perlu membangun kerja sama. Pertanyaan muncul, apakah agama boleh memberikan rambu-rambu batasan bagi ruang gerak akal budi? Ataukah agama yang harus dibatasi oleh rasionalitas sekular agar dijauhkan dari patologi fundamentalisme dan terorisme?
Menurut Habermas bahaya fanatisme bukan cuma milik agama, tapi juga dapat menggerogoti akal budi sekular dan ilmu pengetahuan modern. Ideologi naturalistis yang terungkap dalam kemajuan biogenetik, penelitian otak dan robotik telah melampaui kompetensinya dan berambisi menawarkan gambaran tentang pribadi manusia secara holistik.
Perbenturan antara naturalisme ilmiah dan fundamentalisme agama menuntut keterbukaan agama dan ilmu pengetahuan, iman dan rasionalitas sekular untuk terus membangun dialog. Dan wacana komunikatif antara agama dan ilmu pengetahuan ini telah dimulai dan dikembangkan oleh Ratzinger dan Habermas ketika duduk bersama berdiskusi.
Dalam dialog tersebut Ratzinger berbicara tentang dasar-dasar moral prapolitis sebuah negara liberal. Bahaya nuklir, cloning manusia, kehancuran ekologis merupakan dampak teknologi modern dan produk akal budi manusia. Dampak seperti ini, menurut Ratzinger, menuntut peran etis agama untuk mengawal kerja rasionalitas. Agama dalam kaca mata Ratzinger berperan sebagai instansi moral tertinggi guna mengawasi agar proses modernisasi tidak tergelincir ke luar rel nilai-nilai kemanusiaan universal.
Peran agama sebagai 'organ kontrol' tertinggi dalam masyarakat liberal jelas tidak dapat diterima dalam kerangka berpikir postmetafisis Habermas. Alasannya, prosedur demokratis tidak dibangun di ruang kosong, tapi sudah mengandung muatan normatif. Karena itu dalam masyarakat demokratis tak ada lubang yang masih harus diisi dengan 'substansi moral prapolitis' seperti dianjurkan Ratzinger (hlm. 8). Negara hukum demokratis, demikian Habermas, mendapat sumber legitimasi dari setiap proses diskursus bebas represi yang dibangun di ruang publik. Diskursus tersebut bisa, tapi tidak harus dibangun di atas tradisi agama-agama.
Keterbukaan terhadap agama ditanggapi oleh Ratzinger sebagai pengakuan Habermas akan makna dan peran penting agama dalam masyarakat sekular. Modernitas dan filsafat posmetafisis kehabisan bahasa untuk mengungkapkan pengalaman manusia akan penderitaan, keselamatan dan hidup setelah kematian. Modernitas harus menyadari peran penting agama dan tak boleh secara apriori mendepaknya ke ruang irasionalitas. Habermas dan Ratzinger mengharapkan agar terjadi 'proses belajar ganda dan komplementer' antara agama dan akal budi (hlm.28). Akal budi, demikian Habermas, adalah logos dari bahasa. Maka baginya adalah lebih gampang untuk beriman pada Roh Kudus.
Memang agak berat bagi yang belum terbiasa membaca karya- karya filsafat dan teologi. Tetapi buku ini justru menjadi tantangan yang sangat mengasyikkan bagi akal budi dan iman siapa saja yang membacanya. *