Warga Manggarai Barat Hilang
Polres Manggarai Dalami Penyebab Keracunan Massal di Satarmese
Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 pasien menjalani perawatan rawat inap, sementara lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan.
Penulis: Robert Ropo | Editor: Oby Lewanmeru
Ringkasan Berita:
- Polres Manggarai mendalami penyebab keracunan massal di Satarmese
- Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah mengatakan, pihaknya saat ini masih mendalami kasus keracunan tersebut
- 16 pasien menjalani perawatan rawat inap, sementara lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, RUTENG -- Pihak Kepolisian dari Polres Manggarai, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mendalami kasus keracunan massal diduga bersumber dari makanan bergizi gratis (MBG).
Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah menyampaikan itu kepada Kamis (12/2/2026) malam.
AKBP Levi menerangkan, pihaknya saat ini masih mendalami kasus puluhan warga korban berasal dari berbagai kalangan, mulai ibu hamil, balita, anak sekolah, guru, hingga orang tua, dengan riwayat konsumsi MBG. Sampel makanan juga telah diambil oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.
"Lagi kita dalami penyebabnya dan sampel juga sudah diambil oleh Dinkes,"ujarnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Puluhan Ibu Hamil, Balita Hingga Orang Tua di Satarmese Diduga Keracunan Makanan
Ditanya apakah jika penyebabnya karena konsumsi MBG, maka apakah pengelola MBG dan pihak lainya yang terlibat diproses hukum, kata AKBP Levi, masih belum diketahui penyebab pastinya karena masih dugaan, sehingga pihaknya masih mendalami, sebab penerima manfaatnya lebih dari 2000 orang. Sementara yang sakit juga masih didata.
"Masih belum tahu penyebabnya karena itu masih dugaan dan kita masih dalami, karena penerima manfaatnya lebih dari 2000 orang dan yang sakit juga masih didata,"ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto menerangkan, untuk sementara jumlah kasus yang teridentifikasi sebanyak 42 kasus, terdiri dari 39 kasus dari Puskesmas Ponggeok dan 3 kasus dari Puskesmas Iteng.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 pasien menjalani perawatan rawat inap, sementara lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan.
Kasus yang ditemukan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, meliputi ibu hamil, anak balita, anak sekolah, guru, serta orang tua.
Dikatakan Jefrin, seluruh kasus dilaporkan memiliki riwayat konsumsi MBG yang disajikan di sekolah dan posyandu dengan menu yang sama, yaitu tanggal 10 Februari 2026 berupa Nasi, telur, tempe, kacang panjang, dan salak. Kemudian tanggal 11 Nasi, ayam, labu, dan jagung.
Jefrin mengatakan, gejala yang paling banyak dilaporkan antara lain diare, nyeri perut, demam, dan sakit kepala. Saat ini, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan.
"Belum bisa dipastikan apa penyebab keracunan, karena menunggu hasil analisis Epid dan pemeriksaaan sampel,"ujar Jefrin.
Jefrin juga mengatakan, saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai bersama tim terkait sedang melakukan investigasi epidemiologi serta pemeriksaan sampel makanan dan spesimen pasien untuk memastikan sumber penyebab kejadian. (rob)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dinas-Kesehatan-Manggarai-investigasi-SPPG.jpg)