Kamis, 23 April 2026

Perang Israel Iran

Tiga Minggu Perang, Iran Merasa Berada di Posisi Pemenang

Iran merasa berada di posisi pemenang setelah tiga minggu berperang melawan Amerika Serikat (AS) - Israel.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
PUKUL BEDUG - Gubernur NTT, Melki Laka Lena memukul bedu menandai dibukanya pawai takbiran di Kota Kupang. 

POS-KUPANG.COM - Iran merasa berada di posisi pemenang setelah tiga minggu berperang melawan Amerika Serikat (AS) - Israel.

Teheran kini berambisi untuk memaksakan penyelesaian konflik kepada Washington demi mengamankan dominasi sumber daya energi di Timur Tengah selama beberapa dekade ke depan. 

Sikap percaya diri ini terlihat dari tuntutan yang diajukan Iran sebagai syarat berakhirnya perang, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Jumat (20/3/2026). 

Selain menuntut ganti rugi besar-besaran dari AS dan sekutunya, Iran mendesak pengusiran seluruh pasukan militer AS dari kawasan tersebut.

Salah satu poin paling krusial adalah ambisi Iran untuk mengubah status Selat Hormuz.  

Jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi minyak dunia itu rencananya akan dijadikan "pos penagihan tarif tol" oleh Teheran. 

Anggota Dewan Kebijaksanaan Iran sekaligus penasihat pemimpin tertinggi bidang ekonomi, Mohammad Mokhber, mengungkapkan rencana untuk menetapkan status baru di sana yang mengharuskan setiap kapal yang melintas membayar biaya kepada Iran

"Iran akan mengubah posisinya dari negara yang dijatuhi sanksi menjadi kekuatan yang lebih besar di kawasan dan dunia," ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr.  

"Kami akan menjatuhkan sanksi kepada kekuatan arogan yang haus dominasi tersebut," lanjutnya. 

Meskipun AS dan Israel mengeklaim telah menghancurkan banyak peluncur dan stok rudal, Iran terbukti masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan puluhan rudal balistik dan drone setiap hari ke berbagai penjuru Timur Tengah

Bahkan, intensitas serangan Iran dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir.  Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada instalasi energi di Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, sementara ekspor minyak Iran sendiri justru tetap melonjak. 

Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi Presiden AS Donald Trump untuk segera mengakhiri perang, terutama karena lonjakan harga minyak dan gas mulai membebani ekonomi global. 

Analisis dari Dina Esfandiary, seorang pakar tentang Iran, menyebutkan bahwa Teheran merasa mendapatkan pelajaran penting.  

"Mereka bisa menyebabkan banyak kerusakan dan gangguan dengan cara yang relatif mudah dan murah. Sekarang, mereka ingin seluruh dunia mempelajari pelajaran itu juga," ungkapnya.

Di sisi lain, AS dan Israel memberikan sinyal yang beragam. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perang akan berakhir jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang.  

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved