Kamis, 23 April 2026

Perang Israel Iran

Amerika Serikat Kewalahan Tangkis Drone Shahed Iran

Amerika Serikat (AS) kewalahan nenangkis drone Shahed yang ditembakkan militer Iran.

Editor: Alfons Nedabang
STAF SGT. LEE F.CORKRAN/WIKIMEDIA COMMONS
Bom Mark-80 seberat 2.000 pon telah banyak dikirim Amerika Serikat ke Israel. 

POS-KUPANG.COM – Amerika Serikat (AS) kewalahan nenangkis drone Shahed yang ditembakkan militer Iran.

AS mengakui adanya kesalahan taktis yang dilakukan sebelum pecahnya perang melawan Iran. 

Kesalahan itu berkaitan dengan keputusan mengabaikan tawaran bantuan teknologi pertahanan dari Ukrain. 

Dilansir dari laporan Axios, Selasa (10/3/2026), pejabat Ukraina pada pertengahan tahun lalu sempat menawarkan teknologi untuk melawan drone serangan Iran yang murah dan banyak digunakan tersebut, yang kerap digunakan Rusia dalam perang di Ukraina.

Tawaran itu disampaikan dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 18 Agustus. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mempresentasikan teknologi drone pencegat kepada Presiden AS Donald Trump

Presentasi itu bahkan menyertakan slide PowerPoint yang menjelaskan bagaimana drone Iran bisa menjadi ancaman di Timur Tengah jika terjadi perang dengan Iran. 

Trump disebut meminta timnya untuk mempelajari tawaran tersebut. Namun dalam beberapa bulan berikutnya, proposal itu tidak ditindaklanjuti.

Sebagian pejabat dalam pemerintahan Trump saat itu disebut menilai Zelensky hanya sedang mencari perhatian. Namun kini, seorang pejabat AS mengakui keputusan tersebut dianggap sebagai kesalahan besar. 

“Jika ada kesalahan taktis atau kekeliruan yang kami buat menjelang perang dengan Iran, inilah kesalahan itu,” kata seorang pejabat AS kepada Axios.

Drone Iran jadi tantangan besar bagi AS Drone Iran secara langsung mengancam pasukan AS di Timur Tengah. Beberapa serangan drone Shahed bahkan dilaporkan telah menewaskan tentara Amerika.

Teknologi anti-drone milik Ukraina kini dinilai sebagai cara yang jauh lebih murah untuk menghadapi ancaman tersebut dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional mahal yang digunakan di pangkalan AS dan sekutunya di Timur Tengah. 

Para pemimpin militer AS juga telah memberi pengarahan kepada anggota parlemen pekan lalu. Mereka menyebut drone Iran menjadi tantangan yang lebih besar dari perkiraan. 

Sistem pertahanan udara AS dilaporkan tidak mampu mencegat seluruh drone yang masuk. 

Kepala Ukraina menyatakan bahwa AS kini telah meminta bantuan. Menurut Zelensky, negaranya telah mengirim drone dan para ahli untuk membantu melindungi pangkalan militer Amerika di Yordania. 

Di sisi lain, Ukraina juga secara terbuka meminta negara sekutu untuk menambah pasokan rudal Patriot buatan AS. Bantahan Gedung Putih Berbeda dari klaim pejabat tersebut, Gedung Putih membantah anggapan bahwa pemerintah melakukan kesalahan besar sebelum perang. 

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, mengatakan, serangan balasan Iran justru telah jauh berkurang setelah kemampuan militer negara tersebut dihancurkan. 

“Serangan balasan Iran telah turun 90 persen karena kemampuan rudal balistik mereka sedang dihancurkan secara total,” kata Kelly kepada The Independent. 

Ia juga menepis kritik dari sumber anonim yang menilai pemerintah salah langkah. “Karakterisasi yang dibuat oleh sumber anonim pengecut ini tidak akurat dan menunjukkan bahwa mereka hanya melihat dari luar,” ujarnya. 

Kelly menambahkan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama militer AS telah merencanakan berbagai kemungkinan respons dari Iran.

Menurutnya, keberhasilan operasi militer Amerika membuktikan perencanaan tersebut. “Menteri Hegseth dan angkatan bersenjata melakukan pekerjaan luar biasa dalam merencanakan semua kemungkinan respons dari rezim Iran, dan keberhasilan tak terbantahkan dari Operasi Epic Fury berbicara dengan sendirinya.”

AS kembangkan drone murah tandingan Selain meminta bantuan Ukraina, AS juga mulai mengembangkan drone murah untuk menghadapi taktik Iran. 

Militer Amerika telah memperkenalkan drone yang disebut “Lucas”, yang dirancang meniru konsep drone Shahed milik Iran yang berbiaya rendah. 

Di sektor swasta, putra-putra Trump yakni Eric Trump dan Donald Trump Jr dilaporkan mendukung sebuah perusahaan drone berbasis di Florida yang berpotensi memasok teknologi tersebut kepada militer. 

Meski menghadapi tantangan dari drone Iran, pemerintah AS tetap menegaskan bahwa kekuatan militer Iran telah dilemahkan secara signifikan. 

Pemerintahan Trump juga menyatakan, perang tersebut akan segera berakhir, meskipun rincian lebih lanjut mengenai rencana tersebut belum dijelaskan secara terbuka. (*)

Sumber: Kompas.com

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved