Wawancara Eksklusif
Ketua PGRI NTT Samuel Haning: Kebutuhan Guru, Visi, Misi dan Gizi
Jadi saya sangat berharap kita-kita yang sudah duduk dengan baik itu juga memahami dan mengerti, guru-guru itu segalanya.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ketua PGRI Provinsi NTT, Dr. Samuel Haning menyebutkan, kebutuhan guru di NTT ada tiga yakni visi, misi dan gizi.
Demikian disampaikan Samuel dalam Podcast Pos Kupang, Sabtu, 06/06/2026.
Berikut cuplikan wawancara eksklusif bersama Pos Kupang.
Ada banyak informasi tentang ketidakpastian nasib guru PPPK paruh waktu di NTT. Apakah PGRI NTT sudah menyerap informasi dan sudah bertemu dengan para guru paruh waktu?
Memang tugas PGRI itu sebagai penyambung lidah. Sebagai organisasi profesi, sebagai penyambung lidah para guru semua jadi PGRI itu adalah suatu rumah bersama para guru untuk penyaluran aspirasi.
Kita lihat fenomena dan perkembangan-perkembangan baik mengenai guru PPPK paruh waktu ini menjadi satu cambuk bagi pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dalam rangka menyiapkan tenaga-tenaga pendidik yang profesional untuk kepentingan anak-anak bangsa.
Jujur saya katakan bahwa kalau bukan guru, kita tidak bisa baca tulis, kita tidak memahami kata per kata, kalimat per kalimat. Tetapi ironisnya kita lihat, guru sama seperti kita tidak menghargai. Kesejahteraan belum, dan beberapa daerah kami sendiri yang turun ke lapangan untuk menyelesaikan hak-hak mereka yang terabaikan dan terzolimi. Kami sangat heran sekali.
Coba bayangkan kalau guru ini semua spontanitas dengan mereka tidak melakukan proses belajar mengajar dengan baik, dari mana kita mau mendapatkan mutu, kualitas pendidikan yang baik yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo atau Indonesia Emas. Segi pendidikan di tahun 2045 kedepan, ini yang harus kita pikirkan baik-baik.
Kalau kita mau mencerdaskan kehidupan bangsa, ujung tombaknya adalah guru. Tidak ada yang lain. Nah guru kita harus servis baik-baik. Ingat, ada tiga unsur sebenarnya, visi misi guru harus, tetapi selain visi dan misi, gizi juga lah. Gizi harus utama.
Ini yang menjadi mesin penggerak para guru terhadap anak-anak. Ini sangat penting. Kalau guru itu tidak sehat bagaimana dia bisa dapat pengelolaan keilmuan yang baik?
Kenapa saya katakan begitu?
Di satu sisi, mereka juga berpikir, saya mengajar baik tapi di rumah saya beras tidak ada. Anak-anak mau makan apa?
Ini kan sama seperti kita juga.
Jadi saya sangat berharap kita-kita yang sudah duduk dengan baik itu juga memahami dan mengerti, guru-guru itu segalanya.
Memang ada pembatasan tentang PPPK paruh waktu dan ASN atau PNS tapi hal itu saya sangat mengharapkan kita memberikan tunjangan apapun sehingga namanya kesejahteraan guru itu betul-betul bersinar.
Bayangkan ada guru yang jalan kaki berkilo-kilo dengan gaji hanya Rp 250 ribu, alumni saya pernah begitu. Mereka bekerja, mengabdi, bukan soal uang tetapi tolong diperhatikan. Mereka sudah berjuang untuk kepentingan mencerdaskan anak bangsa. Kalau bukan mereka siapa lagi.
NTT ini masih tertinggal, di presentasi itu terbawah dari 36 provinsi.
Dalam kaitan dengan kesejahteraan para guru PPPK paruh waktu di NTT, informasi yang kita dapat, honor mereka itu 1.5 juta per bulan dan pembayaran justru tidak lancar-lancar amat. Nah mereka malah berharap honor mereka dinaikkan seperti yang dijanjikan pemerintah, 2.4 juta. PGRI NTT mencermati seperti apa?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Podcast-Pos-Kupang-dengan-Ketua-PGRI-NTT.jpg)