Longsor di Malaka
Gedung SMP Negeri Halioan Malaka Rusak Kepsek Usul Segera Dibangun Kembali
Kerusakan Gedung SMP Negeri Halioan selama enam tahun ini membuat para siswa dan guru harus waspada akan keselamatan nyawa mereka
Ringkasan Berita:
- Para siswa dan guru di SMP Negeri Halioan enam tahun belajar di balik bayang-bayang longsor
- Kerusakan Gedung SMP Negeri Halioan ini membuat para siswa dan guru harus waspada
- Kepala SMP Negeri Halioan, Erni Yanti Pandie,mengusulkan untuk dibangun kembali gedung yang baru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Para siswa dan guru di SMP Negeri Halioan di Desa Barene, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka sudah enam tahun belajar di balik bayang-bayang longsor.
Kerusakan Gedung SMP Negeri Halioan ini membuat para siswa dan guru harus waspada akan keselamatan nyawa mereka.
Hujan deras beberapa pekan terakhir memicu longsor susulan yang merobohkan total gedung sekolah tersebut, hingga kini sama sekali tidak bisa digunakan lagi.
Terhadap kondisi ini Kepala SMP Negeri Halioan, Erni Yanti Pandie,mengusulkan kepada pemerintah untuk dibangun kembali gedung yang baru sehingga siswa dan guru bisa menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan aman dan nyaman.
Baca juga: BREAKING NEWS: Longsor Hantam SMPN Halioan, Tiga Ruang Kelas Rubuh dan Tak Bisa Digunakan
Erni Yanti saat ditemui POS-KUPANG.COM di kediamannya di Desa Barene, Sabtu (23/5/2026) menjelaskan, bangunan yang kini roboh dan tidak lagi dapat digunakan itu sudah mulai mengalami kerusakan sejak tahun 2020 akibat bencana longsor yang melanda kawasan tersebut.
Menurut Erni, berdasarkan cerita para guru yang telah lama mengabdi di sekolah tersebut, tanda-tanda kerusakan pada bangunan sudah mulai terlihat sejak enam tahun lalu ketika longsor pertama kali terjadi.
"Menurut bapa dan ibu guru yang mengajar tetap di SMP Negeri Halioan, gedung itu sudah mulai rusak akibat longsor sejak tahun 2020. Kemudian saat hujan deras berhari-hari beberapa waktu lalu terjadi longsor lagi sehingga kerusakannya semakin parah. Halaman sekolah juga sudah retak-retak besar dan kondisi tanah terus bergerak," ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak tembok bangunan mulai runtuh pada tahun 2020, pihak sekolah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan tiga ruang kelas yang terdampak karena dinilai membahayakan keselamatan siswa dan guru.
"Kami tidak berani pakai lagi karena takut sewaktu-waktu roboh saat proses belajar mengajar berlangsung. Keselamatan anak-anak menjadi prioritas," katanya.
Akibat kehilangan tiga ruang kelas, SMP Negeri Halioan selama bertahun-tahun harus menyiasati keterbatasan sarana dengan memanfaatkan ruangan kosong milik SD Negeri Halioan yang berada di kompleks yang sama.
Menurut Erni, beberapa ruang lama yang tidak lagi digunakan oleh pihak SD kemudian dipinjamkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa SMP.
"Sejak tahun 2020 kami menggunakan beberapa ruangan kosong milik SD Negeri Halioan. Syukur karena masih ada ruang yang bisa dipakai sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan," tuturnya.
Baca juga: Pemkab Malaka Salurkan 500 Kg Beras untuk Korban Longsor di Desa Kereana
Saat ini SMP Negeri Halioan hanya memiliki dua ruang kelas yang masih layak digunakan dari total lima ruang belajar yang sebelumnya tersedia.
Sementara itu, kebutuhan ruang guru juga menjadi persoalan tersendiri. Pihak sekolah terpaksa memanfaatkan satu unit Ruang Dinas Guru (RDG) yang berukuran sekitar 4x6 meter persegi untuk berbagai fungsi sekaligus.
Ruangan tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat kerja guru, tetapi juga menjadi lokasi penyimpanan buku-buku perpustakaan sekolah serta berbagai administrasi pendidikan.
"Kami hanya pakai RDG itu untuk semua kebutuhan guru. Buku perpustakaan juga disimpan di situ. Karena ruang sangat terbatas, kami bahkan memanfaatkan teras depan RDG untuk tempat guru bekerja dan beraktivitas," jelasnya.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Malaka Salurkan 100 Sak Semen dan Sembako untuk Warga Babotin Korban Longsor
Teras tambahan yang kini digunakan para guru baru dibangun pada Agustus 2025. Sebelumnya, para tenaga pendidik bahkan harus menggunakan emperan kelas sebagai tempat bekerja ketika tidak sedang mengajar.
"Kalau ada guru yang tidak masuk kelas, biasanya kerja di emperan kelas karena memang tidak ada ruang lain yang bisa digunakan," tambahnya.
Di tengah keterbatasan sarana yang ada, SMP Negeri Halioan saat ini tetap melayani 116 siswa yang tersebar dalam enam rombongan belajar (rombel).
