NTT Terkini
Harga Pangan Naik, Pengamat Nilai Sistem Pangan NTT Belum Siap Hadapi Tekanan Global
Ia menegaskan, persoalan ini menunjukkan sistem pangan daerah belum cukup kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Kenaikan harga pangan yang terjadi belakangan ini dinilai bukan semata akibat mekanisme pasar, melainkan kombinasi tekanan global dan lemahnya sistem pangan di daerah.
Pengamat ekonomi NTT, Ricky Ekaputra Foeh, M.M., menyebut penguatan dolar Amerika Serikat turut mendorong kenaikan biaya impor pangan, pupuk, hingga distribusi. Kondisi tersebut kemudian diperparah oleh persoalan lokal di NTT.
“Menurut saya, kenaikan harga pangan saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan persoalan lokal. Penguatan dolar AS membuat biaya impor pangan, pupuk, dan distribusi menjadi lebih mahal, sementara di daerah seperti NTT masalah distribusi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta produksi lokal yang belum kuat memperparah kenaikan harga,” jelasnya(11/5/2026).
Ia menegaskan, persoalan ini menunjukkan sistem pangan daerah belum cukup kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
“Jadi, persoalannya bukan semata mekanisme pasar, tetapi juga lemahnya kesiapan sistem pangan daerah menghadapi tekanan ekonomi global,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ricky menilai respons pemerintah sejauh ini masih cenderung reaktif dan belum mampu mengantisipasi lonjakan harga secara optimal.
Baca juga: Harga Ikan di Pasar Beiabuk Melonjak, Pedagang dan Pembeli Sama-sama Mengeluh
“Saya menilai respons pemerintah masih cenderung reaktif dan belum sepenuhnya mampu mengantisipasi lonjakan harga. Operasi pasar dan subsidi memang membantu meredam gejolak sesaat, tetapi sifatnya hanya solusi jangka pendek,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
“Jika kondisi ini terus berlangsung, daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah akan semakin tertekan karena sebagian besar pendapatan mereka habis untuk kebutuhan pokok. Dampaknya bisa meluas ke perlambatan ekonomi dan meningkatnya kerentanan sosial,” tegasnya.
Untuk itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah konkret dalam jangka pendek maupun panjang.
“Langkah yang perlu segera dilakukan pemerintah adalah memperkuat distribusi pangan, menjaga stabilitas stok, menekan biaya logistik, dan memberi perlindungan nyata kepada petani lokal agar produksi meningkat,” katanya.
Dalam jangka panjang, ia menekankan pentingnya pembangunan ketahanan pangan berbasis daerah.
“Ketahanan pangan harus dibangun melalui modernisasi pertanian, penguatan produksi lokal, dan pengurangan ketergantungan terhadap pasokan luar daerah,” lanjutnya.
Meski demikian, di tengah tekanan harga pangan, masih terdapat peluang bagi pelaku ekonomi lokal untuk berkembang.
“Di tengah situasi ini sebenarnya ada peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk tumbuh, asalkan pemerintah hadir memberikan akses modal, pasar, dan jaminan harga yang adil agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya. (uan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
| Bulog NTT Pastikan Stok Beras Aman, Jaga Ketahanan Pangan hingga Tiga Bulan ke Depan |
|
|---|
| Diwarnai Protes, Pelantikan Pengurus dan Pengawas Kopdit Swasti Sari di Kupang Alot |
|
|---|
| Pengurus Pengawas Kopdit Swasti Sari Dilantik Kadis Koperasi NTT, Sason Helan Protes |
|
|---|
| PLN UP2B NTT Maknai Hari Buruh dengan Berbagi Energi Kehidupan |
|
|---|
| Maknai Hari Buruh dengan Aksi Lingkungan, PLN UP3 Sumba Bersihkan Pantai Londa Lima |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pedagang-Pasar-Matawai.jpg)