Timor Tengah Utara Terkini
BPBD Beberkan Dampak Cuaca Ekstrem di Kabupaten TTU
Plh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Felismino Askeli, membeberkan dampak cuaca ekstrem.
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Apolonia Matilde
Ringkasan Berita:
- BPBD TTU mencatat sedikitnya 4 desa terdampak banjir akibat cuaca ekstrem, yakni Desa Tualene, Oekopa, Oepuah Utara, dan Luniup.
- Longsor juga terjadi di pemukiman warga Desa Banain A serta pada badan jalan desa di Desa Haumeni.
- Di Desa Oepuah Utara, banjir merendam 18 rumah warga setelah air Kali Kaubele dan kolam tambak meluap, namun tidak ada korban jiwa.
- BPBD melakukan pendataan dan koordinasi untuk penanganan, serta mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Felismino Askeli membeberkan dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten TTU beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, berdasarkan laporan dari masyarakat, tercatat sebanyak 4 desa terdampak banjir. Desa-desa tersebut yakni Desa Tualene, Desa Oekopa, Desa Oepuah Utara dan Desa Luniup.
Sedangkan laporan insiden longsor terjadi di sekitar pemukiman warga Desa Banain A dan longsor pada badan jalan desa di Desa Haumeni.
"Informasi terbaru, dampak hujan satu dua hari belakangan ini memang menurun seiring menurunnya curah hujan," ujarnya, pekan lalu.
Ia meminta masyarakat selalu waspada terhadap cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Kabupaten TTU. Selain itu, masyarakat juga diminta selalu memantau informasi dari BMKG dan BPBD TTU.
Felismino menerangkan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir yang merendam rumah warga RT 006 dan RT 007, Dusun II, Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten TTU, NTT. BPBD Kabupaten TTU sudah melakukan pendataan di lapangan.
Menurutnya, banjir pertama kali terjadi ketika air meluap dari Kali Kaubele dan menggenangi dua kolam atau tambak ikan milik dua perusahaan yang berlokasi tak jauh dari pemukiman warga.
"Kemudian ditambah dengan dua kolam (tambak ikan), dengan pemiliknya Nusantara Atambua dan Caritas Kefa. Selama ini, air tertampung di kolam ini. Ketika terjadi hujan, dia tidak mampu menampung air hujan dan meluap l. Sehingga debit air yang terakumulasi dari Kali Kaubele dan kolam ini kemudian merendam rumah warga," ujarnya.
Dikatakan Felismino, lahan sawah milik warga saat ini belum digarap. Oleh karena itu, banjir tersebut hanya merendam lahan kosong tanpa tanaman.
Air dan lumpur masih menggenangi rumah warga hingga saat ini. Walaupun begitu, debit air mulai surat. Puncak banjir terjadi pada Senin, 23 Maret 2026 lalu.
Saat ini, BPBD Kabupaten TTU sedang melakukan pendataan terhadap jumlah warga yang terdampak. Selain itu mereka juga akan membangun komunikasi dengan pemilik tambak atau kolam ikan tersebut.
"Untuk kalau bisa mereka buat tanggul untuk dibuat dinding kolam lebih tinggi supaya saat hujan air tidak meluap dari kolam ini," ucapnya.
Rencananya, BPBD Kabupaten TTU akan membangun komunikasi dengan Dinas PUPR Kabupaten TTU agar bantaran Kali Kaubele dibuat bronjong untuk mencegah banjir meluap ke sawah dan pemukiman warga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/BPBD-Beberkan-Dampak-Cuaca-Ekstrem-di-Kabupaten-TTU.jpg)