Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng
Pengukuhan Dua Guru Besar, Rektor Manfred Habur: Unika Santu Paulus Ruteng Terus Bertumbuh
Pengukuhan dua guru besar menandakan bahwa Unika Santu Paulus Ruteng terus bertumbuh sebagai komunitas akademis.
Penulis: Robert Ropo | Editor: Alfons Nedabang
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, RUTENG - Pengukuhan dua guru besar menandakan bahwa Unika Santu Paulus Ruteng terus bertumbuh sebagai komunitas akademis yang hidup, reflektif, dan transformatif.
Hal ini disampaikan oleh Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic.Teol, dalam sambutan saat Pengukuhan Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng yang berlangsung di Aula GUT Lantai 5 Unika Santu Paulus Ruteng, Jumat 8 Mei 2026 pagi.
Menurut Rektor Manfred, momen pengukuhan guru besar hari ini menjadi hari sukacita akademik, sekaligus hari pengharapan.
"Kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan pencapaian pribadi, tetapi untuk meneguhkan sebuah panggilan intelektual dan spiritual: panggilan menjadi terang di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian,"ujarnya.
Masih menurut Rektor Manfred, dengan Pengukuhan Prof. Dr. Maksimus Regus, S. Fil., MM, PhD, pakar sosiologi agama dan multikulturalisme, dan Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd, pakar pembelajaran matematika SD dan asesmen pembelajaran matematika SD, merupakan tanda bahwa Unika Santu Paulus Ruteng terus bertumbuh sebagai komunitas akademis yang hidup, reflektif, dan transformatif.
Baca juga: BREAKING NEWS - Dua Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng Dikukuhkan
"Tema kita hari ini, “Menavigasi Ketidakpastian”, sangat kontekstual. Kita hidup di zaman yang ditandai oleh perubahan cepat: disrupsi teknologi, polarisasi sosial, krisis ekologis, dan kegamangan nilai. Ketidakpastian bukan lagi pengecualian, ia telah menjadi habitat kehidupan manusia modern,"Ujar Rektor Manfred.
"Namun, justru di dalam ketidakpastian itu, kita menemukan panggilan.
Ketidakpastian bukan hanya ancaman, tetapi juga ruang kreativitas, ruang iman, dan ruang penemuan makna," Sambungnya.
Menurutnya, di sinilah peran ilmu pengetahuan dan iman menjadi sangat pentin. Bukan untuk menghapus ketidakpastian, tetapi untuk menavigasinya dengan bijaksana dan penuh harapan.
"Kita patut bersyukur karena hari ini kita menyaksikan dua disiplin ilmu yang tampak berbeda, namun sesungguhnya saling melengkapi, berjumpa dalam satu panggung akademik,"ungkapnya.
Dikatakan Rektor Manfred, di satu sisi, Prof. Maksimus Regus menghadirkan kedalaman refleksi tentang bagaimana agama hidup dalam masyarakat majemuk, bagaimana iman tidak menjadi sumber konflik, melainkan energi transformasi sosial yang inklusif dan dialogis.
Di sisi lain, Prof. Sabina Ndiung menunjukkan bahwa kecerdasan logis, melalui matematika bukan sekadar kemampuan berhitung, tetapi cara berpikir yang jernih, sistematis, dan kritis; sebuah fondasi penting untuk membentuk generasi yang mampu mengambil keputusan secara bijak.
"Jika kita renungkan secara lebih dalam, iman tanpa kejernihan berpikir dapat menjadi rapuh, sementara kecerdasan logis tanpa nilai iman dapat menjadi kering dan kehilangan arah. Karena itu, integrasi keduanya bukan pilihan, melainkan keharusan dan lebih dari itu integrasi ini, sebagaimana tema kita katakan, harus menggembirakan,"ujarnya.
Menurut Rektor Manfred, kata “menggembirakan” dalam tema ini sangat penting.
"Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak boleh menjadi beban, melainkan pengalaman yang menghidupkan. Iman yang sejati melahirkan sukacita.Ilmu pengetahuan yang otentik juga menumbuhkan kegembiraan, kegembiraan karena menemukan, memahami, dan berbagi," ujarnya.
Baca juga: Gubernur NTT Puji Dua Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rektor-Unika-Santu-Paulus-Ruteng-Sambutan-Saat-Pengukuhan-Guru-Besar.jpg)