Kamis, 21 Mei 2026

Sumba Timur Terkini

Permainan Makka Dipertandingkan dalam Pekan Budaya Sumba Timur

Guru pendamping Finda, Mbaya P. Lemba, mengatakan, tidak heran jika lomba gasing lebih banyak diikuti laki-laki dibanding perempuan.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/IRFAN BUDIMAN
PERLOMBAAN GASING - Finda (kiri) bersama belasan anak-anak dari berbagai sekolah sedang asyik bermain gasing di hadapan Wakil Bupati Sumba Timur Yonathan Hani dan sejumlah pimpinan Forkopimda dan perangkat daerah pada Selasa (19/5/2026). 

Permainan Makka Dipertandingkan dalam Pekan Budaya Sumba Timur

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Dalam Pekan Budaya Daerah Sumba Timur yang dimulai pada Selasa (19/5), lomba gasing atau dalam bahasa setempat disebut makka menjadi salah satu mata lomba.

Gasing adalah salah satu permainan tradisional khas Sumba Timur. 

Permainan ini terbuat dari kayu yang diukir menyerupai piramida terbalik. Tetapi ia bulat dengan ujung lancip.

Untuk memainkannya, dibutuhkan tali yang akan dililitkan rapat pada badan gasing, sebelum dilempar ke arah depan sampai berputar di tanah.

Baca juga: Pekan Budaya Daerah Angkat dan Lestarikan Warisan Budaya Sumba Timur

Umumnya permainan ini diikuti dua kelompok. Masing-masing kelompok berusaha menyingkirkan gasing lawan sambil terus berputar.

Tim yang menang akan mendapat dua poin. Begitu terus hingga pemenangnya ditentukan.

Perlombaan yang digelar di Museum Daerah DR H.C. Oemboe Hina Kapita ini diikuti sekitar 20 sekolah. 

Setiap sekolah mengutus satu orang siswa. Sebagian besar peserta laki-laki.

Salah satu peserta lomba, Finda, usia 11 tahun, mengaku senang mengikuti permainan tersebut. Ia satu-satunya peserta perempuan.

“Saya senang bisa ikut main,” katanya singkat kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (19/5/2026).

Siswi SD Masehi Payeti 3 ini mengatakan, dirinya sudah terbiasa bermain gasing. Saat pulang ke kampung halamannya, ia kerap bermain gasing. 

Juga di rumah bersama orangtuanya. Kadang ia bermain gasing di sekolah bersama teman-temannya.

Guru pendamping Finda, Mbaya P. Lemba, mengatakan, tidak heran jika lomba gasing lebih banyak diikuti laki-laki dibanding perempuan.

Ia menceritakan, dahulu permainan ini identik dengan laki-laki. Sedangkan perempuan dilarang bermain. Mereka lebih banyak berurusan dengan pekerjaan dapur.

“Laki-laki yang diperbolehkan main makka. Sedangkan anak perempuan tidak boleh,” katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, pandangan tersebut mulai berubah. Kini perempuan juga mulai ikut bermain makka, seperti Finda yang sudah mengikuti lomba.

Mbaya mengakui permainan tradisional ini hampir punah. Ia mengaku sudah jarang melihat anak-anak memainkan permainan ini.

Karena itu, ia bersyukur pemerintah memiliki inisiatif untuk melestarikan permainan tradisional yang sarat nilai. Seperti menjunjung sportivitas, keterampilan, emosional dan nilai sosial.

“Harapan kami, dengan adanya ruang seperti ini anak-anak lebih berminat lagi dengan permainan tradisional,” tuturnya.

Ia juga menilai permainan tradisional sangat baik untuk mengurangi penggunaan handphone pada anak, yang saat ini kata dia, menjadi salah satu faktor pengganggu dalam belajar di sekolah. (dim)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved