Senin, 15 Juni 2026

Sikka Terkini

Nelayan di Mauloo Sikka Keluhkan Mahal dan Sulitnya Akses Solar Subsidi

Kondisi ini dinilai sangat memberatkan, terutama bagi nelayan kecil yang menggantungkan hidup dari hasil melaut.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO
Petrus Paru, nelayan di Desa Mbengu, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, mengeluhkan mahalnya harga BBM jenis solar di pengecer. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo 

POS-KUPANG.COM, MAUMERE – Sejumlah nelayan di Mauloo, Desa Mbengu, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang mereka beli dari pengecer. 

Kondisi ini dinilai sangat memberatkan, terutama bagi nelayan kecil yang menggantungkan hidup dari hasil melaut.

Solar yang dibeli di tingkat pengecer dijual dengan harga mencapai Rp10.000 per liter, jauh lebih mahal dibandingkan harga solar subsidi di SPBU yang hanya Rp6.800 per liter. 

Namun, keterbatasan akses membuat para nelayan terpaksa membeli BBM dengan harga tinggi.

Salah satu nelayan Mauloo, Petrus Paru, mengungkapkan, untuk mendapatkan solar subsidi di SPBU, nelayan harus mengantongi surat rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan. 

Itupun, kata dia, rekomendasi tersebut hanya berlaku untuk jangka waktu satu bulan.

“Masalah BBM ini kita harus dapat rekomendasi dari Dinas Perikanan, tapi pemakaiannya cuma satu bulan. Kadang kalau tidak ada uang di rumah, kita tidak bisa manfaatkan rekomendasi itu untuk beli solar,” kata Petrus.

Baca juga: Sedang Cuci Piring, Wanita 29 Tahun asal Sikka Diancam Lalu Diperkosa di Bale-bale 

Ia menjelaskan, di Desa Mbengu saat ini hanya empat nelayan yang memiliki surat rekomendasi pembelian solar subsidi. 

Ironisnya, solar yang dibeli dengan rekomendasi tersebut kerap dijual kembali kepada nelayan lain dengan harga lebih mahal.

Untuk sekali melaut, nelayan membutuhkan sekitar 30 liter solar, yang hanya mampu menjangkau jarak 20 hingga 30 kilometer. 

Jarak tersebut, menurut Petrus, kadang tidak cukup untuk mencari lokasi tangkapan ikan yang potensial.

“Kadang BBM cukup, kadang tidak. Kalau hasil ikan banyak masih bisa kembali modal, tapi kalau tidak dapat ikan, kita rugi,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterbatasan BBM sering memaksa nelayan pulang lebih awal dengan hasil tangkapan seadanya. 

Bahkan, tidak jarang mereka pulang tanpa membawa hasil sama sekali.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
Live
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved