Editorial
EDITORIAL: Punya Bandara Terbanyak
SEBAGAI daerah kepulauan, Provinsi NTT tercatat sebagai provinsi yang memiliki bandara udara (bandara) terbanyak.
Ringkasan Berita:
- SEBAGAI daerah kepulauan, Provinsi NTT tercatat sebagai provinsi yang memiliki bandara terbanyak. Hampir semua kabupaten di NTT memiliki bandara yang bisa didarati pesawat kecil maupun yang berbadan lebar.
- Berdasarkan catatan Pos Kupang, kabupaten yang memiliki bandara di NTT ini adalah, Belu, Kota Kupang, Rote, Sabu, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Alor, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flotim dan Lembata. Artinya ada 14 dari 22 kabupaten/kota yang sudah memiliki bandara.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - SEBAGAI daerah kepulauan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat sebagai provinsi yang memiliki bandara udara (bandara) terbanyak. Hampir semua kabupaten di NTT memiliki bandara yang bisa didarati pesawat kecil maupun yang berbadan lebar.
Berdasarkan catatan Pos Kupang, kabupaten yang memiliki bandara di NTT ini adalah, Belu, Kota Kupang, Rote, Sabu, Sumba Timur, Sumba Barat Daya (SBD), Alor, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flotim dan Lembata. Artinya ada 14 dari 22 kabupaten/kota yang sudah memiliki bandara.
Sementara yang tidak ada bandara adalah Malaka, TTS, Kabupaten Kupang, Sumba Barat, Sumba Tengah, Manggarai Timur, Nagekeo. Sementera Kabupaten TTU dan Kabupaten Nagekeo saat ini sementara berupaya untuk menghidupkan kembali bandara yang pernah ada dahulu.
Melihat begitu banyaknya bandara di NTT maka kita patut bertanya, apakah masih perlu menghadirkan bandara baru lagi di NTT ini seperti yang dilakukan di TTU dan Nagekeo? Bahkan Pemkab Manggarai dulunya sudah berupaya untuk membangun bandara.
Pada satu sisi, membangun bandara mungkin memang m enjadi kebutuhan tetapi kita patut bertanya untuk siapa sebenarnya pembangunan bandara tersebut? Berapa banyak warga masyarakat yang memanfaatkan fasilitas tersebut nantinya?
Sementara akses perhubungan darat dengan kabupaten tetangga relatif tidak terlalu jauh. Jadi kita rupanya perlu memikirkan ulang tentang rencana-rencana pembangunan bandara baru tersebut.
Misalnya saja pembangunan bandara di TTU. Jarak dari Kefa ke Kupang jika ditempuh dengan perjalanan darat mungkin hanya 3-4 jam. Sementara ke Atambua, Kabupaten Belu mungkin hanya 2-3 jam saja.
Alangkah baiknya anggaran yang dikucurkan dari pemeritah pusat dan daerah tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangunan lain yang lebih dibutuhkan rakyat.
Misalnya saja infrastruktur jalan yang masih banyak belum menghubungkan antara desa, kecamatan dan kabupaten. Belum lagi masalah-masalah lainnya.
Belum selesai rencana pembangunan bandara di TTU dan Nagekeo, kini muncul lagi rencana baru untuk menghadirkan penerbangan internasional yaitu penerbangan dari Kupang-Dili- Darwin.
Penerbangan internasional di NTT bukan baru. Dulu sudah pernah ada penerbangan dari Kupang-Darwin. Namun penebangan tersebut hilang karena sedikitnya penumpang yang mau menfaatkan jalur tersebut.
Akibatnya armada yang melayani saat itu mengalami kerugian.
Jika sekarang rute internasional kembali dibuka maka alangkah baiknya perlu dilakukan studi secara matang dengan melihat animo penumpang, baik yang dari Kupang - Dili dan Australia maupun sebaliknya. Jika memang animonya tinggi maka rencana tersebut tentunya harus kita dukung.
Walau demikian, kita di NTT juga harus sudah bersiap diri dengan kehadiran penerbangan internasional tersebut. Kesiapan kita tentunya terkait dengan sumber daya manusia (SDM) dalam melayani tamu internasional yang hadir dengan senyum dan ramah.
Begitu juga dengan obyek-obyek wisata yang harus ditata sehingga menarik minat mereka untuk berkunjung dan kembali berkunjung. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Belum-ada-lonjakan-penumpang-di-Bandara-El-Tari-Kupang-jelang-Nataru.jpg)