Jangan Biarkan Lahan Menganggur
SAMPAI saat ini, masyarakat Nusa Tenggara Timur umumnya, masih cenderung membiarkan lahan pertaniannya nganggur. Lahan itu baru diolah saat menyongsong musim hujan, setelah itu ditinggalkan dan baru diolah lagi ketika menyambut musim hujan berikutnya.
Pola kerja seperti ini sudah saatnya ditinggalkan. Karena sama sekali tidak menguntungkan. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Bina Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT, Ir. Marthen L Dira Tome, saat memanen jagung di Desa Oeltua, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, pekan lalu. Jagung yang dipanen itu, dibudidayakan oleh kelompok tani binaan PLS di atas lahan seluas kurang lebih tiga hektar. Dari lahan seluas itu, para petani memperoleh panenan sekitar 10 ton lebih, atau rata-rata 3,5 ton per hektar.Dira Tome mengatakan, bila petani ingin maju, ingin berubah, mulai sekarang harus bekerja tanpa memandang musim. Musim panas sekalipun masyarakat harus bisa menanam, tentunya dengan memanfaatkan air yang diempang dari kali, atau dipompa dengan menggunakan mesin penyedot air. (tv.pos-kupang.com)