Jumlah tenaga pendidik dan kependidikan juga cukup banyak, yakni 23 guru dan tiga tenaga kependidikan, sehingga total terdapat 26 personel yang setiap hari menjalankan aktivitas pendidikan di sekolah tersebut.
Meski demikian, keterbatasan ruang membuat proses pengawasan terhadap siswa menjadi lebih sulit karena lokasi belajar tersebar di beberapa titik.
Baca juga: Longsor Tutup Ruas Jalan Ruteng–Iteng Kabupaten Manggarai, Lalu Lintas Lumpuh Total
"Kalau kegiatan belajar mengajar sejauh ini tetap berjalan lancar. Hanya memang kami agak kesulitan mengontrol siswa karena lokasi kelas terbagi-bagi. SMP berada di bawah, kemudian ada SD di tengah, sementara sebagian siswa belajar di ruangan kosong yang berada di atas. Jaraknya cukup jauh sehingga pengawasan menjadi tidak maksimal," ungkap Erni.
Meski demikian, pihak sekolah terus berupaya menjaga agar proses pembelajaran tetap berlangsung normal demi memastikan hak pendidikan siswa tidak terganggu.
Melihat kondisi yang ada, Erni berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan sarana pendidikan di SMP Negeri Halioan.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan gedung baru yang aman dan representatif bagi siswa.
"Kami sangat berharap ada pembangunan gedung baru yang layak. Kalau anak-anak memiliki ruang belajar yang nyaman, tentu mereka bisa belajar dengan lebih tenang dan maksimal," katanya.
Menurutnya, sekolah saat ini membutuhkan sedikitnya empat ruang kelas tambahan, satu ruang guru, serta fasilitas sanitasi yang memadai.
"Kami juga membutuhkan WC untuk siswa karena saat ini hanya ada satu WC yang berada di RDG. Itu yang dipakai bersama. Jadi kebutuhan ruang belajar dan fasilitas pendukung memang sangat mendesak," ujarnya.
Erni bahkan menegaskan bahwa para guru tidak mempermasalahkan jika harus bekerja dengan fasilitas sederhana, asalkan kebutuhan ruang belajar bagi siswa dapat dipenuhi.
Baca juga: 5 Rumah Rusak Setelah Bencana Longsor di Babotin Malaka Meluas ke Permukiman Warga Dusun Salore
"Kalau ruang belajar untuk anak-anak tersedia, kami guru-guru tetap di teras juga tidak masalah. Yang penting anak-anak nyaman belajar di dalam ruangan yang aman," katanya.
Terkait pembangunan gedung baru, Erni memastikan sekolah masih memiliki lahan yang cukup luas dan aman untuk dijadikan lokasi pembangunan.
Menurutnya, gedung baru tidak lagi memungkinkan dibangun di lokasi bekas longsor karena kondisi tanah sudah tidak stabil.
Sebagai alternatif, pembangunan dapat dilakukan di area kosong yang berada di belakang dua ruang kelas yang masih dalam kondisi baik.
"Tanah sekolah masih cukup luas. Masih ada lahan kosong yang bisa digunakan untuk membangun gedung baru. Selain itu tanah sekolah juga sudah memiliki sertifikat, sehingga tidak ada kendala terkait status kepemilikan lahan," jelasnya.
Selain mengusulkan pembangunan gedung baru, pihak sekolah juga meminta agar bangunan yang telah roboh segera dibongkar demi menghindari risiko kecelakaan.
Erni mengaku telah melaporkan kondisi kerusakan tersebut kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malaka, bahkan mengajukan surat permohonan pembongkaran bangunan sejak beberapa waktu lalu. Namun hingga kini, usulan tersebut belum mendapatkan tindak lanjut.
"Kami khawatir anak-anak masuk bermain di sekitar bangunan yang sudah roboh itu. Kadang mereka naik ke teras atau masuk ke sekitar lokasi tanpa sepengetahuan guru. Itu sangat berbahaya," katanya.
Meski menyadari risiko yang ada, pihak sekolah tidak berani melakukan pembongkaran secara mandiri karena bangunan tersebut merupakan aset negara yang harus mendapat persetujuan resmi dari pemerintah daerah.
"Kami tidak berani bongkar sendiri karena itu aset negara. Harus ada izin dan keputusan dari dinas terlebih dahulu," ujarnya.
Erni sendiri baru menjabat sebagai Kepala SMP Negeri Halioan sejak Juni 2025. Meski baru memimpin sekolah tersebut kurang dari satu tahun, ia berharap persoalan keterbatasan sarana yang telah berlangsung sejak 2020 dapat segera mendapat solusi sehingga siswa dapat belajar dengan lebih aman, nyaman, dan layak di masa mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malaka, Manfred Laak saat dihubungi POS-KUPANG.COM melalui pesan WhatsApp terkait kondisi tersebut, hingga kini belum memberikan respons. Bahkan pesan yang dikirim juga belum dibaca olehnya. (ito).
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
POS-KUPANG.COM/KRISTOFORUS BOTA
GEDUNG SMP - Kondisi gedung SMP Negeri Halioan, Malaka yang rusak berat akibat longsor, Sabtu (23/5/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kepala-Sekolah-SMP-Negeri-Halioan-Erni-Yanti-Pandie.jpg)