NTT Terkini
Mereka yang Menanti di Kargo Bandara El Tari Kupang
Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Eflin Rote
Ringkasan Berita:
- Menempuh empat jam perjalanan dari pedalaman Timor dari arah Timur, Andrais Tualaka (54) tiba di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Hampir 10 orang menemani Andrais. Mereka menumpang sebuah kendaraan minibus yang disewa khusus menuju ke kargo Bandara El Tari Kupang
- Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Menempuh empat jam perjalanan dari pedalaman Timor dari arah Timur, Andrais Tualaka (54) tiba di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hampir 10 orang menemani Andrais. Mereka menumpang sebuah kendaraan minibus yang disewa khusus menuju ke kargo Bandara El Tari Kupang.
Sekitar pukul 08.00 Wita, mereka sudah tiba. Mereka harus makan ketika dalam perjalanan.
Sementara pesawat Garuda GA 456 baru akan tiba pukul 10:45 Wita.
Di depan gerbang kargo, mereka menanti. Setiap aktivitas petugas di balik pagar besi tak luput dari perhatian.
Matanya berkaca-kaca. Dia sudah tidak sabar menunggu adiknya, Martha Tualaka (37). Martha diterbangkan dari Malaysia. Setelah tiga jam menunggu, pesawat tiba. 30 menit berlalu, petugas memanggil keluarga untuk menuju pintu utama kargo.
Dari arah area landasan pacu, peti jenazah Martha Tualaka ditarik dengan kereta troli. Perlahan mulai mendekat ke pintu kargo. Tangis Andrais pecah melihat adik perempuannya itu sudah terbaring dalam peti.
"Saya punya adik. Selama ini di Malaysia Barat. Dia meninggal tanggal 1 Maret, pas melahirkan," kata Andrais bercerita.
Martha telah bekerja lebih dari 10 tahun di Malaysia. Dia meninggal dunia setelah melahirkan anak ketiga di Rumah Sakit setempat pada 1 Maret 2026. Nyawanya tak tertolong.
Dua anak Martha berada di Amanatun. Suaminya, kini tengah ditahan imigrasi Malaysiakarena visa yang tidak aktif. Anak ketiga Martha kini tengah diasuh kerabat dari
Dominggus Bau, seorang PMI asal NTT yang tinggal berdekatan dengan Martha di Malaysia.
Menurut Andrais, selama ini adik perempuannya itu selalu bertukar kabar. Hampir setiap hari mereka telepon. Tidak ada tanda atau firasat apapun sebelum wafatnya Martha di Negeri Jiran.
Selama ini almarhumah tidak mengeluh sakit apapun. Bekerja di sebuah kedai makan, Martha rutin mengirim uang untuk dua buah hatinya di kampung. Martha menyampaikan rencananya akan pulang kampung usai melahirkan.
Baca juga: Empat Jenazah PMI Asal Ende dan Nagekeo Dipulangkan dari Kupang Menggunakan KM Wilis
"Dia pernah kasih tahu mau pulang dulu kalau sudah habis melahirkan. Tapi mau bagaimana lagi. Suami ada juga, dari imigrasi tahan karena visa mati," kata Andrais.
Rencananya, jenazah Martha akan dikebumikan di Desa Toi Kecamatan Amanatun Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Selama belasan tahun bekerja di Malaysia, Martha tidak mendaftar secara resmi atau non- prosedural.
Keluarga, menurut Andrais, menerima peristiwa kematian ini sebagai takdir. Dia meminta doa agar keluarga diberi kekuatan dan anak bayi yang sedang dalam perawatan, segera pulih.
"Ambulans semua jejer di depan sini," ucap Penyuluh dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT, Steven Gunawan, memandu, Senin (9/3/2026).
Steven merupakan salah satu petugas BP3MI NTT yang cekatan mengurus setiap jenazah PMI asal NTT yang tiba di Kupang. Dia memastikan peti jenazah diterima dengan baik oleh keluarga.
Di kargo, Steven menjadi jembatan penghubung keluarga korban dengan para petugas di bandara. Dokumen yang harus diteliti ulang hingga menyiapkan kendaraan ambulans.
Steven juga yang akan mengurus jenazah yang melanjutkan penerbangan ke daerah lain di NTT. Setelah semua jenazah di dalam ambulans, Steven menyerahkan semua administrasi kepada masing-masing keluarga.
Pada Senin siang ini, Steven mengurus setidaknya empat jenazah. Selain Martha Tualaka, ada tiga jenazah PMI lainnya yang diterbangkan dalam pesawat yang sama.
Tiga jenazah itu adalah Martinus Beding asal Kabupaten Lembata. Jenazah Martinus baru diberangkatkan beberapa hari lagi karena menunggu jadwal pelayaran Kupang ke Lembata.
Untuk sementara, jenazah dibaringkan di Yayasan Sosial Penyelenggaraan Ilahi Kupang. Martinus meninggal dunia pada 5 Maret lalu akibat gangguan pernapasan. Almarhum tercatat sebagai PMI di BP3MI Kalimantan Utara.
Sementara, jenazah Reni Anakapu (35), asal Sumba Timur akan melanjutkan penerbangan ke Waingapu. Korban meninggal karena trauma pada otak. Ia meninggal dunia di rumah sakit Selangor pada 7 Maret lalu.
Sedangkan, jenazah lainnya Ferdinandus Bria asal Desa Naimana Kabupaten Malaka, langsung melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan ambulans dari kargo Bandara menuju rumah duka. Ia meninggal pada 1 Maret lalu karena infeksi.
Sama seperti Reni dan Martha, Ferdinandus juga PMI asal NTT yang bekerja secara non-prosedural di Malaysia.
"Kami mengucapkan turut berdukacita sedalam-dalamnya bagi keempat keluarga duka. Kita sebagai orang beriman meyakini bahwa empat saudara/saudari kita berada di rumah keabadian," kata Suster Laurentia.
Suster Laurentia mengajak semua keluarga dan petugas untuk berdoa sejenak sebelum jenazah diberangkatkan ke rumah duka. Harapannya agar Tuhan memberi kemudahan dalam setiap perjalanan itu.
Suster Laurentia merupakan pimpinan di Yayasan Sosial Penyelenggaraan Ilahi Kupang. Ia juga dikenal dengan Suster 'kargo'. Wajahnya tidak pernah absen ketika jenazah PMI asal NTT tiba di kargo El Tari Kupang.
Suster Laurentia juga merupakan seorang aktivis dan pegiat HAM di NTT. Dia berharap agar wilayah seperti Kupang dibangun sebuah rumah singgah untuk jenazah PMI asal NTT yang diberangkatkan dari luar daerah.
Dia berkata, pihaknya sering kewalahan menangani jenazah ketika berada di Kupang. Sebab, tempat penitipan jenazah yang ada memerlukan biaya sewa. Setiap jenazah paling kurang harus membayar Rp 140 ribu.
"Memang mereka non-prosedural tapi sebagai manusia mereka tetap manusia yang harus dihargai martabatnya. Tanggung jawab kita semua, terutama negara," katanya.
Ia menyerukan Pemerintah Provinsi NTT agar membantu penyedia rumah transit bagi jenazah. Suster Laurentia menyebut, NTT dengan wilayah kepulauan memang cukup menyulitkan.
"Sampai hari ini, tambah empat jenazah ini jadi sudah 32 yang dipulangkan dari Malaysia. Paling banyak dari Kabupaten Ende, kemudian Malaka, Flores Timur, Timor Tengah Selatan. Semuanya didominasi non-prosedural," kata Yonas Bahan dari BP3MI NTT menambahkan.
Ia mengimbau masyarakat NTT yang hendak bekerja ke luar negeri agar mengikuti prosedur atau aturan yang telah ditetapkan Pemerintah. Hal itu agar memberi perlindungan bagi pekerja. (fan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
| DPRD NTT Minta Pemerataan Pendidikan Jadi Fokus Kunjungan Mendikdasmen |
|
|---|
| BERITA POPULER : Pengacara Sisco Bessi Diperiksa Kejati NTT, Penggusuran Rumah di Ende |
|
|---|
| Buntut Sebut Oknum Jaksa Peras Kontraktor, Fransisco Bessi Jalani Pemeriksaan di Kejati NTT |
|
|---|
| Menteri Pendidikan Dasar Janji Kirim Alat Peraga Anak untuk TK Kristen |
|
|---|
| Mendikdasmen Kunjungi TK Kristen Kupang, Tinjau KBM hingga Serahkan Bantuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Andrais-Tualaka-selendang-orange-dan-Zakarias-Tualaka-kanan-sedang-menjemput-jenazah.jpg)