Selasa, 2 Juni 2026

Nasional Terkini

Uskup Agung Semarang Ingatkan Diakon Bukan Jabatan Tetapi Sikap Hidup

Diakon bukan pertama-tama soal fungsi liturgis, tetapi sikap batin untuk siap sedia melayani sabda, altar, kaum kecil, lemah, dan tersingkir.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
FOTO KIRIMAN AM PUTUT PRABANTORO
POSE BERSAMA - Para diakon pose bersama suster dalam acara syukuran di biara OCD Indonesia di Yogyakarta, Senin 26 Januari 2026. Mereka yang tertahbiskan menjadi diakon adalah Fr. Yanuarius Mere OCD, Fr. ⁠Silvester Deu OCD, Fr. ⁠Ferdianus Son OCD dan Fr. ⁠Fortunatus Nikolaus Laku OCD. 

Bila suatu hari para tertahbis merasa lebih penting, lebih tahu, atau lebih berkuasa dari umat yang dilayani, di situlah panggilan diakonal mulai kehilangan rohnya. Pelayanan menuntut banyak hal: waktu, tenaga, pikiran dan, bahkan perasaan. 

“Pelayanan mendasarkan diri pada kekuatan doa. Oleh karena itu, khusus kepada para diakon yang baru saja ditahbiskan, saya ingatkan tanpa kehidupan doa yang mendalam, pelayanan akan menjadi kering dan melelahkan. Doa bukan pelengkap, melainkan napas hidup pelayanan. Hubungan pribadi dengan Kristus harus menjadi sumber daya rohani yang terus-menerus diperbarui,“ tegas Mgr. Rubiyatmoko.

Pada akhir homilinya, Mgr. Rubiyatmoko memberikan resep ampuh dalam pelayanan yakni kesetiaan dalam perkara kecil. Tahbisan hari itu merupakan langkah penting menuju imamat. 

Namun para tertahbis diminta untuk tidak terburu-buru memikirkan yang besar dan megah. Kesetiaan dalam hal-hal kecil justru menjadi sekolah terbaik bagi seorang pelayan Tuhan. 

Kesetiaan dimulai dari doa harian, tugas sederhana, mendengarkan umat, hidup dalam kesunyian dan ketekunan. Dan kekuatan itu tidak lepas dari peran dan teladan Maria sebagai Bunda Gereja. 

Sementara itu, dalam perayaan syukur pada sore hari itu, anggota Dewan Komisariat OCD Indonesia, Rm. Irminus Liko OCD menegaskan seseorang ditahbiskan menjadi diakon tidak mengubah karakter apapun. 

Seorang frater diakon tetap saja seseorang dengan kelemahan dan kelebihannya. Tidak berubah, dan tidak perlu diubah. 

"Jika menjadi diakon, kemudian cara berjalannya berbeda, atau cara bicaranya berbeda, itu perlu dipertanyakan. Menjadi diakon itu tidak tmengubah perilakunya sebagai manusia dengan segala kekuatan dan kelemahan, kekurangan ataupun kelebihannya. Ia sama saja,“ tegas Rm. Irminus Liko. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved